Byklik.com | Banda Aceh – Kinerja perdagangan luar negeri Aceh menunjukkan tren positif pada Juni 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat nilai ekspor mencapai USD 85,31 juta, meningkat 61,31 persen dibandingkan Mei 2026 yang sebesar USD 52,88 juta. Di saat yang sama, nilai impor justru turun tajam 75,15 persen menjadi USD 26,04 juta.
Kepala BPS Provinsi Aceh, Agus Andria, mengatakan sebagian besar komoditas ekspor dikirim melalui pelabuhan di Aceh dengan nilai USD 64,31 juta atau sekitar 75,39 persen dari total ekspor Juni 2026.
“Selebihnya diekspor melalui pelabuhan di luar Aceh, yang sebagian besar melalui pelabuhan di Provinsi Sumatera Utara dengan nilai mencapai USD 20,87 juta,” ujar Agus, Senin, 3 Agustus 2026.
India masih menjadi tujuan utama ekspor Aceh dengan nilai pengiriman mencapai USD 47,83 juta, didominasi komoditas batu bara dan crude palm oil (CPO). Posisi berikutnya ditempati Tiongkok dengan nilai ekspor USD 14,29 juta, yang didominasi batu bara, kopi, dan rempah-rempah. Sementara Amerika Serikat berada di urutan ketiga dengan nilai USD 12,33 juta, terutama untuk komoditas kopi dan rempah.
Berdasarkan jenis komoditas, batu bara tetap menjadi penyumbang terbesar ekspor Aceh dengan nilai USD 52,10 juta atau sekitar 61,08 persen dari total ekspor. Selanjutnya disusul kopi dan rempah senilai USD 18,78 juta, serta lemak dan minyak hewan atau nabati (CPO) sebesar USD 11,20 juta.
Sementara itu, nilai impor Aceh pada Juni 2026 tercatat USD 26,04 juta. Meski turun drastis dibandingkan bulan sebelumnya, angka tersebut masih meningkat 23,01 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Agus menjelaskan, Amerika Serikat menjadi negara asal impor terbesar dengan nilai USD 21,63 juta, yang didominasi komoditas gas propana dan butana. Jepang berada di posisi kedua dengan nilai impor USD 4,02 juta berupa bahan kimia anorganik, sedangkan Thailand menempati urutan ketiga dengan nilai USD 0,39 juta, didominasi komoditas garam, belerang, dan kapur.
Secara keseluruhan, gas propana dan butana menjadi komoditas impor terbesar dengan nilai USD 21,63 juta atau sekitar 83,06 persen dari total impor Aceh. Sisanya berasal dari bahan kimia anorganik serta garam, belerang, dan kapur.
Dengan nilai ekspor yang jauh melampaui impor, neraca perdagangan luar negeri Aceh pada Juni 2026 kembali mencatat surplus sebesar USD 59,27 juta. Agus menambahkan, sepanjang periode Juni 2025 hingga Juni 2026, Aceh hanya mengalami defisit perdagangan pada Oktober 2025 dan Mei 2026, sedangkan pada bulan-bulan lainnya tetap membukukan surplus.











