Byklik.com | Banda Aceh – Setelah setahun “tertidur”, Gedung Amanah di Ladong, Aceh Besar, kembali hidup. Re-launching yang digelar menjadi penanda kebangkitan Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul dan Hebat (Amanah), sekaligus membuka kembali ruang bagi anak muda Aceh untuk tumbuh, berkreasi, dan berinovasi.
Kebangkitan ini bukan tanpa cerita. Selama satu tahun terakhir, aktivitas Amanah sempat terhenti akibat kerusakan fasilitas gedung serta proses transformasi organisasi menjadi yayasan resmi.
Ketua Yayasan Amanah, Syaifullah Muhammad, menyebut momen ini sebagai titik balik penting.
“Ini bukan sekadar peresmian ulang. Kami sedang membangun kembali fondasi organisasi dengan semangat baru,” ujarnya, Kamis, 23 April 2026.
Dengan mengusung tagline “Amanah: Restart and Rise”, kebangkitan ini diharapkan menjadi awal konsolidasi sekaligus arah baru gerakan anak muda di Aceh.
Meski sempat vakum, secara konsep Gedung Amanah tidak banyak berubah sejak diresmikan Presiden Joko Widodo pada 2024. Hanya sejumlah bagian yang diperbaiki untuk memastikan fasilitas kembali layak digunakan.
“Sekarang fokus kami bagaimana fasilitas ini bisa dimanfaatkan secara maksimal,” kata Syaifullah.
Gedung ini memang dirancang sebagai ruang terpadu. Di dalamnya terdapat berbagai fasilitas—mulai dari green house, bioflok, rumah teknologi, laboratorium nilam, hingga studio kreatif seperti podcast, musik, dan fotografi. Ada pula ruang produksi parfum, rumah kopi, hingga fasilitas olahraga.
Semua itu bukan sekadar pelengkap, melainkan ekosistem untuk menjawab kebutuhan anak muda lintas bidang—dari pertanian modern hingga industri kreatif dan teknologi.
Syaifullah menyebut, sekitar 30 ribu anak muda pernah terhubung dengan Amanah. Namun saat ini, pihaknya tengah melakukan pendataan ulang agar keterlibatan mereka lebih terarah dan aktif.
“Yang penting bukan hanya jumlah, tapi bagaimana mereka bisa benar-benar berproses dan berkembang,” ujarnya.
Seiring dengan itu, berbagai program mulai disiapkan. Mulai dari budidaya melon dan anggur, penggemukan sapi, budidaya lele bioflok, hingga hilirisasi nilam. Di sektor kreatif, Amanah juga mendorong produksi konten, pengembangan kopi dan café, serta pelatihan menjahit dan fashion.
Langkah ini menegaskan bahwa Amanah tidak hanya ingin bangkit secara simbolik, tetapi juga menghadirkan program yang berdampak langsung.
Di balik itu semua, ada harapan yang lebih besar: menjadikan Amanah sebagai pusat kolaborasi dan jaringan anak muda, tidak hanya di Aceh, tetapi juga di tingkat nasional hingga internasional.
“Harapan kami, Amanah bisa menjadi ruang konsolidasi, melahirkan program yang implementatif, dan membangun jejaring yang lebih luas,” kata Syaifullah.
Gedung Amanah kini bukan sekadar bangunan yang kembali dibuka, tetapi ruang yang kembali bernyawa—tempat harapan, ide, dan masa depan anak muda Aceh dirancang ulang.











