Ekonomi & Bisnis

Wisman Meningkat, Perdagangan Luar Negeri Aceh Tetap Surplus

Raudhatul
×

Wisman Meningkat, Perdagangan Luar Negeri Aceh Tetap Surplus

Sebarkan artikel ini
Hotel Hermes Palace Banda Aceh. (Ist)

Byklik.com | Banda Aceh – Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat perkembangan positif pada sektor pariwisata dan perdagangan luar negeri Aceh selama April 2026. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) mengalami peningkatan signifikan yang berdampak pada membaiknya tingkat hunian hotel, sementara neraca perdagangan Aceh tetap mencatat surplus meskipun nilai ekspor mengalami sedikit penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.

Kepala BPS Aceh, Agus Andria, mengatakan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Aceh pada April 2026 mencapai 3.080 kunjungan melalui dua pintu masuk utama, yakni Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda dan Pelabuhan Internasional Sabang.

“Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Provinsi Aceh pada April 2026 mencapai 3.080 kunjungan. Angka ini meningkat 14,75 persen dibandingkan Maret 2026 dan naik 39,75 persen dibandingkan April tahun lalu,” kata Agus dalam keterangannya, Selasa, 2 Juni 2026.

Menurutnya, peningkatan jumlah wisatawan asing menunjukkan sektor pariwisata Aceh terus mengalami pemulihan dan pertumbuhan. Kenaikan kunjungan tersebut juga memberikan dampak positif bagi sektor perhotelan, usaha jasa wisata, transportasi, serta berbagai sektor ekonomi pendukung lainnya.

Sejalan dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, tingkat hunian hotel berbintang di Aceh juga mengalami perbaikan. BPS mencatat Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada April 2026 mencapai 24,35 persen.

Angka tersebut meningkat 4,56 poin persentase dibandingkan Maret 2026 dan naik 1,75 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, tingkat hunian hotel nonbintang dan akomodasi lainnya tercatat sebesar 19,44 persen atau naik 2,34 poin persentase dibandingkan bulan sebelumnya.

Baca Juga  Aktivis Soroti Upah Rendah Pekerja Perempuan di Aceh

Meski demikian, dibandingkan April 2025, tingkat hunian hotel nonbintang masih mengalami penurunan sebesar 1,50 poin persentase. Kondisi tersebut menunjukkan peningkatan okupansi lebih banyak dirasakan oleh hotel berbintang dibandingkan akomodasi nonbintang.

Batu Bara masih mendominasi ekspor Aceh: (Foto: Republika)

Selain sektor pariwisata, BPS Aceh juga melaporkan perkembangan perdagangan luar negeri yang masih menunjukkan kinerja positif. Pada April 2026, nilai ekspor Aceh tercatat sebesar 56,99 juta dolar Amerika Serikat (AS).

Meski turun 3,93 persen dibandingkan Maret 2026, nilai ekspor tersebut masih tumbuh 7,55 persen dibandingkan April 2025. India tetap menjadi negara tujuan utama ekspor Aceh dengan nilai transaksi mencapai 38,14 juta dolar AS.

“Ekspor asal Aceh selama April 2026 paling besar ditujukan ke India dengan nilai 38,14 juta dolar AS. Komoditas utama yang diekspor ke negara tersebut adalah batu bara,” ujar Agus.

Berdasarkan data BPS Aceh, India menyerap sekitar dua pertiga dari total ekspor Aceh selama April 2026. Selain India, Thailand dan Vietnam juga menjadi pasar utama dengan nilai ekspor masing-masing sebesar 4,49 juta dolar AS dan 4,29 juta dolar AS.

Batu bara masih menjadi komoditas ekspor utama Aceh dengan nilai mencapai 45,57 juta dolar AS atau sekitar 79,95 persen dari total ekspor. Selain itu, komoditas kopi, rempah-rempah, dan berbagai produk kimia turut memberikan kontribusi terhadap perolehan devisa daerah.

“Selain batu bara, komoditas ekspor lainnya yang turut menyumbang devisa bagi Aceh adalah kopi, rempah-rempah, serta berbagai produk kimia, meskipun nilainya masih jauh di bawah ekspor batu bara,” kata Agus.

Baca Juga  Belasan Ribu Wisatawan Padati Museum Tsunami Aceh Selama Libur Idulfitri

Di sisi lain, nilai impor Aceh pada April 2026 tercatat sebesar 49,25 juta dolar AS atau meningkat 14,09 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, angka tersebut masih lebih rendah 3,07 persen dibandingkan April 2025.

Amerika Serikat menjadi negara asal impor terbesar dengan nilai 27,17 juta dolar AS, disusul Aljazair sebesar 18,74 juta dolar AS. Kedua negara tersebut memasok komoditas gas propana dan butana yang menjadi kebutuhan utama Aceh.

Sementara itu, Tiongkok berada di posisi ketiga dengan nilai impor sebesar 2,99 juta dolar AS yang didominasi oleh bahan kimia anorganik.

Secara keseluruhan, gas propana dan butana menjadi komoditas impor terbesar Aceh dengan nilai mencapai 45,91 juta dolar AS atau sekitar 93,20 persen dari total impor selama April 2026.

Dengan nilai ekspor sebesar 56,99 juta dolar AS dan impor sebesar 49,25 juta dolar AS, neraca perdagangan Aceh pada April 2026 mencatat surplus sebesar 7,74 juta dolar AS.

BPS Aceh menilai peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara dan tetap terjaganya surplus perdagangan merupakan indikator positif bagi perekonomian daerah. Kedua sektor tersebut dinilai memiliki kontribusi penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memperkuat daya saing Aceh di tingkat nasional maupun internasional.[]