Nasional

Pemerintah Bangun 500 Sekolah Nasional Terintegrasi hingga 2029

Bambang Iskandar Martin
×

Pemerintah Bangun 500 Sekolah Nasional Terintegrasi hingga 2029

Sebarkan artikel ini
Taklimat Media Program Sekolah Nasinonal Terintegrasi. (Foto: Dok. Kemendikdasmen)

Byklik.com | Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menargetkan pembangunan 500 Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) secara bertahap hingga 2029 sebagai bagian dari upaya memperluas akses pendidikan bermutu dan mendorong pemerataan kualitas pendidikan di berbagai daerah di Indonesia.

Program tersebut merupakan tindak lanjut Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2026 tentang Percepatan Peningkatan Mutu Pendidikan melalui Program Sekolah Nasional Terintegrasi.

Pada tahun 2026, pemerintah menyiapkan pembangunan SNT di 37 lokasi. Sebanyak 17 lokasi ditargetkan mulai beroperasi pada Tahun Ajaran 2026/2027, sedangkan 20 lokasi lainnya memasuki tahap pembangunan dan direncanakan menerima peserta didik baru pada 2027.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mengatakan Program SNT tidak sekadar membangun sekolah baru, tetapi menghadirkan layanan pendidikan berkualitas yang lebih dekat dengan masyarakat sekaligus menjadi pusat pengembangan mutu pendidikan di daerah.

“SNT merupakan ikhtiar negara untuk mendekatkan layanan pendidikan bermutu kepada anak-anak di daerah, mengembangkan potensi, minat, bakat, karakter, dan talenta murid secara optimal, serta menjadi pusat pertumbuhan mutu bagi sekolah-sekolah di wilayah sekitarnya,” ujar Abdul Mu’ti di Jakarta, Senin, 20 Juli 2026.

Menurutnya, SNT mengintegrasikan jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) dalam satu ekosistem pendidikan yang berkelanjutan. Integrasi tersebut mencakup proses pembelajaran, pengembangan kompetensi guru, pembinaan karakter, pengembangan talenta peserta didik, pemanfaatan fasilitas bersama, hingga sistem penjaminan mutu.

Baca Juga  Bahlil Genjot Hilirisasi dan Energi demi Kemandirian Ekonomi

Abdul Mu’ti menjelaskan penyelenggaraan SNT bertumpu pada tiga transformasi utama, yaitu transformasi infrastruktur, transformasi sumber daya manusia, serta transformasi karakter dan pembelajaran.

Ia menegaskan, SNT dirancang sebagai pusat peningkatan mutu pendidikan yang mampu memberikan dampak bagi sekolah-sekolah di sekitarnya melalui laboratorium pembelajaran, pemanfaatan fasilitas bersama, pengimbasan praktik baik, pendampingan sekolah, serta peningkatan kompetensi guru secara berkelanjutan.

“Keberhasilan SNT tidak hanya diukur dari capaian murid yang belajar di dalamnya, melainkan juga dari semakin banyaknya guru yang berkembang keprofesioannya, meningkatnya kolaborasi antarsekolah, serta bertumbuhnya mutu pendidikan di wilayah tersebut,” katanya.

Untuk mendukung operasional 17 SNT yang mulai berjalan pada Tahun Ajaran 2026/2027, pemerintah telah menyiapkan kelas transisi di sejumlah lokasi, antara lain di kawasan Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kemendikdasmen, maupun fasilitas pendidikan yang disediakan pemerintah daerah.

Calon peserta didik yang diterima di SNT diprioritaskan berasal dari daerah tempat sekolah tersebut berada sehingga kehadiran program ini diharapkan benar-benar memperluas akses pendidikan bermutu bagi masyarakat setempat.

Kemendikdasmen menjadwalkan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) berlangsung pada 21–24 Juli 2026. Hasil seleksi akan diumumkan pada 3 Agustus 2026, sedangkan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dimulai pada 10 Agustus 2026.

Abdul Mu’ti mengimbau masyarakat memperoleh informasi mengenai Program SNT melalui kanal resmi Kemendikdasmen, pemerintah daerah, dinas pendidikan, maupun portal resmi SNT. Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mempercayai pihak-pihak yang menjanjikan kelulusan atau meminta imbalan di luar ketentuan yang berlaku.

Baca Juga  INTAN, Inovasi Taman Numerasi Berbasis Model Jepang

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, Pendidikan Nonformal, dan Informal, Gogot Suharwoto, mengatakan setiap SNT akan didukung berbagai fasilitas modern, seperti smart classroom, green school, laboratorium, perpustakaan digital, studio seni kreatif, pusat pengembangan guru, pusat olahraga, hingga layanan transportasi di wilayah kabupaten.

Menurut Gogot, setiap SNT akan menerapkan tiga lapis kurikulum, yakni kurikulum nasional, kurikulum kekhasan sekolah, dan kurikulum berbasis potensi lokal. Dengan pendekatan tersebut, setiap sekolah diharapkan memiliki keunggulan yang disesuaikan dengan karakteristik daerah, seperti bidang pertanian, perikanan, coding, kecerdasan artifisial, maupun potensi unggulan lainnya.

“Nantinya setiap SNT memiliki kekhasan sesuai potensi daerah masing-masing. Pendekatan pembelajaran berbasis STEAMS dipadukan dengan pembelajaran mendalam yang didukung digitalisasi pembelajaran dan pengayaan tingkat global,” ujar Gogot.

Deputi III Kantor Staf Presiden, Yan Hiksas, menyatakan Program Sekolah Nasional Terintegrasi merupakan wujud komitmen pemerintah dalam menyiapkan sumber daya manusia yang unggul, kreatif, inovatif, dan mampu bersaing di tingkat global.

Ia berharap kehadiran SNT dapat melahirkan lebih banyak generasi Indonesia yang mampu melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi terbaik dunia sekaligus berkontribusi terhadap pembangunan nasional.***