Byklik.com | Yogyakarta – Peningkatan suhu bumi, cuaca ekstrem, hingga bencana hidrometeorologis yang kian sering terjadi menegaskan krisis iklim semakin serius dan membutuhkan langkah mitigasi serta adaptasi yang cepat dan berkelanjutan.
Pakar Studi Lingkungan Hidup UGM, Prof. Dr.rer.nat. Djati Mardiatno, menyebut perubahan iklim saat ini tidak bisa dihindari, namun masih dapat dikelola melalui strategi yang tepat.
“Perubahan iklim itu sudah sesuatu yang tidak bisa kita hindari saat ini. Yang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita melakukan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan yang ada,” ujarnya, Jumat, 24 April 2026.
Ia menegaskan, meningkatnya intensitas hujan ekstrem dan kemunculan siklon tropis menjadi indikator nyata perubahan sistem atmosfer akibat krisis iklim. Kondisi ini, kata dia, merupakan akumulasi panjang dari aktivitas manusia, terutama emisi gas rumah kaca dari industrialisasi dan pertumbuhan populasi.
“Perubahan ini tidak terjadi tiba-tiba, tetapi hasil proses panjang yang dipengaruhi aktivitas manusia,” jelasnya.
Menurut Djati, tekanan terhadap lingkungan semakin besar seiring meningkatnya eksploitasi sumber daya alam, penggunaan bahan bakar fosil, serta berkurangnya tutupan hutan. Karena itu, langkah realistis yang perlu dilakukan saat ini adalah memperlambat laju kerusakan melalui pengurangan emisi dan pengelolaan sumber daya secara bijak.
“Upaya ini membutuhkan komitmen jangka panjang dan perubahan pola pikir dalam pembangunan,” katanya.
Dalam konteks global, ia menekankan pentingnya kerja sama antarnegara dalam menangani krisis iklim.
“Bumi ini cuma satu, sehingga penyelesaiannya tidak bisa dilakukan oleh satu negara saja, tetapi harus dilakukan secara bersama-sama,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti dilema yang dihadapi negara berkembang, termasuk Indonesia, dalam menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Salah satu contohnya adalah komoditas kelapa sawit yang memiliki nilai ekonomi tinggi, namun berpotensi menimbulkan dampak ekologis jika tidak dikelola dengan baik.
“Perlu kita sadari jika sawit itu memang menguntungkan, tetapi juga menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan,” ujarnya.
Djati menambahkan, isu lingkungan tidak hanya berkaitan dengan aspek ekologis, tetapi juga menyangkut dimensi ekonomi dan politik. Ia menilai negara maju belum sepenuhnya bertanggung jawab dalam mendukung upaya global, khususnya dalam pembiayaan dan transfer teknologi.
Sebagai solusi, ia menekankan pentingnya penerapan prinsip pembangunan berkelanjutan dengan membedakan antara kebutuhan dan keinginan dalam pemanfaatan sumber daya alam.
“Bumi ini mampu memenuhi semua kebutuhan manusia, tetapi tidak akan mampu memenuhi semua keinginan manusia,” tuturnya.
Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif menjaga lingkungan sebagai tanggung jawab bersama.
“Mari kita rawat bersama dan kita lestarikan untuk kepentingan bersama,” pungkasnya.











