Ekonomi & BisnisHeadline

BI: Inflasi Aceh 5,31 Persen, Didorong Tarif Listrik dan Harga Pangan

Avatar
×

BI: Inflasi Aceh 5,31 Persen, Didorong Tarif Listrik dan Harga Pangan

Sebarkan artikel ini
Tangkapan layar IG @bank_indonesia_aceh dikutip Byklik.com, Kamis, 16 April 2026.

Byklik.com | Banda Aceh – Inflasi tahunan (year on year/yoy) Provinsi Aceh pada Maret 2026 tercatat sebesar 5,31 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang berada di angka 3,48 persen.

Data Bank Indonesia menunjukkan, tekanan inflasi di Aceh masih didorong oleh sejumlah komoditas utama, terutama tarif listrik, emas perhiasan, beras, nasi dengan lauk, serta rokok kretek mesin (SKM).

“Perkembangan inflasi bulan Maret 2026 menunjukkan angka yang lebih rendah dibanding bulan sebelumnya. Alhamdulillah…,” tulis akun IG @bank_indonesia_aceh dikutip Byklik.com, Kamis, 16 April 2026.

Secara rinci, tarif listrik menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,89 persen pada Maret 2026. Disusul emas perhiasan sebesar 0,86 persen dan beras sebesar 0,80 persen.

Baca Juga  Transaksi Digital Melejit, BI Perkuat Industri Pembayaran

Di sisi lain, beberapa komoditas mengalami deflasi, seperti cabai merah (-0,18 persen), kentang (-0,09 persen), bawang putih (-0,06 persen), dan cabai rawit (-0,04 persen).

Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi terutama dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga.

Bank Indonesia juga mencatat sejumlah risiko inflasi ke depan, di antaranya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), tekanan harga pangan global, serta potensi gangguan distribusi.

Selain itu, meningkatnya permintaan masyarakat dan faktor cuaca juga dinilai dapat memengaruhi stabilitas harga di Aceh.

Baca Juga  Gayo Setie Masih Terisolasi, Warga Desak Pembukaan Akses

Untuk mengendalikan inflasi, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Aceh menerapkan strategi 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Sejumlah langkah konkret telah dilakukan sepanjang Maret 2026, seperti operasi pasar di berbagai kabupaten/kota, gerakan pangan murah, serta fasilitasi distribusi pangan untuk komoditas seperti cabai dan telur.

Bank Indonesia memproyeksikan inflasi Aceh pada 2026 akan tetap terkendali, meskipun berada di level yang relatif lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, seiring dengan berbagai upaya pengendalian yang terus diperkuat.