Byklik.com | Lhokseumawe – PT Pembangunan Lhokseumawe (PTPL) bersama Aceh Trading Committee (ATC) terus mematangkan rencana ekspor komoditas pertanian asal Aceh ke Malaysia melalui audiensi dengan Bea Cukai Lhokseumawe, Rabu, 13 Mei 2026.
Pertemuan yang berlangsung di Kantor Bea Cukai Lhokseumawe itu diterima langsung oleh Kepala Bea Cukai Lhokseumawe, Bambang Sutarjo, beserta jajaran.
Audiensi tersebut turut dihadiri Direktur Pengembangan Usaha PTPL, Ir. Muntazar, ST, MT, Direktur Umum dan Keuangan PTPL, Junaidi, SE, Ketua ATC, Zulkarnaini, Sekretaris ATC, Anwar Muhammad, serta Bendahara ATC, Yusuf A.
Dalam pertemuan itu, PTPL dan ATC memaparkan perkembangan persiapan ekspor sejumlah komoditas pertanian yang direncanakan menjadi pengiriman perdana ke Malaysia.
Selain membahas kesiapan komoditas, kedua pihak juga mendiskusikan mekanisme pengiriman barang, klasifikasi produk ekspor, hingga penanggung jawab operasional kapal dan pengurusan dokumen ekspor.
Direktur Pengembangan Usaha PTPL, Ir. Muntazar, ST, MT, mengatakan koordinasi dengan Bea Cukai merupakan langkah penting agar seluruh proses administrasi dan teknis ekspor dapat berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Koordinasi ini penting untuk memastikan seluruh tahapan ekspor berjalan lancar, mulai dari kesiapan komoditas hingga kelengkapan administrasi,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bea Cukai Lhokseumawe, Bambang Sutarjo, mengingatkan agar seluruh dokumen dan persyaratan administrasi dipersiapkan secara lengkap guna meminimalkan potensi kendala dalam proses ekspor.
Menurutnya, kelengkapan administrasi menjadi salah satu faktor utama dalam mendukung kelancaran distribusi barang ke luar negeri sekaligus menghindari hambatan dalam proses kepabeanan.
Melalui audiensi tersebut, PTPL dan ATC berharap rencana ekspor hasil pertanian Aceh dapat segera terealisasi dan menjadi langkah awal dalam memperluas akses pasar internasional bagi komoditas daerah.
Selain meningkatkan nilai perdagangan, kegiatan ekspor itu juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi serta membuka peluang baru bagi sektor pertanian dan pelaku usaha di Aceh.***











