Ekonomi & Bisnis

Teknologi Biogeotekstil Tingkatkan Hasil Kentang Hingga 35 Ton

Avatar
×

Teknologi Biogeotekstil Tingkatkan Hasil Kentang Hingga 35 Ton

Sebarkan artikel ini
Prof Didik Saat Berdiskusi dengan Petani. [Foto: Unibraw]

Byklik.com | Kota Batu – Fakultas Bio Industri Pertanian dan Kehutanan (FBIPK) Universitas Brawijaya menggelar Sarasehan Petani tentang Pengendalian Degradasi Lahan dan Aplikasi Irigasi untuk Pertanaman Sayuran di Lahan Pegunungan di Agro Techno Park (ATP) Cangar, Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Kegiatan yang terintegrasi dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN) itu diikuti sekitar 20 petani dari Kelompok Taruna Tani Abinaya Milenial.

Sarasehan yang dipimpin Prof. Ir. Didik Suprayogo, M.Sc., Ph.D., bersama Awang Satya Kusuma, S.Kom., Putri Angelina Koba, S.P., dan mahasiswa KKN bertujuan meningkatkan kapasitas petani dalam mengelola lahan pegunungan secara berkelanjutan melalui penerapan teknologi konservasi tanah dan air serta sistem irigasi yang lebih efisien.

Dalam pemaparannya, Putri Angelina Koba menjelaskan hasil penelitian menunjukkan kombinasi Biogeotekstil Plus dengan irigasi bawah permukaan mampu meningkatkan produksi kentang hingga sekitar 26 ton per hektare pada akhir musim penghujan menuju musim kemarau. Pada musim penghujan, Biogeotekstil Plus juga terbukti meningkatkan hasil panen, bahkan produksi dapat mencapai sekitar 35 ton per hektare bila dipadukan dengan irigasi tetes.

Baca Juga  Setelah 12 Tahun, Pabrik Karet di Aceh Barat Akhirnya Beroperasi Penuh

Sementara itu, Awang Satya Kusuma memaparkan penerapan tiga sistem irigasi, yakni sprinkler, tetes, dan bawah permukaan, mulai dari perencanaan jaringan hingga otomatisasi. Teknologi tersebut dinilai mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air, mengurangi kehilangan air, dan mendukung penerapan pertanian presisi di kawasan hortikultura dataran tinggi.

Prof. Didik Suprayogo menjelaskan bahwa sekitar 70 persen erosi tanah terjadi pada fase awal pertumbuhan tanaman ketika permukaan tanah masih terbuka. Karena itu, perlindungan tanah pada periode tersebut menjadi kunci dalam mengurangi degradasi lahan di kawasan pegunungan.

Baca Juga  Mualem Teken MoU dengan PT Flora Agung terkait Investasi Pabrik Migor

Ia memperkenalkan Biogeotekstil Plus, yaitu mulsa organik dua lapis yang diisi bahan organik untuk melindungi permukaan tanah. Teknologi ini mampu menekan limpasan permukaan dan erosi, menjaga kelembapan tanah, memperbaiki kesuburan, mengurangi pertumbuhan gulma, serta meningkatkan produktivitas tanaman.

Kegiatan berlangsung interaktif dengan diskusi mengenai erosi, keterbatasan air saat musim kemarau, hingga upaya meningkatkan produktivitas hortikultura. Para peserta juga mengikuti kunjungan lapangan untuk melihat langsung penerapan Biogeotekstil Plus dan berbagai sistem irigasi pada budidaya kentang di Agro Techno Park Cangar.

Prof. Didik berharap hasil penelitian yang dikembangkan Universitas Brawijaya dapat semakin banyak diadopsi petani. Menurutnya, penerapan teknologi konservasi tanah dan sistem irigasi yang tepat akan meningkatkan produktivitas pertanian, efisiensi penggunaan air, memperbaiki kesehatan tanah, serta mendukung pengelolaan lahan pegunungan yang berkelanjutan.