Berita Utama

Nilai Tukar Petani Aceh Naik 1,57 Persen

Raudhatul
×

Nilai Tukar Petani Aceh Naik 1,57 Persen

Sebarkan artikel ini
Panen padi di Kabupaten Aceh Besar. (Foto: Dok. Humas Aceh)

Byklik.com | Banda Aceh – Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Aceh pada Juli 2026 tercatat meningkat 1,57 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat NTP mencapai 127,30, didorong kenaikan harga sejumlah komoditas pertanian, terutama gabah, kakao, dan kelapa sawit, yang berdampak pada membaiknya daya beli petani.

Kepala BPS Provinsi Aceh, Agus Andria, mengatakan peningkatan NTP terjadi pada subsektor tanaman pangan, hortikultura, dan tanaman perkebunan rakyat.

“Pada Juli 2026, Nilai Tukar Petani Aceh tercatat sebesar 127,30 atau naik 1,57 persen dibandingkan Juni 2026. Peningkatan ini terutama didorong oleh naiknya NTP pada subsektor tanaman pangan, hortikultura, dan tanaman perkebunan rakyat,” kata Agus Andria, Senin, 3 Agustus 2026.

Menurut Agus, capaian NTP Aceh masih sedikit berada di bawah rata-rata nasional yang mencapai 127,84. Namun, secara nasional NTP pada Juli 2026 justru mengalami penurunan sebesar 0,15 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Baca Juga  Inflasi Aceh 0,24 Persen Dipicu Kenaikan Beras dan Bensin

Ia menjelaskan, kenaikan NTP di Aceh sejalan dengan meningkatnya Indeks Harga yang Diterima Petani (It). Pada Juli 2026, indeks tersebut tercatat sebesar 159,80, atau naik 1,76 persen dibandingkan Juni 2026.

“Peningkatan harga sejumlah komoditas pertanian menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan pendapatan petani. Komoditas yang memberikan kontribusi terbesar terhadap kenaikan Indeks Harga yang Diterima Petani adalah gabah, kakao atau cokelat biji, serta kelapa sawit,” ujarnya.

Sementara itu, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) juga mengalami kenaikan, meskipun relatif lebih rendah. Pada Juli 2026, Ib tercatat sebesar 125,53, atau meningkat 0,19 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan pendapatan yang diterima petani masih lebih tinggi dibandingkan peningkatan biaya yang harus mereka keluarkan, baik untuk kebutuhan produksi maupun konsumsi rumah tangga. Dengan demikian, daya beli petani di Aceh mengalami perbaikan selama Juli 2026.

Baca Juga  SMPN 13 dan SMKN 3 Juara Lomba Pioneering se-Kwarcab Kota Lhokseumawe

Data BPS juga menunjukkan bahwa penguatan sektor tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan rakyat masih menjadi penopang utama peningkatan NTP di Aceh. Stabilitas harga komoditas unggulan seperti gabah, kakao, dan kelapa sawit dinilai berperan penting dalam menjaga pendapatan petani di tengah dinamika ekonomi.

BPS berharap perkembangan NTP dapat menjadi salah satu indikator bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan yang mendukung peningkatan kesejahteraan petani. Upaya menjaga stabilitas harga komoditas pertanian, memperkuat produktivitas, serta meningkatkan akses pasar dinilai penting untuk mempertahankan tren positif tersebut dan memperkuat sektor pertanian sebagai penopang perekonomian Aceh.[]