Lingkungan & Energi

Kolaborasi Hijau untuk Pulihkan DAS Krueng Pase

Avatar
×

Kolaborasi Hijau untuk Pulihkan DAS Krueng Pase

Sebarkan artikel ini
Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Gampong Pulo Meuria, Kecamatan Geureudong Pase, Aceh Utara, menanam pohon di sempadan Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Pase. Foto: Walhi Aceh

Byklik.com | Lhoksukon – Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Gampong Pulo Meuria, Kecamatan Geureudong Pase, Aceh Utara, bersama masyarakat menggelar aksi penanaman pohon di sempadan Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Pase.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya pemulihan kawasan hulu sungai yang mengalami kerusakan akibat bencana ekologis pada November 2025.

Kegiatan ini didukung oleh Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Aceh, Asosiasi Pengelola Perhutanan Sosial Indonesia (AP2SI) Aceh, Bina Rakyat Sejahtera (BYTRA) Aceh, dan Environmental Local Champion Club (ELCC).

Koordinator Lapangan, M. Rian Mirza, mengatakan kegiatan tersebut menjadi langkah awal masyarakat dalam memulihkan kondisi DAS Krueng Pase yang mengalami abrasi dan kerusakan di sejumlah titik setelah diterjang banjir besar pada akhir 2025.

“Kami mungkin hanya mampu menanam sekitar 800 bibit. Jumlahnya memang tidak besar, tetapi ini merupakan langkah nyata yang kami mulai dari kawasan hulu untuk memulihkan DAS Krueng Pase,” ujar Rian, Sabtu, 18 Juli 2026.

Menurut Rian yang juga pengurus LPHD Gampong Pulo Meuria, keberadaan DAS Krueng Pase memiliki peran penting sebagai daerah tangkapan air yang memasok kebutuhan air bagi masyarakat di 11 kecamatan di Kabupaten Aceh Utara serta Kota Lhokseumawe. Karena itu, upaya penyelamatan kawasan tersebut membutuhkan keterlibatan seluruh pihak.

“Kami berharap semakin banyak pihak yang ikut berpartisipasi menyelamatkan DAS Krueng Pase, baik pemerintah maupun pihak swasta. Kami selalu terbuka untuk berkolaborasi dalam berbagai bentuk kegiatan konservasi, baik perlindungan hutan, sumber daya air, maupun habitat satwa liar demi kemaslahatan masyarakat,” katanya.

Rian juga menyampaikan apresiasi kepada WALHI Aceh, AP2SI Aceh, BYTRA Aceh, dan ELCC atas dukungan yang diberikan dalam kegiatan tersebut.

Baca Juga  Menteri ESDM: Tambahan Produksi Blok Cepu Dorong Swasembada Energi Nasional

“Terima kasih atas bantuan bibit yang terdiri atas mahoni, kelapa, dan jambu Jamaika. Seluruh bibit tersebut telah ditanam di sepanjang sempadan sungai yang berada di wilayah desa serta kawasan konservasi Gampong Pulo Meuria,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Divisi Perencanaan, Monitoring dan Evaluasi Walhi Aceh, Munawir Abdullah, mengatakan kegiatan rehabilitasi DAS Krueng Pase tidak hanya bertujuan memulihkan fungsi ekologis sungai, tetapi juga menjadi bentuk dukungan masyarakat terhadap pelaksanaan Instruksi Gubernur Aceh Nomor 8 Tahun 2025 tentang Penataan dan Penertiban Perizinan dan Nonperizinan Berusaha Sektor Sumber Daya Alam.

Menurut Munawir, salah satu poin dalam instruksi gubernur tersebut meminta bupati dan wali kota se-Aceh melakukan penataan dan penertiban pelaksanaan perizinan maupun nonperizinan berusaha agar sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR), Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), serta dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL-UPL).

Selain itu, Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh juga diinstruksikan melakukan penataan dan penertiban terhadap pelaksanaan kewajiban pemegang Izin Usaha Perkebunan (IUP), Izin Usaha Perkebunan Budidaya (IUP-B), dan Izin Usaha Perkebunan Pengolahan (IUP-P), termasuk memfasilitasi pembangunan kebun masyarakat sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Berdasarkan temuan kami di lapangan sebelum bencana ekologis November 2025, terdapat dugaan pelanggaran berupa penanaman kelapa sawit di kawasan sempadan sungai. Padahal, kawasan tersebut seharusnya menjadi area konservasi yang wajib dilindungi,” kata Munawir.

Karena itu, ia berharap pemerintah daerah dan instansi terkait dapat menjalankan Instruksi Gubernur Aceh secara konsisten sehingga upaya penataan kawasan sempadan sungai dapat berjalan seiring dengan inisiatif masyarakat dalam memulihkan DAS Krueng Pase.

Baca Juga  BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem Landa Sejumlah Wilayah Aceh hingga 16 Mei, Warga Diminta Waspada

Sementara itu, Manajer Program BYTRA Aceh, Rahmad, mengatakan kegiatan penanaman pohon tersebut merupakan langkah konkret yang sangat penting dalam mendukung upaya pemulihan DAS Krueng Pase.

Menurutnya, rehabilitasi kawasan hulu sungai membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

Rahmad juga mengapresiasi para kader ELCC yang telah menunjukkan aksi nyata mereka, bukan sebatas wacana atau diskusi dalam kelas tetapi juga kegiatan outclass berbentuk aksi nyata seperti kegiatan penanaman pohon ini.

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari praktik lapangan program pengkaderan penggiat lingkungan ELCC yang hingga kini telah melahirkan tiga angkatan kader oleh BYTRA.

“Kegiatan ini merupakan bentuk nyata komitmen kader ELCC dalam mendukung upaya penyelamatan dan konservasi lingkungan setelah mengikuti serangkaian kelas pengkaderan. Kami berharap semoga setiap pohon yang ditanam adalah warisan oksigen untuk kehidupan selanjutnya,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ketua ELCC, M. Nur Khatami, menambahkan bahwa penyelamatan DAS Krueng Pase merupakan tanggung jawab bersama karena kawasan tersebut berada di wilayah hulu yang menjadi sumber air bagi masyarakat di wilayah hilir.

Menurutnya, kegiatan penanaman pohon ini merupakan kolaborasi puluhan kader ELCC angkatan I, II, dan III bersama WALHI Aceh, AP2SI Aceh, BYTRA Aceh, LPHD Gampong Pulo Meuria, serta masyarakat setempat sebagai bentuk aksi nyata menjaga kelestarian lingkungan.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari praktik lapangan peserta ELCC angkatan III. Kami berharap penanaman pohon yang dilakukan hari ini dapat memberikan manfaat bagi lingkungan dan berdampak jangka panjang terhadap keberlanjutan sumber daya air di Aceh Utara,” pungkas Khatami.[]