Byklik.com | Palu – Menteri Agama Nasaruddin Umar memberi pesan khusus kepada para guru besar Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) agar tidak hanya menjadi ahlul ilmi (ahli ilmu), tetapi juga ahluz zikri.
Pesan tersebut disampaikan saat pengukuhan dua akademisi UIN Datokarama sebagai guru besar di Auditorium Kampus 1000 Mimpi, Minggu, 25 April 2026.
Keduanya adalah Prof. Dr. Rusli Takunas, M.Pd sebagai Guru Besar Bidang Pendidikan Islam Multikultural dan Prof. Dr. H. Askar, M.Pd sebagai Guru Besar Bidang Pemikiran Pendidikan Islam.
Menurut Menag, guru besar tidak hanya dituntut unggul secara keilmuan, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual.
“Guru Besar adalah puncak pencapaian akademik bagi para pencari ilmu secara formal. Tetapi jangan lupa, di atas langit masih ada langit. Dan di dalam Alquran, Allah tidak mengatakan ‘fas’alu ahla ilmi inkuntum la ta’lamun’, melainkan ‘fas’alū ahlaż-żikri in kuntum lā ta’lamun’. Tanyakanlah kepada ahli zikir,” ujar Menag.
Ia menjelaskan bahwa makna ahluz zikri adalah mereka yang mencapai kedekatan diri dengan Allah SWT.
“Apa makna zikir? Ahluz zikri yaitu yang mencapai puncak kedekatan diri dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jadi PR-nya kita para guru besar, mampu enggak kita menjadi ahli zikir? Tidak hanya menjadi ahlul ilmi. Profesor adalah ahlul ilmi, tapi tidak semua ahlul ilmi itu adalah ahluz zikri,” lanjutnya.
Selain kualitas, Menag juga menilai penambahan jumlah guru besar di PTKIN menjadi hal penting sebagai indikator penguatan daya saing perguruan tinggi.
“Penambahan guru besar menjadi indikator penting dalam memperkuat daya saing perguruan tinggi,” katanya.
Sementara itu, Rektor UIN Datokarama Prof. Lukman Thahir menegaskan komitmen kampus dalam mempercepat lahirnya guru besar baru. Ia menyebut, dalam masa kepemimpinannya, UIN Datokarama telah melahirkan enam guru besar.
“Kami terus mendorong peningkatan kualitas akademik, termasuk percepatan lahirnya guru besar sebagai bagian dari penguatan institusi,” ujarnya.
Prof. Lukman juga menambahkan bahwa UIN Datokarama tengah mengembangkan pendekatan “Mutiara Keilmuan” yang mengintegrasikan ilmu umum, agama, dan budaya.
“Kami juga memperluas kerja sama internasional untuk menarik mahasiswa asing mempelajari studi keislaman dan pluralisme di Indonesia,” pungkasnya.











