HeadlineOpini & Analisis

Iduladha dan Hakikat Penyembelihan

×

Iduladha dan Hakikat Penyembelihan

Sebarkan artikel ini
ilustrasi foto: risalahislam.com

Oleh Isra Masjida*

Gema takbir Iduladha di Tanah Aceh selalu membawa getaran yang berbeda. Bagi kita masyarakat Aceh, hari raya kurban bukan sekadar tanggal merah di kalender, melainkan sebuah peristiwa budaya dan spiritual yang agung. Ada kerinduan yang membuncah untuk pulang ke kampung halaman, berkumpul bersama keluarga besar, dan merayakan kebersamaan yang tak jarang terasa jauh lebih meriah dan khidmah ketimbang Idulfitri.

Tradisi meugang yang semarak, aroma kuah beulangong yang mengepul di pelataran masjid, hingga keriuhan anak-anak yang menyambut hari raya, adalah potret nyata betapa Iduladha telah menyatu dalam urat nadi kehidupan kita. Di sini, pelajaran adab tentang kesetaraan dan pemuliaan sesama terasa kian syahdu. Di hadapan kuali besar saat memasak bersama, atau di antrean halaman masjid, kita semua berdiri sama rendah.

Kebersamaan itu menjadi paripurna ketika paket-paket daging kurban tidak hanya ditunggu dalam antrean, tetapi diantar langsung, disebar ke pintu-pintu rumah warga. Tradisi mengantar langsung ini adalah bentuk penghormatan yang tulus—sebuah adab yang menjaga marwah penerimanya sekaligus merekatkan silaturahmi tanpa sekat. Melalui kearifan ini, si kaya, si miskin, sang pejabat, maupun rakyat jelata, pada akhirnya menikmati rasa syukur yang sama.

Namun, nilai-nilai luhur dari tradisi ini sejatinya adalah sebuah pengulangan pembelajaran dan momentum perbaikan (ishlah) yang berharga bagi diri kita setiap tahunnya. Mengapa pembelajaran ini harus terus diulang dan direnungkan kembali? Karena jika kita berani jujur menatap ke dalam lubuk hati dan kondisi sosial hari ini, kita sedang berada di tengah realitas hidup yang tidak mudah.

Kita sedang berjalan di tengah kondisi ekonomi yang dari hari ke hari rasanya semakin menjepit dengan harga-harga kebutuhan yang melambung tinggi, ditambah lagi riuhnya isu-isu sosial kenegaraan yang tak jarang membuat kita bingung, lelah, bahkan hampir merasa hopeless. Dalam situasi penuh ketidakpastian seperti inilah, ibadah kurban menjelma menjadi bukti yang teramat nyata tentang kualitas keimanan dan ketawakalan seorang hamba.

Ketika logika duniawi mendesak kita untuk bersikap kikir dan mengamankan diri sendiri, iman justru menuntun kita untuk melonggarkan genggaman tangan, percaya sepenuhnya bahwa rezeki tak pernah salah alamat, dan berani berkorban demi meraih rida-Nya. Keikhlasan yang tumbuh di tengah kesempitan hidup ini adalah sebuah ketulusan batin yang teramat indah.

Baca Juga  Prabowo Beli Sapi Kurban 1 Ton untuk Simeulue

Rangkaian prosesi ibadah haji dan kurban ini sesungguhnya adalah tapak tilas langkah kepatuhan Ibrahim dan keluarganya. Sebuah teladan agung tentang ketundukan total pada syariat Allah dan kerendahan hati yang meruntuhkan segala bentuk keangkuhan makhluk. Idul Adha hadir setiap tahun justru untuk melatih kita melipat sifat-sifat mementingkan diri, lalu meluruskan kembali kiblat kepatuhan kita pada kebenaran hakiki.

Namun, keindahan iman dan ketulusan berkorban yang sering kali lahir dari akar rumput ini, terkadang terasa kontras dengan apa yang kita saksikan di ruang-ruang publik kita yang lebih luas. Ketika masyarakat awam berjuang melipat kepentingan ekonominya demi sebuah kepatuhan, di level yang berbeda, kita justru kerap disuguhi pemandangan sebaliknya. Dalam dinamika kehidupan sehari-hari, betapa mudahnya kita memelihara kepentingan kelompok atau golongan. Ada kalanya, saat diamanahi sebuah tanggung jawab atau peran sosial, muncul riak-riak kecil syahwat kekuasaan yang membuat kita ingin selalu diutamakan.

Di waktu lain, dalam relasi keseharian, mungkin terselip keangkuhan diri yang membuat kita lebih menuntut hak ketimbang mengutamakan fitrah kesalingan yang harmonis. Bahkan, dalam ruang-ruang diskusi, kesombongan ilmu atau fanatisme pada akar budaya lokal terkadang hadir dalam wujud rasa paling benar, hingga tanpa sengaja kita merendahkan pemahaman sesama.

Sisi ironis dari sifat manusia adalah ketika benteng keakuan itu begitu kokoh kita pertahankan, kita justru cenderung melunak dan berkompromi saat berhadapan dengan nilai-nilai syariat. Aturan langit yang agung terkadang tanpa dasar kita sempitkan maknanya, seolah ia hanya sebatas urusan seremonial belaka—riuh dalam perayaan tahunan, namun belum sepenuhnya mewarnai perilaku dan adab kita sehari-hari. Kita begitu gigih menjaga gengsi keduniawian kita, namun begitu mudah melonggarkan batas-batas kepatuhan kita kepada Allah.

Baca Juga  Anggota DPR Kecam Razia Pelat BL oleh Gubsu, Minta Presiden Turun Tangan

Padahal, Allah Swt telah mengingatkan kita dengan penuh kelembutan dalam Al-Qur’an, bahwa esensi ibadah sama sekali tidak terletak pada kemegahan fisik atau seremonialnya, melainkan pada ketulusan yang ada di balik dada, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya…”(QS. Al-Hajj: 37).

Ayat ini adalah sebuah undangan indah bagi kita untuk memeriksa kembali ruang batin. Apakah hewan kurban yang kita sembelih sudah dibarengi dengan kesiapan untuk menundukkan keinginan-keinginan pribadi di hadapan hukum-Nya? Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin pernah mengulas tentang betapa halusnya penyakit keangkuhan batin (al-kibr). Sering kali, penyakit itu tidak tampak dari luar, melainkan bersembunyi di balik jubah jabatan, gelar keilmuan, atau status sosial. Momentum kurban inilah waktu yang paling tepat bagi kita untuk melakukan “penyembelihan spiritual” terhadap sifat-sifat tercela tersebut, agar hati kembali jernih dan fitrah.

Menyembelih sifat mementingkan diri sendiri berarti membuka diri untuk kembali patuh pada syariat-Nya secara utuh dan konsisten, bukan secara tebang pilih demi kenyamanan pribadi. Ia adalah sebuah latihan kejujuran dan integritas batin. Saat kita mampu melunakkan keegoisan diri, memperbaiki pemahaman yang keliru, dan merunduk dalam rasa syukur yang murni, di situlah esensi takwa yang sesungguhnya sedang kita hidupkan.

Pada akhirnya, kemeriahan hari raya kurban di tanah serambi ini akan menjadi paripurna bukan karena seberapa meriah tradisi yang kita gelar, bukan pula tentang seberapa banyak darah yang tumpah dari sembelihan-sembelihan kita. Melainkan, seberapa tulus kita menjadikan momentum ini sebagai ruang untuk berbenah, merajut kembali harmoni yang sempat renggang karena keangkuhan, dan kembali menegakkan nilai syariat dengan penuh kerendahan hati. Sebab kurban yang sejati adalah ketika kedirian kita mengecil, kesadaran ber-syariat kita membaik, serta kemuliaan adab kita tumbuh meninggi. Selamat Idul adha 1447 H.[]

*Penulis adalah seorang istri, ibu dari empat anak, guru mengaji, dan ASN di Aceh Tengah