Byklik.com | Banda Aceh – Pewarta Foto Indonesia (PFI) Aceh meluncurkan buku Prahara Pulau Emas sebagai bagian dari rangkaian pameran foto jurnalistik di Museum Tsunami Aceh. Buku tersebut menjadi arsip visual yang mendokumentasikan bencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara pada akhir 2025, sekaligus menjaga memori kolektif masyarakat melalui karya foto jurnalistik.
Peluncuran buku berlangsung bersamaan dengan diskusi publik pada Senin, 3 Agustus 2026. Kegiatan itu menghadirkan Pendiri Yayasan Riset Visual MataWaktu sekaligus Dewan Etik Pewarta Foto Indonesia, Oscar Motuloh, yang menekankan pentingnya foto jurnalistik sebagai pencatat sejarah, khususnya ketika bencana melanda.
Menurut Oscar, foto jurnalistik tidak hanya merekam kesedihan akibat bencana, tetapi juga memperlihatkan semangat bertahan, solidaritas masyarakat, hingga proses pemulihan setelah musibah.
“Bagi pewarta foto, kita tidak membicarakan kesedihan terus-menerus, tetapi sampai kesenangan. Cerita itu dibangun dari foto-foto yang teman-teman sumbangkan,” kata Oscar.
Ia menjelaskan, buku Prahara Pulau Emas memuat sekitar 130 foto karya 48 fotografer yang meliput banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Foto-foto tersebut dipilih untuk menggambarkan seluruh fase bencana, mulai dari saat musibah terjadi, proses evakuasi, hingga upaya masyarakat bangkit dari keterpurukan.
Oscar mengakui tidak semua karya yang dikirimkan dapat dimuat dalam buku. Namun, menurutnya, seluruh foto memiliki makna yang sama karena lahir dari kepedulian para pewarta foto terhadap para korban.
“Di dalam buku ini ada 130-an foto dari 48 fotografer. Bahkan ada yang tidak termuat di dalam buku ini, tetapi ini dengan segala hormat adalah substansi mereka yang peduli terhadap bencana yang menimpa saudara di tanah air,” ujarnya.
Ketua PFI Aceh, M. Anshar, mengatakan pameran dan peluncuran buku tersebut tidak hanya menjadi ajang menampilkan karya jurnalistik, tetapi juga sarana edukasi tentang pentingnya mitigasi bencana dan menjaga ingatan kolektif masyarakat. “Foto jurnalistik bukan sekadar merekam peristiwa, tetapi juga menyimpan ingatan kolektif sebuah bangsa,” kata Anshar.
Menurutnya, Aceh memiliki sejarah panjang menghadapi berbagai bencana, mulai dari tsunami, gempa bumi, banjir, hingga tanah longsor. Karena itu, dokumentasi visual menjadi pengingat agar masyarakat tetap waspada sekaligus memperkuat nilai kemanusiaan dan solidaritas.
Pameran Prahara Pulau Emas digelar di Museum Tsunami Aceh pada 3–8 Agustus 2026 dan dibuka oleh Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal. Selain memamerkan puluhan foto dokumentasi bencana, kegiatan tersebut juga menghadirkan diskusi publik mengenai peran foto jurnalistik sebagai arsip visual dalam merekam sejarah kebencanaan Indonesia.











