Teknologi & Sains

Wamenkomdigi Ingatkan Ancaman Kuantum Mengintai Data Indonesia

Avatar
×

Wamenkomdigi Ingatkan Ancaman Kuantum Mengintai Data Indonesia

Sebarkan artikel ini
Nezar dalam ITSEC Cyber & AI Academy Grand Launching di Jakarta Selatan, Senin, 10 Agustus 2026. [Foto: Komdigi]

Byklik.com | Jakarta – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengingatkan Indonesia menghadapi ancaman baru terhadap keamanan data seiring perkembangan teknologi komputasi kuantum.

Menurut Nezar, pelaku siber dapat mencuri dan menyimpan data terenkripsi untuk dibuka pada masa mendatang ketika teknologi komputasi kuantum telah mampu memecahkan sistem enkripsi yang digunakan saat ini. Pola tersebut dikenal sebagai harvest now, decrypt later.

Nezar menjelaskan, dalam skema tersebut pelaku tidak harus langsung membuka data yang berhasil dicuri. Data terenkripsi dapat disimpan hingga tersedia teknologi yang mampu mendekripsinya.

“Ada data-data yang sudah mereka curi, mereka enggak bisa buka, karena sudah ada enkripsinya. Cuma data itu dia simpan, diambil,” ujar Nezar dalam ITSEC Cyber & AI Academy Grand Launching di Jakarta Selatan, Senin, 10 Agustus 2026.

Menurutnya, ancaman tersebut mengubah cara pandang terhadap keamanan data. Perlindungan informasi tidak cukup hanya mengandalkan sistem kriptografi yang dirancang untuk menghadapi kemampuan komputasi saat ini.

Karena itu, Indonesia perlu mulai menyiapkan sistem keamanan yang mampu menghadapi perkembangan teknologi kuantum. Salah satunya melalui penerapan post-quantum cryptography atau kriptografi pascakuantum.

Baca Juga  Nezar: Indonesia Bukan Lagi Sekadar Pasar Teknologi AI Global

“Kita juga harus bersiap-siap, terutama untuk keamanan data kita, untuk sistem kriptografi kita, itu adalah post-quantum cryptography,” tegasnya.

Nezar menilai persiapan tersebut perlu dilakukan sejak sekarang. Sebab, data yang dicuri dan disimpan pelaku masih dapat memiliki nilai pada masa mendatang ketika teknologi untuk membukanya semakin berkembang.

Perubahan lanskap ancaman siber tersebut juga mendorong Kementerian Komunikasi dan Digital mengubah pendekatan dalam pembangunan sistem digital. Salah satu prinsip yang ditekankan adalah security by design, yakni menempatkan aspek keamanan sejak tahap awal perencanaan dan pembangunan sistem.

Security harus sudah masuk dalam perencanaan,” kata Nezar.

Pengalaman serangan ransomware terhadap Pusat Data Nasional Sementara atau PDNS 2 pada Juni 2024 menjadi salah satu pelajaran penting bagi pemerintah dalam mengevaluasi arsitektur keamanan siber.

Di sisi lain, ancaman siber juga semakin kompleks seiring perkembangan kecerdasan artifisial. Nezar mengatakan AI dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pertahanan sekaligus digunakan untuk melancarkan serangan siber.

Baca Juga  Kemkomdigi dan JICA Perkuat Talenta AI untuk Dukung Prioritas Nasional

Perkembangan agentic AI bahkan memungkinkan serangan dilakukan secara otomatis tanpa sepenuhnya bergantung pada peretas manusia.

“Yang bekerja bukan lagi hacker, tapi agentic AI yang melakukan serangan-serangan siber itu,” ungkapnya.

Menghadapi perubahan tersebut, Nezar menilai Indonesia membutuhkan talenta digital yang mampu memahami perkembangan keamanan siber dan teknologi baru.

Pemerintah memperkirakan kebutuhan talenta digital Indonesia mencapai sekitar sembilan juta orang pada 2030. Sementara itu, kemampuan menghasilkan talenta digital saat ini masih berada di kisaran tiga juta lebih.

Karena itu, Nezar menilai kehadiran ITSEC Cyber & AI Academy dapat menjadi jembatan antara perkembangan teknologi di industri dan kompetensi yang dipelajari di perguruan tinggi.

“Tanpa talent yang kuat, saya kira kekayaan data kita pada akhirnya akan berserak ke mana-mana dan akan dicuri, akan dibaca, akan di-capture oleh mereka yang lebih powerful,” tandasnya.