Byklik.com | Banda Aceh – Cuaca ekstrem yang menyebabkan penurunan pasokan air mulai berdampak terhadap sektor pertanian di Provinsi Aceh. Hingga 31 Juli 2026, Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh mencatat sebanyak 2.897 hektare areal persawahan mengalami kekeringan yang tersebar di tujuh kabupaten.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Badriah, mengatakan kekeringan dipicu menurunnya debit air yang mengaliri lahan pertanian akibat cuaca panas yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.
Meski demikian, ia menegaskan kondisi tersebut tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah kabupaten terdampak. Menurutnya, hanya sejumlah kecamatan yang mengalami penurunan pasokan air, sedangkan wilayah lainnya masih berada dalam kondisi relatif aman.
“Secara umum memang ada beberapa kabupaten yang terdampak cuaca ekstrem karena berkurangnya debit air. Kondisi kekeringan hampir merata di sejumlah daerah, meskipun tingkat keparahannya berbeda-beda,” kata Badriah, Senin, 3 Agustus 2026.
Berdasarkan data BPTPH, areal persawahan yang terdampak berada di Kabupaten Pidie, Nagan Raya, Simeulue, Aceh Besar, Aceh Utara, Aceh Jaya, dan Aceh Barat. Tingkat kekeringan di masing-masing daerah bervariasi, bergantung pada kondisi sumber air dan jaringan irigasi yang tersedia.
Badriah menjelaskan, sebagian besar lahan yang terdampak masih berada pada kategori kekeringan ringan. Pada fase tersebut, tanaman padi umumnya masih tumbuh dan berwarna hijau, namun mulai mengalami kekurangan pasokan air yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan secara optimal.
Menurutnya, tanaman padi membutuhkan suplai air yang stabil, baik melalui genangan maupun jaringan irigasi. Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah areal persawahan dilaporkan tidak lagi memperoleh aliran air, sehingga berpotensi menghambat pertumbuhan tanaman apabila kondisi itu berlangsung dalam waktu yang lebih lama.
Untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas, Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh terus memperbarui data perkembangan kekeringan setiap hari. Pemantauan dilakukan sebagai dasar dalam menentukan langkah penanganan sesuai perkembangan kondisi di lapangan.
Pemerintah juga mengimbau petani bersama pemerintah kabupaten agar terus memantau ketersediaan air irigasi serta mengoptimalkan pengelolaan sumber air yang ada. Langkah tersebut dinilai penting mengingat cuaca panas diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.
Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh berharap koordinasi antara pemerintah daerah, petugas lapangan, dan para petani terus diperkuat agar dampak kekeringan terhadap produksi padi dapat diminimalkan. Dengan langkah antisipatif yang dilakukan secara terpadu, ketahanan pangan di Aceh diharapkan tetap terjaga meskipun menghadapi tantangan cuaca ekstrem.[]











