Byklik.com | Jakarta – Anggota Komisi VI DPR RI Rivqy Abdul Halim mendukung rencana pembangunan jaringan kereta api terintegrasi dari Banda Aceh hingga Bandar Lampung yang digagas PT Kereta Api Indonesia (KAI) sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Namun, ia menegaskan proyek tersebut harus dilaksanakan secara bertahap dan berdasarkan kebutuhan riil masyarakat serta dunia usaha.
Menurut politisi yang akrab disapa Gus Rivqy itu, pembangunan rel lintas Sumatra berpotensi memperkuat konektivitas antarwilayah, menekan biaya logistik, dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Meski demikian, pemerintah dan KAI diminta memastikan jalur yang sudah ada dapat berfungsi secara optimal sebelum membangun jaringan baru dalam skala besar.
“Kita mendukung penuh visi Presiden untuk menghadirkan konektivitas rel yang terintegrasi dari Banda Aceh hingga Bandar Lampung. Namun pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada panjang jalur yang dibangun,” kata Gus Rivqy dalam keterangannya, Minggu, 7 Juni 2026.
Ia menilai sejumlah layanan kereta api di Sumatra masih menghadapi tantangan terkait kecepatan perjalanan, kapasitas, dan tingkat pemanfaatan. Beberapa koridor eksisting, seperti Lampung–Palembang dan Palembang–Lubuk Linggau, dinilai masih memerlukan penguatan agar mampu menjadi tulang punggung mobilitas penumpang dan distribusi barang.
“Jangan sampai kita berbicara membangun ribuan kilometer rel baru, sementara pada beberapa jalur eksisting kereta masih bergerak relatif lambat dan utilisasinya belum maksimal,” ujarnya.
Gus Rivqy juga mengingatkan bahwa jaringan perkeretaapian di Sumatra selama ini masih didominasi angkutan barang, terutama untuk komoditas tambang dan logistik. Karena itu, pembangunan rel lintas Sumatra harus mampu menciptakan keseimbangan antara layanan angkutan barang dan penumpang.
Menurutnya, kehadiran jaringan kereta api terpadu di Sumatra harus dapat membuka akses ekonomi daerah, mendukung sektor pariwisata, serta menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan baru di berbagai wilayah.
Selain itu, ia menilai pembangunan rel lintas Sumatra perlu disinergikan dengan infrastruktur lain, termasuk Jalan Tol Trans Sumatra yang hingga kini masih terus dikembangkan dan belum optimal di sejumlah ruas.
“Pembangunan rel lintas Sumatra harus benar-benar didasarkan pada perencanaan yang terintegrasi, proyeksi permintaan yang kuat, serta kemampuan pembiayaan yang terukur,” katanya.
Gus Rivqy mendorong pemerintah dan KAI menyusun peta jalan yang jelas, dimulai dari optimalisasi jalur yang sudah ada, peningkatan kecepatan perjalanan, pembangunan jalur penghubung yang mendesak secara ekonomi, hingga mewujudkan konektivitas penuh Banda Aceh–Bandar Lampung secara bertahap.
Ia menegaskan keberhasilan proyek rel lintas Sumatra nantinya harus diukur dari manfaat yang dirasakan masyarakat dan dunia usaha, bukan semata-mata dari panjang rel yang berhasil dibangun.









