Byklik.com | Banda Aceh – Universitas Syiah Kuala (USK) bersama UN Women Indonesia mendorong lahirnya kebijakan iklim yang responsif gender di Aceh melalui pelatihan Training of Trainers (ToT) Advokasi Kebijakan Gender dan Perubahan Iklim yang digelar 9–11 April 2026 di Banda Aceh.
Kegiatan yang dilaksanakan melalui Pusat Riset Perubahan Iklim Aceh/Aceh Climate Change Initiative (PRPIA-ACCI) ini menargetkan penguatan kapasitas pemangku kepentingan dalam mengintegrasikan perspektif gender ke dalam kebijakan iklim berbasis data.
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, menegaskan bahwa kebijakan iklim tidak boleh mengabaikan dimensi gender.
“Kebijakan pemerintah kota harus melihat keterkaitan antara gender dan perubahan iklim. Pengambilan keputusan juga harus berbasis data dengan mempertimbangkan dampak yang berbeda terhadap setiap kelompok,” ujarnya.
Data ACCI tahun 2025 menunjukkan perempuan di Aceh masih menghadapi hambatan struktural dalam akses sumber daya, layanan, dan ruang partisipasi dalam isu perubahan iklim dan transisi energi.
Programme Manager UN Women Indonesia, Iriantoni Almuna, menekankan pentingnya peran perempuan dalam ketahanan iklim.
“Penguatan kepemimpinan perempuan melalui kebijakan responsif gender menjadi kunci dalam mendorong ketahanan iklim dan pengurangan risiko bencana,” katanya.
Ketua LPPM USK, Mudatsir, menambahkan bahwa krisis iklim juga berdampak sosial dan paling dirasakan kelompok rentan.
“Perempuan dan anak-anak sering menjadi kelompok paling terdampak. Mereka harus dilibatkan sebagai bagian dari solusi, bukan hanya korban,” ujarnya.
Kepala ACCI USK, Suraiya Kamaruzzaman, menegaskan perempuan merupakan aktor strategis dalam menjaga ketahanan keluarga dan lingkungan.
“Perempuan bukan hanya terdampak, tetapi bagian penting dari solusi. Mengabaikan mereka berarti mengabaikan solusi itu sendiri,” tegasnya.
Sebanyak 22 peserta dari akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan pemerintah daerah mengikuti pelatihan ini sebagai bagian dari program global EmPower II: Women for Climate-Resilient Societies.
Program tersebut dijalankan UN Women bersama UNEP dengan dukungan sejumlah negara donor untuk memperkuat aksi iklim yang inklusif dan berkeadilan di tingkat lokal.











