Ekonomi & BisnisTeknologi & Sains

Digitalisasi Dinilai Penting Dorong Pertumbuhan F&B Aceh

Raudhatul
×

Digitalisasi Dinilai Penting Dorong Pertumbuhan F&B Aceh

Sebarkan artikel ini
Kegiatan Geek Talk bertema From Coffee Culture to F&B Industry yang diadakan di Coffee and Grill by Simpang Lima, Banda Aceh, Sabtu, 19 September 2026. [Foto: Raudhah/Byklik.com]

Byklik.com | Banda Aceh – Pertumbuhan industri makanan dan minuman atau food and beverage (F&B) di Aceh perlu diimbangi dengan pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing usaha.

Digitalisasi dapat membantu pelaku usaha mengelola stok, menghitung biaya produksi, membaca tren penjualan, memantau margin, hingga memahami perilaku konsumen.

Hal tersebut mengemuka dalam Geek Talk bertema From Coffee Culture to F&B Industry: Tantangan, Peluang, dan Masa Depan Industri F&B Aceh di Era Digital di Coffee and Grill by Simpang Lima, Banda Aceh, Sabtu, 19 September 2026.

Perwakilan Egg Geek, Ruhul, mengatakan peluang ekonomi digital Aceh tidak hanya berada pada perusahaan teknologi. Industri kopi dan F&B juga memiliki ruang besar untuk berkembang melalui penguatan merek, rantai pasok, pengalaman pelanggan, serta pemanfaatan teknologi dalam operasional usaha.

“Di balik industri kopi dan F&B terdapat brand, supply chain, customer experience, hingga peluang digitalisasi yang sangat besar untuk dikembangkan,” kata Ruhul.

Menurutnya, Geek Talk tersebut menjadi ruang untuk membahas kopi tidak hanya dari sisi rasa, tetapi juga dari perspektif bisnis, industri, dan peluang pengembangannya.

Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Egg Geek bersama Garuda Spark dan Banda Aceh Academy. Egg Geek merupakan startup studio asal Aceh yang berdiri sejak 2016 dan berfokus membantu ide potensial berkembang menjadi bisnis berkelanjutan dan dapat diperluas.

Selama hampir satu dekade, Egg Geek telah membangun jaringan lebih dari 40 mentor dari berbagai kota dan negara. Jaringan tersebut juga melibatkan profesional asal Aceh yang bekerja di perusahaan global, seperti Amazon, Google, dan Apple.

Baca Juga  Sekda Serahkan Penghargaan Lomba Perpustakaan Desa Terbaik

“Ini merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem kewirausahaan dan digital Aceh dengan mempertemukan talenta, pengetahuan, jaringan, dan peluang untuk menciptakan solusi nyata,” ujarnya.

Sementara itu, pemilik Coffee and Grill by Simpang Lima, Almer Hafiz, mengatakan pertumbuhan bisnis kedai kopi di Banda Aceh berlangsung cukup pesat.

Menurut Almer, terdapat sekitar 830 kafe dan kedai kopi di Banda Aceh. Kemudahan membuka usaha membuat jumlah kedai terus bertambah, sementara pertumbuhan konsumen relatif terbatas sehingga persaingan semakin ketat.

Ia mengatakan pelaku usaha F&B di Aceh umumnya telah memanfaatkan teknologi untuk media sosial, WhatsApp, pembayaran digital, dan sistem kasir.

“Teknologi harus dipilih berdasarkan masalahnya, bukan karena mengikuti tren. Pelaku usaha perlu mengetahui teknologi apa yang benar-benar dibutuhkan dalam bisnisnya,” kata Almer.

Menurutnya, sistem digital dapat membantu pelaku usaha memantau ketersediaan barang, menghitung harga pokok produksi, melihat margin setiap produk, membaca tren penjualan, hingga mengevaluasi biaya operasional.

Penggunaan sistem yang tepat juga dapat mengurangi risiko kerugian akibat perubahan harga bahan baku. Sejumlah komoditas seperti cabai, beras, ayam, daging, dan ikan dapat mengalami perubahan harga dalam waktu relatif cepat.

Selain digitalisasi, Almer menilai pelaku usaha perlu menentukan target pasar secara jelas sebelum memulai bisnis.

Ia mencontohkan Coffee and Grill by Simpang Lima yang berkembang secara bertahap dengan menyasar konsumen keluarga serta membangun kerja sama dengan sejumlah pelaku UMKM.

Baca Juga  Bea Cukai Aceh Raih Rp317 Miliar Hingga Juni 2026

“Daripada membuat produk baru dan menambah persaingan, kami memilih membesarkan usaha yang sudah ada secara bersama-sama melalui kolaborasi dengan mitra,” ujarnya.

Pendiri Bepah Kupi, Maulana Wiga, menambahkan pelaku usaha asal Aceh memiliki kekuatan berupa sumber daya lokal yang dapat dikembangkan menjadi bisnis berskala global.

Kekuatan tersebut, kata Wiga, perlu didukung strategi pemasaran dan cerita produk yang menarik agar memiliki nilai lebih di mata konsumen.

“Aceh memiliki sumber daya yang tidak dimiliki daerah lain. Kita punya kopi Gayo, perkebunan, dan pegunungan. Kekuatan itu harus dikemas menjadi cerita bisnis yang kuat,” kata Wiga.

Bepah Kupi mengawali usahanya melalui kemitraan dengan petani kopi di Aceh. Saat ini, produk kopinya telah didistribusikan ke lebih dari 20 negara.

Menurut Wiga, kemampuan membangun cerita di balik produk menjadi salah satu faktor penting untuk mendapatkan kepercayaan konsumen dan investor.

“Orang tidak akan mengetahui apa yang istimewa dari produk kita apabila mereka tidak mengetahui cerita di baliknya,” ujarnya.

Wiga juga menilai perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau AI, telah membuka akses informasi yang lebih luas bagi anak muda di daerah untuk membangun dan mengembangkan bisnis.

“Sekarang sudah ada AI sehingga tidak ada lagi batas antara anak muda di daerah dan mereka yang berada di Jakarta. Kita bisa memperoleh informasi yang sama, jadi tidak ada alasan untuk tidak memulai bisnis,” pungkasnya.