Byklik.com | Sabang — Ketua TP PKK Aceh Marlina Muzakir memuji kualitas buah naga hasil budidaya warga di Kota Sabang saat melakukan panen langsung di kebun milik Hendri di Gampong Ie Meule, Kecamatan Sukajaya, Minggu, 10 Mei 2026.
“Buah Naga Sabang, meucrop barang,” ujar Marlina yang akrab disapa Kak Na usai mencicipi buah naga yang dipanen bersama Ketua TP PKK Kota Sabang Nuri Zulkifli.
Ungkapan “meucrop” dalam bahasa Aceh kerap digunakan untuk menggambarkan makanan yang sangat nikmat.
Dalam kunjungan tersebut, Kak Na mengapresiasi kreativitas Hendri dan istrinya, Lisa Umami, yang berhasil memanfaatkan lahan kosong di samping rumah menjadi kebun buah naga bernilai ekonomi tinggi.

“Luar biasa Pak Hendri, kreativitas dan keuletannya bersama sang istri telah berhasil mengubah lahan tidur di sisi rumahnya menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi tinggi. Ini tentu bagus dan harus diduplikasi,” kata istri Gubernur Aceh itu.
Ia juga mengimbau masyarakat Sabang maupun daerah lain di Aceh untuk memanfaatkan lahan kosong dengan menanam komoditas produktif sesuai karakter tanah masing-masing daerah.
“Masyarakat lain harus meniru, tidak harus buah naga, bisa juga menanam buah-buahan lain yang sesuai dengan jenis tanah Sabang dan memiliki potensi ekonomi yang tinggi,” ujarnya.
Kak Na turut mengajak wisatawan dan masyarakat untuk datang langsung ke kebun buah naga tersebut dan menikmati sensasi memanen sendiri dari kebun.
“Untuk masyarakat Sabang dan para wisatawan yang berkunjung ke Sabang, mari datang ke kebun buah naga Pak Hendri. Datang, panen dan nikmati langsung di kebunnya. Buah naga nikmat dan murah meriah, hanya Rp25 ribu per kilogram,” katanya.
Sementara itu, Hendri mengaku produksi buah naga miliknya saat ini belum mampu memenuhi seluruh permintaan pasar lokal Sabang, apalagi untuk dipasarkan keluar daerah.
“Produksi kami belum bisa dikirim ke luar, karena untuk memenuhi kebutuhan Sabang saja belum mencukupi. Sekali panen hanya mencapai 200 sampai 300 kilogram,” ujarnya.
Menurut Hendri, rendahnya produksi dipengaruhi keterbatasan pupuk dan fasilitas lampu penerangan untuk mendukung rekayasa cahaya pada tanaman buah naga.
“Buah naga membutuhkan paparan cahaya minimal 14 jam per hari, sementara di daerah kita hanya sekitar 12 jam. Karena itu, lampu sangat penting untuk membantu proses fotosintesis dan meningkatkan produksi,” jelasnya.
Saat ini, Hendri bersama istrinya menanam sekitar 700 batang buah naga di lahan seluas lebih dari 5.000 meter persegi. Sebanyak 300 batang telah berproduksi, sedangkan 400 batang lainnya mulai berbunga.











