Byklik.com | Jakarta – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah mengerahkan sebanyak 3.719 relawan kesehatan untuk mendukung pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak bencana di Provinsi Aceh. Pengerahan relawan dilakukan sejak awal kejadian bencana guna memastikan layanan kesehatan tetap berjalan secara optimal di seluruh wilayah terdampak.
Seluruh relawan kesehatan dimobilisasi dan dikoordinasikan melalui Health Emergency Operation Center (HEOC) sesuai dengan prosedur penanganan bencana Kementerian Kesehatan. Berdasarkan laporan kumulatif Sub Klaster Pelayanan Kesehatan, relawan tersebar di 18 kabupaten/kota serta tingkat provinsi, dengan jumlah terbanyak berada di Kabupaten Pidie Jaya sebanyak 1.065 orang dan Kabupaten Aceh Tamiang sebanyak 923 orang.
HEOC dibentuk sejak hari pertama hingga hari ketiga pascabencana di seluruh wilayah terdampak. Pusat kendali ini berperan dalam melakukan analisis kebutuhan tenaga kesehatan serta mengatur pergerakan, distribusi, dan alokasi relawan agar pelayanan kesehatan dapat berjalan secara efektif, merata, dan berkelanjutan.
Sejak hari kedua bencana, relawan kesehatan mulai ditempatkan di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan. Hingga saat ini, layanan kesehatan diberikan melalui sekitar 309 puskesmas, 23 rumah sakit pemerintah, termasuk RSUD serta rumah sakit TNI/Polri dan 377 pos kesehatan yang menjangkau 1.008 pos pengungsian.
Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan, Agus Jamaludin, menyampaikan bahwa koordinasi lintas sektor yang intensif menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlangsungan layanan kesehatan di wilayah terdampak.
“Kementerian Kesehatan mengerahkan seluruh potensi tenaga kesehatan yang tersedia dan terus memantau distribusi relawan agar bantuan dapat menjangkau setiap daerah sesuai dengan kebutuhannya,” ujar Agus, Senin, 5 Januari 2026.
Ia menambahkan bahwa tantangan utama saat ini adalah memastikan sistem rotasi relawan berjalan dengan baik tanpa mengganggu kontinuitas pelayanan kesehatan di fasilitas layanan.
“Dengan rata-rata masa tugas relawan selama 10 hingga 12 hari, penugasan diatur agar setiap fasilitas pelayanan kesehatan tetap memiliki tenaga kesehatan setiap saat,” jelasnya.
Dari sisi komposisi profesi, relawan kesehatan didominasi oleh tenaga medis lapangan. Perawat menjadi profesi terbanyak dengan 923 orang, disusul tenaga kesehatan lainnya sebanyak 766 orang, dokter umum 736 orang, dan dokter spesialis 264 orang. Selain itu, terdapat 179 apoteker, 124 bidan, serta 350 tenaga nonkesehatan yang mendukung operasional layanan.
Berbagai profesi pendukung turut diterjunkan, antara lain tenaga sanitasi lingkungan, logistik, gizi, psikologi klinis, hingga entomolog kesehatan, guna memastikan pelayanan kesehatan di lokasi pengungsian berjalan secara komprehensif.
Berdasarkan asal instansi, mayoritas relawan berasal dari unsur pemerintah sebanyak 2.399 orang. Dukungan juga diberikan oleh kalangan akademisi sebanyak 780 orang, NGO/LSM 307 orang, serta organisasi profesi 233 orang.
Kementerian Kesehatan terus berkomitmen untuk memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat terdampak bencana serta memperkuat koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan dalam penanganan krisis kesehatan.***











