Byklik.com | Takengon – Ribuan murid Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dari lima kecamatan di Kabupaten Aceh Tengah mengikuti prosesi adat Munyerahni Murid Ku Tengku Guru dalam rangka menyambut Tahun Ajaran 2026/2027 di Lapangan Musara Alun, Takengon, Rabu, 15 Juli 2026.
Prosesi tersebut menjadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya dilaksanakan secara terpusat dengan melibatkan ribuan peserta.
Murid yang mengikuti kegiatan berasal dari Kecamatan Bebesen, Pegasing, Lut Tawar, Bies, dan Kebayakan. Selain dipusatkan di Lapangan Musara Alun, prosesi adat serupa juga dilaksanakan secara serentak di seluruh sekolah di Kabupaten Aceh Tengah sebagai bagian dari tradisi masyarakat Gayo dalam menyambut peserta didik pada awal tahun ajaran baru.
Prosesi diawali dengan ritual tepung tawar yang dipimpin tokoh adat menggunakan bahasa Gayo dan disaksikan para orang tua atau wali murid. Tradisi tersebut menjadi simbol penyerahan tanggung jawab pendidikan anak dari orang tua kepada guru sekaligus bentuk penghormatan masyarakat Gayo terhadap profesi pendidik.
Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, mengatakan prosesi Munyerahni Murid Ku Tengku Guru bukan sekadar seremoni adat, tetapi merupakan warisan budaya yang mengandung nilai pendidikan, penghormatan kepada guru, serta penguatan sinergi antara keluarga, sekolah, dan pemerintah.
“Ini adalah hari yang sakral. Wali murid kelas satu wajib mengantar anak ke sekolah dan menyerahkannya secara adat kepada tengku guru, karena pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua, guru, dan pemerintah,” ujar Haili Yoga.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga dibangun melalui kerja sama yang baik antara orang tua, guru, dan pemerintah dalam membimbing serta membentuk karakter anak.
Ia menegaskan, setiap orang tua tentu menginginkan anaknya tumbuh menjadi pribadi yang sukses. Oleh karena itu, penghormatan kepada orang tua dan guru harus terus ditanamkan sebagai bagian dari pendidikan karakter sejak dini.
“Guru membimbing tanpa pamrih dan senantiasa mendoakan murid-muridnya. Jangan pernah menyakiti atau meremehkan guru, karena guru adalah pelita dalam kehidupan dan jalan menuju masa depan anak-anak kita,” katanya.
Haili Yoga berharap nilai-nilai adat dan ajaran agama yang telah lama mengakar dalam kehidupan masyarakat Gayo tetap dipertahankan sebagai fondasi dalam membentuk generasi muda yang berakhlak mulia, berkarakter, serta memiliki daya saing.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Tengah, Salimsyah, mengatakan pelaksanaan prosesi adat tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah melestarikan budaya lokal yang selaras dengan penguatan pendidikan karakter di lingkungan sekolah.
Menurutnya, tradisi tersebut mengandung pesan moral bahwa keberhasilan pendidikan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat.
Kegiatan tersebut turut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), para kepala sekolah, guru, tokoh adat, tokoh agama, serta orang tua atau wali murid.
Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah berharap tradisi Munyerahni Murid Ku Tengku Guru terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai identitas budaya masyarakat Gayo sekaligus memperkuat kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan pemerintah dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas di Tanoh Gayo.***











