Byklik.com | Banda Aceh – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Aceh mengalami inflasi sebesar 4,86 persen secara tahunan atau year on year (y-on-y) pada Agustus 2026. Indeks Harga Konsumen (IHK) Aceh tercatat 116,20.
Dari lima wilayah pengukuran inflasi, Aceh Tamiang mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 5,57 persen. Selanjutnya Aceh Tengah 5,09 persen, Banda Aceh 4,84 persen, dan Lhokseumawe 4,27 persen.
Sementara itu, Meulaboh mencatat inflasi tahunan terendah sebesar 3,85 persen dengan IHK 116,54.
Kepala BPS Aceh, Agus Andria, mengatakan inflasi tahunan dipengaruhi kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran masyarakat.
“Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks kelompok pengeluaran,” kata Agus Andria, Selasa, 1 September 2026.
Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mengalami inflasi tertinggi sebesar 11,88 persen. Kemudian perawatan pribadi dan jasa lainnya 9,42 persen, transportasi 5,70 persen, serta makanan, minuman dan tembakau 4,51 persen.
Inflasi juga terjadi pada perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 4,05 persen, perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 3,24 persen, informasi, komunikasi dan jasa keuangan 3,06 persen, rekreasi, olahraga dan budaya 1,87 persen, kesehatan 1,57 persen, serta pendidikan 0,64 persen.
Sejumlah komoditas menjadi penyumbang utama inflasi tahunan Aceh. Nasi dengan lauk memberikan andil terbesar sebesar 0,56 persen, disusul emas perhiasan 0,43 persen, beras 0,34 persen, bensin 0,29 persen, dan tomat 0,22 persen.
Secara bulanan atau month to month (m-to-m), Aceh mengalami inflasi sebesar 0,28 persen pada Agustus 2026. Meulaboh mencatat inflasi tertinggi 0,88 persen, Lhokseumawe 0,80 persen, Aceh Tamiang 0,46 persen, dan Banda Aceh 0,17 persen.
Sebaliknya, Aceh Tengah mengalami deflasi sebesar 0,33 persen. “Secara keseluruhan, Aceh mengalami inflasi bulanan sebesar 0,28 persen pada Agustus 2026. Sementara tingkat inflasi sejak awal tahun atau year to date (y-to-d) mencapai 1,57 persen,” ujar Agus.
Inflasi bulanan terutama didorong tarif air minum PAM dan daging ayam ras yang masing-masing memberikan andil 0,10 persen. Beras dan cabai rawit masing-masing menyumbang 0,05 persen, sedangkan semen memberikan andil 0,04 persen.
Dengan inflasi tahunan sebesar 5,57 persen, Aceh Tamiang menjadi daerah dengan tingkat inflasi tertinggi di antara lima wilayah pengukuran IHK di Aceh pada Agustus 2026.











