Berita Utama

Kakao Jadi Urat Nadi Ekonomi Aceh Tenggara

Bambang Iskandar Martin
×

Kakao Jadi Urat Nadi Ekonomi Aceh Tenggara

Sebarkan artikel ini
Bupati Aceh Tenggara M. Salim Fakhry saat membuka Lokakarya Duek Pakat Kakao Aceh XIII di Oproom Sekretariat Daerah Kabupaten (Setdakab) Aceh Tenggara, Sabtu, 8 Agustus 2026. (Foto: Diskominfo Aceh Tenggara)

Byklik.com | Kutacane – Komoditas kakao menjadi salah satu andalan perekonomian masyarakat di Kabupaten Aceh Tenggara. Tanaman perkebunan tersebut disebut memiliki peran penting dalam menopang kehidupan ekonomi puluhan ribu keluarga di daerah itu.

Hal tersebut disampaikan Bupati Aceh Tenggara M. Salim Fakhry saat membuka Lokakarya “Duek Pakat” Kakao Aceh XIII di Oproom Sekretariat Daerah Kabupaten (Setdakab) Aceh Tenggara, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Lokakarya yang mengusung tema “Revitalisasi Kakao Aceh Berbasis Agroforestri Berkelanjutan Menuju Hilirisasi Tangguh” tersebut menjadi forum untuk membahas pengembangan kakao Aceh, mulai dari budi daya, keberlanjutan perkebunan, penguatan rantai pasok, hingga hilirisasi.

Salim Fakhry mengatakan kakao Aceh Tenggara memiliki potensi yang perlu terus dikembangkan. Ia juga menyampaikan apresiasi terhadap kualitas biji kakao daerah tersebut yang disebut telah mendapat pengakuan di tingkat internasional.

“Komoditas kakao bukan sekadar tanaman perkebunan biasa, tetapi merupakan urat nadi perekonomian bagi puluhan ribu keluarga di Kabupaten Aceh Tenggara,” ujar Salim.

Menurutnya, pengembangan kakao perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. Dengan demikian, perkebunan kakao diharapkan dapat terus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat dalam jangka panjang.

Baca Juga  Bupati Aceh Tenggara Lepas 145 Mahasiswa KKN UGL

Selain meningkatkan produksi, Salim menilai penguatan rantai pasok dan hilirisasi menjadi aspek penting yang perlu mendapat perhatian. Pengelolaan komoditas dari sektor hulu hingga hilir dinilai dapat membuka peluang peningkatan nilai tambah bagi produk kakao dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi petani.

“Kita harus menjaga keberlanjutan perkebunan kakao sekaligus memperkuat rantai pasok dan hilirisasi agar manfaat ekonominya dapat dirasakan secara lebih luas dan adil oleh petani,” ujarnya.

Ia mengajak pemerintah, pelaku usaha, petani, mitra pembangunan, serta pemangku kepentingan lainnya untuk memperkuat kerja sama dalam mengembangkan komoditas kakao Aceh Tenggara.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh Azanuddin Kurnia menyampaikan dukungannya terhadap pelaksanaan Duek Pakat Kakao Aceh XIII.

Menurut Azanuddin, forum tersebut menjadi salah satu ruang untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, mitra pembangunan, pelaku usaha, dan narasumber dalam mendorong pengembangan komoditas kakao di Aceh.

“Distanbun Aceh sangat mendukung kegiatan ini karena merupakan bagian dari kolaborasi bersama para mitra dan narasumber,” ujarnya.

Ia berharap lokakarya tersebut dapat menghasilkan gagasan dan langkah yang mendukung peningkatan produktivitas, keberlanjutan perkebunan, serta penguatan rantai nilai kakao di Aceh.

Baca Juga  Angin Kencang Rusak 35 Huntara Korban Banjir di Langkahan

Salah satu pendekatan yang menjadi perhatian dalam lokakarya tersebut adalah pengembangan kakao berbasis agroforestri. Pendekatan ini diarahkan untuk mempertemukan kepentingan peningkatan produktivitas perkebunan dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan.

Penguatan hilirisasi juga menjadi bagian dari pembahasan untuk mendorong agar komoditas kakao tidak hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah, tetapi memiliki nilai tambah yang lebih besar melalui pengolahan dan pengembangan produk turunannya.

Lokakarya Duek Pakat Kakao Aceh XIII turut dihadiri Ketua DPRK Aceh Tenggara Deni Febrian Roza, Kapolres Aceh Tenggara AKBP Rujiyanto Dwi Purnomo, Sekretaris Daerah Aceh Tenggara Yusrizal, para asisten, camat, serta kepala organisasi perangkat daerah (OPD).

Hadir pula anggota DPRA Yahdi Hasan Ramud, Kepala Cabang Bank Aceh Doni Rachman, Kepala Distanbun Aceh Azanuddin Kurnia, perwakilan Direktorat Jenderal Perkebunan Abdul Roni Angkat, Direktur BPDLH Joko Tri Haryanto, serta Ketua Umum Forum Kakao Aceh (FKA) Lilis Indriansyah.

Melalui forum tersebut, para pemangku kepentingan mendorong penguatan koordinasi dalam pengembangan kakao Aceh. Pengembangan komoditas ini diharapkan tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan peningkatan nilai tambah bagi petani.***