Byklik.com | Banda Aceh – Rencana pemerintah menaikkan Harga Eceran Tertinggi (HET) MinyaKita mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan pedagang dan masyarakat. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi mendorong kenaikan harga jual di pasaran serta mengurangi minat beli konsumen di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang.
Salah seorang pedagang di kawasan Setui, Banda Aceh, Ridwan, mengatakan kenaikan HET MinyaKita akan berdampak langsung terhadap harga yang dibayar konsumen. Saat ini, ia menjual MinyaKita kemasan satu liter seharga Rp19 ribu dan kemasan dua liter Rp36 ribu.
Menurut Ridwan, apabila HET resmi dinaikkan, pedagang tidak memiliki banyak pilihan selain menyesuaikan harga jual agar tetap memperoleh margin keuntungan.
“Kalau HET naik, tentu harga jual juga ikut naik. Nanti bisa jadi harganya hampir sama dengan minyak kemasan lainnya, sehingga masyarakat mungkin akan berpikir ulang untuk membeli,” kata Ridwan, Rabu, 10 Juni 2026.
Ia menilai daya tarik utama MinyaKita selama ini terletak pada harganya yang lebih terjangkau dibandingkan minyak goreng kemasan premium. Jika selisih harga semakin tipis, konsumen berpotensi beralih ke produk lain.
“Kalau perbedaannya sedikit, masyarakat bisa memilih merek lain. Itu yang kami khawatirkan,” ujarnya.
Pedagang lainnya, Sanusi, berharap pemerintah mempertimbangkan kembali rencana kenaikan HET tersebut agar harga minyak goreng tetap terjangkau bagi masyarakat.
“Harapannya jangan naik. Kalau naik, pasti lebih mahal lagi dan masyarakat yang merasakan dampaknya,” kata Sanusi.
Wacana kenaikan HET MinyaKita sebelumnya disampaikan Menteri Perdagangan Budi Santoso dalam rapat koordinasi bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Badan Pangan Nasional, dan Kementerian Pertanian di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Kamis, 4 Juni 2026.
Meski besaran HET baru belum diputuskan, pemerintah telah menyepakati perlunya penyesuaian harga dengan mempertimbangkan kondisi pasar serta kenaikan biaya produksi.
Rencana tersebut muncul setelah harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) mengalami kenaikan signifikan hingga mencapai Rp15.445 per kilogram. Kenaikan harga bahan baku itu dinilai turut memengaruhi biaya produksi minyak goreng, termasuk MinyaKita.
Pemerintah saat ini masih membahas besaran HET yang akan diberlakukan. Sementara itu, sejumlah pedagang berharap kebijakan yang diambil nantinya tetap memperhatikan kemampuan masyarakat agar kebutuhan pokok tersebut tetap mudah dijangkau.
“Kami memahami biaya produksi naik, tetapi masyarakat juga sedang menghadapi tekanan ekonomi. Mudah-mudahan ada solusi yang tidak terlalu memberatkan konsumen,” ujar Ridwan.
Rencana penyesuaian HET MinyaKita diperkirakan akan terus menjadi perhatian publik karena menyangkut salah satu kebutuhan pokok yang digunakan hampir seluruh rumah tangga di Indonesia.









