Lingkungan & Energi

PHE NSO Edukasi Pengelolaan Sampah di SMPN 6 Lhokseumawe

Bambang Iskandar Martin
×

PHE NSO Edukasi Pengelolaan Sampah di SMPN 6 Lhokseumawe

Sebarkan artikel ini
PHE NSO menggelar pelatihan pengelolaan limbah organik dan anorganik bagi siswa SMP Negeri 6 Lhokseumawe. (Ist)

Byklik.com | Lhokseumawe – Pertamina Hulu Energi North Sumatra Offshore (PHE NSO) bersama Cendikia Foundation menggelar pelatihan pengelolaan limbah organik dan anorganik bagi siswa SMP Negeri 6 Lhokseumawe sebagai upaya meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga lingkungan melalui pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Kegiatan yang diikuti puluhan siswa tersebut merupakan bagian dari program aktivasi bank sampah yang bertujuan menanamkan pemahaman tentang pemilahan sampah, pengelolaan limbah rumah tangga, hingga pemanfaatan sampah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomis dan bernilai guna bagi masyarakat.

Field Manager PHE NSO, Rizki Kushardani, mengatakan program tersebut merupakan langkah strategis dalam membangun kesadaran lingkungan sejak dini sekaligus memperkuat kapasitas peserta didik dalam menghadapi berbagai tantangan lingkungan pada masa mendatang.

“Program ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat kapasitas peserta didik agar lebih peduli terhadap lingkungan. Melalui program ini, sekolah juga diharapkan dapat menjadi pusat edukasi lingkungan,” ujar Rizki, Rabu, 3 Juni 2026.

Menurut Rizki, pengelolaan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk kalangan pelajar. Oleh karena itu, sekolah memiliki peran penting dalam membentuk budaya peduli lingkungan yang berkelanjutan.

Dalam pelatihan tersebut, para siswa memperoleh materi mengenai teknik pemilahan sampah organik dan anorganik, penerapan sistem bank sampah, serta pengolahan limbah menjadi produk bernilai tambah. Melalui pendekatan tersebut, peserta diharapkan mampu menerapkan praktik pengelolaan sampah secara mandiri, baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan rumah.

Baca Juga  PHE NSO Gelar Doa Bersama dan Santunan Anak Yatim

Program yang diinisiasi PHE NSO itu sejalan dengan upaya Pemerintah Kota Lhokseumawe dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah. Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, produksi sampah di Kota Lhokseumawe mencapai sekitar 110 ton per hari atau berkisar antara 3.300 hingga 3.410 ton setiap bulan.

Tingginya volume sampah tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah dalam mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat. Untuk itu, Pemerintah Kota Lhokseumawe telah meluncurkan program Broh Jeut Keu Peng atau “Sampah Jadi Uang” yang didukung penggunaan mesin pengolahan sampah berbasis ekonomi sirkular (circular economy). Program tersebut bertujuan meningkatkan nilai guna sampah melalui proses pengolahan dan pemanfaatan kembali limbah yang dihasilkan masyarakat.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Lhokseumawe, Zulfikar Syarif, mengapresiasi pelaksanaan program yang dinilai selaras dengan kebijakan pemerintah daerah dalam pengelolaan lingkungan hidup.

“Program kegiatan ini sangat baik karena mampu menumbuhkan kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan dari lingkungan sekolah. Saya mendukung program pengembangan bank sampah di sekolah,” kata Zulfikar.

Baca Juga  Dari Duka ke Daya, Perempuan Kepala Keluarga Bangkit Mandiri

Ia berharap kegiatan serupa dapat diperluas ke sekolah-sekolah lain di Kota Lhokseumawe sehingga semakin banyak pelajar yang memahami pentingnya pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan.

Menurutnya, sekolah memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan dalam menanamkan karakter peduli lingkungan kepada generasi muda. Karena itu, Dinas Lingkungan Hidup Kota Lhokseumawe siap berkolaborasi dalam pengembangan program bank sampah di berbagai satuan pendidikan.

Program pelatihan tersebut terlaksana melalui kolaborasi berbagai pihak, antara lain Dinas Lingkungan Hidup Kota Lhokseumawe, Dinas Pendidikan Kota Lhokseumawe, Kecamatan Muara Satu, serta Pemerintah Gampong Batuphat Timur. Sinergi multipihak tersebut diharapkan mampu memperkuat upaya penanganan persoalan sampah sekaligus membangun budaya peduli lingkungan di tengah masyarakat.

Melalui pelibatan dunia pendidikan sebagai mitra strategis, program ini diharapkan dapat melahirkan generasi muda yang tidak hanya memahami pentingnya pengelolaan sampah, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan dalam mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Kesadaran lingkungan yang ditanamkan sejak dini diyakini menjadi fondasi penting dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Kota Lhokseumawe.***