

Jika Anda suka bertualang di alam liar, menjelajahi kawasan ekosistem Suaka Margasatwa Rawa Singkil bisa menjadi salah satu bucket list untuk dikunjungi. SM Rawa Singkil merupakan kawasan konservasi hutan rawa gambut terluas dan terpenting di Provinsi Aceh. Kawasan ini ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 166/Kpts-II/1998 dan menjadi bagian integral dari Ekosistem Leuser. Lae Treup adalah destinasi favorit di Rawa Singkil yang berada di wilayah Singkil dan berbatasan dengan Kota Subulussalam. Kawasan ini dikenal dengan sebutan Amazon-nya Aceh.

Titik perjalanan menuju Lae Treup SM Rawa Singkil dimulai dengan menaiki sampan (robin) dari Desa Ranto Gedang atau Desa Teluk Rumbia. Bisa juga dari Stasiun Pemantauan dan Wisata Alam Teluk Rumbia yang dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh yang berada di percabangan antara Sungai Singkil dengan jalur menuju ke Lae Treup. Para wisatawan lokal dikenakan tiket masuk Rp37.500 per individu. Adapun harga sewa perahu hanya Rp100 ribu per individu, belum termasuk jasa pemandu.


Kawasan ini menjadi rumah bagi populasi orang utan, berbagai jenis burung, dan anggrek. Vegetasinya didominasi oleh tanaman rawa gambut yang khas. Airnya berwarna cokelat kemerahan hingga kehitaman mirip cairan teh pekat karena tingginya kandungan senyawa organik terlarut yang terbentuk dari proses pembusukan seperti ranting dan dedaunan. SM Rawa Singkil memiliki fungsi hidrologi dan penyimpan karbon. Lae Treup di kawasan RM Rawa Singkil sejak lama menjadi penopang sumber pangan dan ekonomi bagi warga setempat. Kawasan ini menjadi rumah bagi aneka ikan rawa yang bernilai ekonomi. Namun, sejak menjadi kawasan konservasi, masyarakat tidak bisa sembarangan lagi beraktivitas di kawasan tersebut.

Salah satu yang menjadi ciri khas sekaligus daya pikat Lae Treup adalah vegetasi bakung air (Hanguana malayana [gambar atas]) dan pohon kalas (sejenis palem [gambar bawah]). Wisatawan menyusuri “hutan” bakung yang lebat. Di beberapa titik terdapat plang peringatan keberadaan buaya rawa. Sarang-sarang orang utan terlihat dengan jelas di sejumlah pohon yang ada di jalur lintasan. Jika beruntung, bisa melihat langsung orang utan yang bertengger di pepohonan. Burung-burung terbang dengan bebas. 


Titik terjauh yang dilalui untuk mengeksplorasi Lae Treup adalah tiba di sebuah pondok yang berada di tengah-tengah rawa. Kawasan ini sudah berada di areal wilayah Kota Subulussalam. Pondok ini sering digunakan sebagai tempat beristirahat/bermalam oleh warga yang mencari ikan di Lae Treup. Perjalanan dari Teluk Rumbia hingga pondok ini menghabiskan waktu sekitar dua jam perjalanan.
Perjalanan menyusuri Sungai Singkil dan Lae Treup lebih dari sekadar memberikan pengalaman berwisata untuk memperoleh kesenangan yang dapat memacu adrenalin. Berada di tempat ini, memberikan kesempatan bagi kita untuk melihat alam dari sudut pandang yang berbeda. Bawah selain manusia, juga terdapat flora dan fauna yang membutuhkan kawasan sebagai tempat tinggal. Di sisi lain, membuka kesadaran kita, bahwa tanpa keseimbangan ekosistem, manusia tidak akan dapat bertahan hidup.











