Ekonomi & Bisnis

Inflasi Aceh 0,24 Persen Dipicu Kenaikan Beras dan Bensin

Raudhatul
×

Inflasi Aceh 0,24 Persen Dipicu Kenaikan Beras dan Bensin

Sebarkan artikel ini
Kepala BPS Provinsi Aceh, Agus Andria. (Foto: Dok. Humas BPS Aceh)

Byklik.com | Banda Aceh – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat inflasi bulanan (month-to-month/mtm) sebesar 0,24 persen pada Juli 2026. Kenaikan harga beras dan bensin menjadi faktor utama yang mendorong inflasi pada periode tersebut, di tengah meningkatnya harga sejumlah komoditas pangan dan kebutuhan masyarakat.

Selain inflasi bulanan, BPS juga mencatat inflasi tahunan (year-on-year/yoy) Aceh mencapai 5,38 persen dibandingkan Juli 2025. Angka tersebut menunjukkan rata-rata harga barang dan jasa di provinsi itu mengalami kenaikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kepala BPS Provinsi Aceh, Agus Andria, mengatakan kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan andil mencapai 2,44 persen.

“Inflasi tahunan pada Juli 2026 terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga nasi dengan lauk sebesar 0,54 persen, emas perhiasan 0,43 persen, beras 0,38 persen, cabai merah 0,33 persen, serta bensin 0,30 persen,” kata Agus, Senin, 3 Agustus 2026.

Baca Juga  DJKI–JICA Dorong Start-Up dan UMKM Lindungi Merek

BPS mencatat terdapat lima daerah yang menjadi cakupan penghitungan inflasi di Aceh, yakni Kota Banda Aceh, Kota Lhokseumawe, Meulaboh, Kabupaten Aceh Tengah, dan Kabupaten Aceh Tamiang. Seluruh wilayah tersebut mengalami inflasi secara tahunan sepanjang Juli 2026.

Kabupaten Aceh Tengah menjadi daerah dengan inflasi tahunan tertinggi, yakni sebesar 6,91 persen. Sementara itu, Meulaboh mencatat inflasi tahunan terendah sebesar 3,50 persen.

Untuk inflasi bulanan, Agus menjelaskan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga menjadi penyumbang terbesar dengan tingkat inflasi 0,20 persen dan memberikan andil sebesar 0,07 persen terhadap inflasi Aceh.

“Komoditas yang paling berpengaruh terhadap inflasi bulanan antara lain beras sebesar 0,18 persen, bensin 0,09 persen, cabai rawit 0,07 persen, tomat 0,05 persen, dan semen 0,04 persen,” ujarnya.

Baca Juga  Ekspor Aceh Melonjak, Batu Bara Tetap Komoditas Andalan

Secara bulanan, inflasi terjadi di Kabupaten Aceh Tengah, Meulaboh, Kabupaten Aceh Tamiang, dan Kota Lhokseumawe. Kabupaten Aceh Tamiang mencatat inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,71 persen.

Sebaliknya, Kota Banda Aceh menjadi satu-satunya daerah di Aceh yang mengalami deflasi pada Juli 2026, yakni sebesar 0,03 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Data BPS menunjukkan tekanan inflasi di Aceh masih didominasi kenaikan harga komoditas pangan dan energi. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat apabila kenaikan harga berlangsung dalam waktu yang lama.

BPS berharap data inflasi ini dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah dan instansi terkait dalam memperkuat langkah pengendalian inflasi, terutama melalui upaya menjaga stabilitas pasokan dan harga komoditas strategis agar tekanan terhadap harga kebutuhan pokok dapat diminimalkan.[]