Byklik.com | Medan – Staf Khusus Wali Nanggroe Aceh Bidang Diplomasi dan Kerja Sama Luar Negeri, Dr. Mohammad Raviq, membahas penguatan kerja sama strategis Aceh–India bersama Konsul Jenderal Republik India di Medan, Ravi Shanker Goel. Salah satu agenda utama yang dibahas adalah percepatan pengembangan konektivitas maritim antara Sabang dan Kepulauan Andaman–Nikobar.
Kepala Bagian Kerja Sama dan Humas Lembaga Wali Nanggroe, Zulfikar Idris, mengatakan pertemuan yang berlangsung di Kantor Konsulat Jenderal India di Medan, Minggu, 2 Agustus 2026, dilaksanakan atas arahan Paduka Yang Mulia (PYM) Wali Nanggroe Aceh sebagai bagian dari upaya memperkuat diplomasi internasional yang berdampak bagi pembangunan Aceh.
“Pertemuan ini merupakan tindak lanjut arahan PYM Wali Nanggroe untuk memperkuat hubungan internasional yang memberikan manfaat nyata bagi pembangunan Aceh,” kata Zulfikar.
Pada awal pertemuan, Ravi Shanker Goel menyampaikan salam hormat kepada PYM Wali Nanggroe Aceh serta mendoakan agar beliau segera pulih dan kembali beraktivitas setelah menjalani operasi ringan.
Salah satu pembahasan penting adalah tindak lanjut hasil pertemuan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dengan Perdana Menteri India, Narendra Modi, di Istana Merdeka, Jakarta, pada 7 Juli 2026. Dalam pertemuan kedua pemimpin negara itu disepakati penguatan konektivitas maritim strategis antara Pelabuhan Sabang dan Kepulauan Andaman–Nikobar.
Ravi Shanker Goel mengungkapkan bahwa Pemerintah India telah mengirimkan surat resmi kepada Pemerintah Aceh sebagai langkah awal untuk membahas implementasi kerja sama tersebut.
Di sela pertemuan, Konsul Jenderal India juga melakukan komunikasi melalui sambungan telepon dengan Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah. Keduanya membahas rencana kunjungan Ravi Shanker Goel ke Aceh dalam waktu dekat guna memperkuat koordinasi dan mempercepat realisasi berbagai agenda kerja sama.
Mohammad Raviq menilai pengembangan konektivitas Sabang–Andaman merupakan peluang strategis yang dapat memperkuat posisi Aceh sebagai gerbang Indonesia di kawasan Samudra Hindia.
“Kerja sama ini bukan hanya mempererat hubungan Indonesia dan India, tetapi juga membuka peluang lebih besar bagi Aceh di sektor perdagangan, investasi, logistik, pariwisata, pendidikan, hingga pengembangan ekonomi biru. Kami berharap manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Aceh,” ujarnya.
Menurut Raviq, posisi geografis Aceh yang berada di jalur pelayaran internasional menjadi modal penting untuk menjadikan Sabang sebagai simpul konektivitas sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan.
Selain pengembangan sektor maritim, kedua pihak juga membahas peluang kerja sama di bidang pendidikan, kesehatan, kebudayaan, pengembangan sumber daya manusia, promosi perdagangan, investasi, serta kolaborasi antarlembaga.
Raviq menegaskan Lembaga Wali Nanggroe mendukung setiap inisiatif yang sejalan dengan semangat perdamaian, pembangunan, dan kemitraan internasional.
“Lembaga Wali Nanggroe siap mendukung komunikasi dan kolaborasi yang konstruktif antara Pemerintah Aceh, Pemerintah Republik Indonesia, Pemerintah India, serta seluruh pemangku kepentingan sesuai dengan kewenangan yang diamanatkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh,” katanya.
Pertemuan tersebut ditutup dengan komitmen kedua belah pihak untuk terus memperkuat komunikasi dan koordinasi dalam merealisasikan berbagai peluang kerja sama. Pengembangan konektivitas Sabang–Andaman diharapkan menjadi katalis bagi peningkatan perdagangan, investasi, logistik, dan pariwisata, sekaligus mempererat hubungan masyarakat Aceh dan India serta memperkuat posisi Aceh sebagai pintu gerbang ekonomi Indonesia di kawasan Samudra Hindia.[]











