Byklik.com | Lhokseumawe – Kenaikan harga berbagai material bangunan di Kota Lhokseumawe dalam beberapa bulan terakhir mulai berdampak terhadap meningkatnya biaya pembangunan rumah, renovasi, hingga proyek konstruksi. Harga semen yang kini mencapai Rp95.000 per sak menjadi salah satu pemicu naiknya biaya di sektor properti dan konstruksi.
Salah seorang pengembang perumahan di Lhokseumawe, Zulkarnaini Usman (Nyak Dun), mengatakan lonjakan harga material bangunan memaksa pelaku usaha melakukan penyesuaian terhadap rencana pembangunan yang telah disusun.
Ia menilai kenaikan harga bahan bangunan berpengaruh langsung terhadap biaya konstruksi, sehingga pengembang harus menghitung kembali anggaran agar proyek tetap dapat berjalan.
“Stabilitas harga dan kelancaran distribusi material sangat penting untuk menjaga keberlangsungan sektor konstruksi dan menghindari peningkatan biaya pembangunan yang lebih besar,” ujar Zulkarnaini, Sabtu, 25 Juli 2026.
Ia berharap pemerintah bersama distributor dan pelaku usaha dapat memperkuat koordinasi untuk menjaga kelancaran distribusi serta ketersediaan material bangunan di pasaran. Menurutnya, langkah tersebut diperlukan agar harga kembali stabil dan aktivitas pembangunan tidak mengalami hambatan.
Sementara itu, pemilik Toko Bangunan Adi Jaya di Simpang Kandang, Mawardi, mengatakan hampir seluruh jenis material bangunan mengalami kenaikan harga sejak awal 2026. Kenaikan tersebut, menurutnya, rata-rata mencapai sekitar 30 persen dibandingkan sebelumnya.
“Hampir seluruh material bangunan mengalami kenaikan hingga sekitar 30 persen dibandingkan sebelumnya,” kata Mawardi.
Ia menjelaskan, harga semen yang sebelumnya berkisar antara Rp57.000 hingga Rp62.000 per sak kini meningkat menjadi Rp75.000 hingga Rp95.000 per sak. Selain semen, kenaikan harga juga terjadi pada besi, seng, pipa, cat, dan berbagai material bangunan lainnya.
Mawardi juga mengungkapkan bahwa pasokan semen mulai terbatas. Menurutnya, pedagang harus melakukan pembayaran uang muka atau deposit kepada distributor sebelum barang dapat dikirim.
“Semen sendiri untuk mendapatkannya, kami harus melakukan deposit terlebih dahulu sebelum barang diberikan oleh distributor,” ujarnya.
Hal senada disampaikan pemilik Toko Bangunan Ilham Teguh di Simpang Kandang, Mufaddhal. Ia mengatakan hampir seluruh material bangunan mengalami kenaikan harga sejak awal tahun, dengan semen menjadi salah satu komoditas yang mengalami lonjakan paling signifikan.
“Hampir seluruh material bangunan mengalami kenaikan sejak awal tahun 2026, terutama semen, cat, pipa, seng, dan material lainnya,” katanya.
Menurut Mufaddhal, kenaikan harga semen dipengaruhi terganggunya distribusi akibat antrean panjang kendaraan pengangkut di Pelabuhan Umum Krueng Geukueh. Kondisi tersebut menyebabkan pasokan material ke sejumlah toko bangunan di Lhokseumawe tidak berjalan optimal.
Meski harga terus meningkat, aktivitas penjualan masih berlangsung. Namun, sebagian konsumen kini memilih membeli material sesuai kebutuhan karena harus menyesuaikan anggaran.
“Pembeli tetap ada, tetapi sebagian memilih membeli sesuai kebutuhan karena harga sudah berubah,” ujar Mufaddhal.
Para pelaku usaha berharap distribusi material bangunan dapat kembali normal sehingga pasokan di pasaran lebih terjamin dan harga berangsur stabil. Mereka menilai kestabilan harga material sangat penting untuk menjaga keberlangsungan sektor konstruksi, mendukung investasi di bidang properti, serta menekan kenaikan biaya pembangunan yang pada akhirnya juga berdampak kepada masyarakat sebagai pengguna jasa konstruksi.***











