Byklik.com | Banda Aceh – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat perekonomian Aceh tumbuh 4,86 persen pada triwulan II 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Secara kuartalan (quarter-to-quarter/q-to-q), ekonomi Aceh juga bangkit dengan pertumbuhan 3,77 persen setelah mengalami kontraksi pada triwulan I 2026.
Kepala BPS Provinsi Aceh, Agus Andria, mengatakan secara kumulatif semester I 2026 terhadap semester I 2025 (cumulative-to-cumulative/c-to-c), ekonomi Aceh tumbuh sebesar 4,48 persen.
“Struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Aceh triwulan II 2026 menurut lapangan usaha masih didominasi sektor pertanian sebesar 31,16 persen, diikuti perdagangan 15,35 persen, dan administrasi pemerintahan 9,18 persen,” kata Agus, Rabu, 5 Agustus 2026.
Menurut Agus, pertumbuhan ekonomi ditopang meningkatnya aktivitas pada sisi produksi dan pengeluaran. Dari sisi produksi, kenaikan didorong bertambahnya produksi daging sapi dan kerbau menjelang Iduladha, meningkatnya penjualan semen yang mengerek sektor konstruksi, naiknya produksi batu bara, serta bertambahnya produksi industri pengolahan minyak dan gas di PAG.
Sementara dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga meningkat seiring momentum hari besar keagamaan. Penyaluran tunjangan hari raya (THR) dan gaji ke-13 aparatur sipil negara (ASN) memperkuat daya beli masyarakat, disusul meningkatnya belanja pendidikan menjelang tahun ajaran baru, mulai dari pendaftaran siswa, daftar ulang hingga pembelian perlengkapan sekolah.
BPS juga mencatat konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) meningkat karena penyaluran bantuan kepada masyarakat terdampak banjir serta pelaksanaan kegiatan pengelolaan hewan kurban. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut mendorong konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah, sementara kenaikan ekspor batu bara memperkuat kinerja perdagangan luar negeri Aceh.
Aktivitas sektor perdagangan, transportasi, dan penyediaan akomodasi juga mengalami peningkatan, didukung momentum libur nasional serta bertambahnya pasokan barang dari dalam negeri maupun impor.
Meski menunjukkan pertumbuhan positif, struktur ekonomi Aceh masih didominasi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menyumbang 31,16 persen terhadap total PDRB. Kontributor terbesar berikutnya adalah sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 15,35 persen, administrasi pemerintahan 9,18 persen, konstruksi 8,88 persen, serta transportasi dan pergudangan 7,12 persen.
Berdasarkan lapangan usaha, sektor konstruksi menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi dengan laju 13,36 persen, diikuti sektor jasa keuangan dan asuransi yang tumbuh 12,32 persen. “Di tingkat regional Sumatera, Aceh memberikan kontribusi sebesar 4,78 persen terhadap perekonomian Pulau Sumatera,” ujar Agus.











