Internasional

F1 Kembali ke Malaysia, Penonton Terjebak Kemacetan Parah

Avatar
×

F1 Kembali ke Malaysia, Penonton Terjebak Kemacetan Parah

Sebarkan artikel ini
Penggemar meninggalkan lokasi setelah sesi kualifikasi Formula 1 Grand Prix Bahrain di Sepang, Malaysia, pada 3 Oktober 2026. [Foto: AFP]

Byklik.com | Kuala Lumpur – Gelaran Formula 1 (F1) di Sirkuit Internasional Sepang, Malaysia, diwarnai kemacetan parah dan antrean transportasi hingga berjam-jam pada sesi latihan dan kualifikasi, 2–3 Oktober 2026.

Sejumlah penonton bahkan terpaksa berjalan kaki hingga belasan kilometer untuk mencapai lokasi parkir maupun titik transportasi setelah bus antar-jemput terjebak kemacetan di sekitar sirkuit.

Seorang bankir, Mohd Khalimi Ashraf Mohamed Rethuan, 43, mengatakan dirinya bersama istrinya harus berjalan sekitar 11 kilometer dari Sirkuit Internasional Sepang menuju Mitsui Outlet Park tempat mereka memarkir kendaraan.

“Bus tidak bisa datang sama sekali karena terjebak kemacetan. Orang-orang sampai mengejar bus seperti dalam film zombie,” kata Khalimi kepada The Straits Times.

Menurut dia, kondisi transportasi pada hari pertama sesi F1 berlangsung sangat kacau. Ia juga menilai pengaturan lalu lintas dan koordinasi petugas di lapangan belum berjalan baik.

“Benar-benar kacau, seperti tidak ada perencanaan. Tidak ada pengelolaan yang baik. Bahkan petugas polisi terlihat bingung dan tidak tahu harus berbuat apa,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan penonton lainnya. Amir ‘Arif Azmi, 34, seorang pejabat hukum, mengaku harus berjalan sekitar tujuh kilometer setelah sesi berakhir pada pukul 17.00 waktu setempat.

Ia baru tiba di rumah sekitar pukul 23.30. Padahal, perjalanan tersebut biasanya hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam.

“Setiap kali bus datang, orang-orang langsung berdesakan meskipun bus belum berhenti. Mereka frustrasi, bahkan ada yang memukul bus dan berteriak kepada pengemudi,” kata Amir.

Menurut dia, sejumlah penonton lain juga memilih berjalan kaki. Bahkan beberapa di antaranya terpaksa berhenti di pinggir jalan karena mengalami kram.

Kondisi tersebut terjadi setelah Malaysia kembali menjadi tuan rumah F1 untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun. Gelaran itu kembali ke Sepang setelah Grand Prix Bahrain dipindahkan ke Malaysia dalam waktu relatif singkat akibat situasi geopolitik di Timur Tengah.

Baca Juga  Trump Gertak Iran, Targetkan Pulau Kharg

Masalah transportasi semakin kompleks karena hanya kendaraan layanan transportasi daring tertentu yang diizinkan menaikkan dan menurunkan penumpang di area sirkuit. Pada saat bersamaan, kemacetan dan penutupan sejumlah ruas jalan membuat akses keluar-masuk kawasan Sepang semakin sulit.

Sejumlah pihak bahkan menawarkan jasa angkutan sepeda motor secara tidak resmi melalui media sosial dengan tarif RM25 hingga RM50 untuk perjalanan antara sirkuit dan lokasi parkir yang ditentukan.

Keluhan penonton juga menyangkut ketersediaan air minum. Antrean panjang dilaporkan terjadi di sejumlah titik, sementara beberapa fasilitas air minum disebut tidak berfungsi di tengah cuaca panas.

Sebagian penonton bahkan menjual kembali tiket mereka dengan harga lebih rendah setelah melihat kepadatan pengunjung.

Operator bus Rapid KL yang mengerahkan 95 bus selama gelaran F1 mengatakan telah melakukan perubahan pengaturan pada 3 Oktober setelah menerima masukan dari penonton.

Perubahan dilakukan bersama pengelola Sirkuit Internasional Sepang dan sejumlah lembaga terkait, terutama untuk memperbaiki titik penjemputan dan penurunan penumpang.

Pihak Sirkuit Internasional Sepang juga menyatakan terus berkoordinasi dengan mitra transportasi dan otoritas terkait untuk memperkuat pengaturan lalu lintas, bus antar-jemput, serta pergerakan penonton.

“Pengalaman dan keselamatan para penggemar tetap menjadi prioritas utama kami di Sirkuit Internasional Sepang,” demikian pernyataan pihak sirkuit pada 3 Oktober.

Khalimi mengatakan kondisi pada 3 Oktober sedikit membaik dibandingkan hari sebelumnya. Namun, penonton masih harus menunggu sekitar dua jam untuk mendapatkan bus.

Amir juga menyebut antrean lebih tertib setelah sesi berakhir pada 3 Oktober. Meski demikian, ia tetap membutuhkan waktu sekitar dua jam sebelum berhasil naik bus.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan Malaysia menjadi tuan rumah F1 apabila ajang tersebut kembali digelar secara permanen di Sepang.

Baca Juga  Mantan Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi Tutup Usia

Kelompok pemerhati transportasi Transit Malaysia menilai persoalan yang terjadi menunjukkan adanya keterbatasan kapasitas dan lemahnya pengelolaan massa.

“Kondisinya sederhana, jumlah bus tidak mencukupi dan pengelolaan massa buruk. Tidak ada pengaturan antrean yang baik untuk proses naik bus sehingga waktu tunggu menjadi terlalu lama,” kata salah seorang pendiri Transit Malaysia, M. Zulkarnain Hamzah.

Ia mengatakan kualitas layanan transportasi selama gelaran F1 belum memadai, baik dari sisi kapasitas bus, frekuensi perjalanan maupun keandalannya.

“Koordinasi jelas masih kurang,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Sirkuit Internasional Sepang Azhan Shafriman Hanif sebelumnya mengatakan pihaknya hanya memiliki waktu kurang dari dua bulan untuk mempersiapkan gelaran tersebut.

Waktu persiapan itu jauh lebih singkat dibandingkan penyelenggaraan F1 normal yang biasanya membutuhkan enam hingga tujuh bulan.

“Ini menjadi momen yang penuh naik turun bagi kami semua,” kata Azhan seperti dikutip media lokal.

Hingga 30 September 2026, hampir 100.000 tiket telah terjual. Jumlah tersebut menjadi rekor penjualan tiket di Sirkuit Internasional Sepang.

Bagi sebagian penonton, persoalan transportasi dan pengelolaan massa menjadi catatan serius di tengah antusiasme Malaysia menyambut kembali ajang balap mobil paling bergengsi tersebut.

Khalimi berharap persoalan itu segera dibenahi jika Malaysia kembali menjadi tuan rumah F1.

“Ini merupakan kesempatan besar untuk membuktikan bahwa F1 masih menjadi bagian penting dari Malaysia dan mudah-mudahan bisa kembali secara permanen. Itu dapat mendatangkan lebih banyak penonton serta memberikan manfaat besar bagi pariwisata, perhotelan, maskapai penerbangan, makanan dan minuman, serta dunia usaha,” katanya.

Menurut dia, pengelolaan massa menjadi persoalan paling mendesak yang harus diperbaiki.

“Pengelolaan massa adalah masalah terbesar. Mereka harus memastikan hal seperti ini tidak terjadi lagi,” ujarnya.