Teknologi & Sains

Dari Limbah Kulit Kemiri ke Energi Masa Depan

Avatar
×

Dari Limbah Kulit Kemiri ke Energi Masa Depan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi. [Foto: AI]

Byklik.com | Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi katalis biochar berbasis nikel dengan metode dekorasi silika yang mampu meningkatkan konversi karbon dioksida (CO₂) menjadi produk bernilai ekonomi dan berpotensi menjadi sumber energi hijau masa depan.

Inovasi tersebut dipaparkan Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Katalisis BRIN, Wiyanti Fransisca Simanullang, dalam webinar Wednesday Insight & Science Exchange (WISE). Teknologi ini menjadi bagian dari upaya mendukung target Net Zero Emission (NZE) nasional melalui pemanfaatan teknologi katalisis yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Wiyanti menjelaskan, penelitian berfokus pada pemanfaatan biochar atau arang hayati yang dimodifikasi dengan struktur silika untuk meningkatkan kinerja katalis dalam proses hidrogenasi karbon dioksida.

“Karbon dioksida merupakan senyawa yang sangat stabil secara termodinamika sehingga sulit dikonversi menjadi senyawa lain. Tantangan terbesar kami adalah merancang material katalis yang aktif sekaligus ekonomis untuk mengubah CO₂ menjadi produk yang lebih bermanfaat,” ujarnya.

Menurutnya, proses hidrogenasi CO₂ memungkinkan gas rumah kaca tersebut diubah menjadi berbagai produk bernilai guna seperti metana, karbon monoksida, maupun alkohol yang dapat dimanfaatkan dalam sektor energi dan industri.

Baca Juga  Adopsi AI Capai 92 Persen, Indonesia Didorong Jadi Inovator Teknologi

Berbeda dengan banyak penelitian yang masih menggunakan logam mulia seperti paladium dan platinum, BRIN memilih memanfaatkan logam non-mulia berupa nikel karena lebih ekonomis dan berpotensi diterapkan dalam skala industri.

Untuk meningkatkan efektivitas nikel, tim peneliti menerapkan metode dekorasi silika yang berfungsi menjaga stabilitas partikel katalis agar tidak mudah menggumpal saat bekerja pada suhu tinggi.

“Temuan kami menunjukkan bahwa dekorasi silika mampu mempertahankan fase reduksi logam nikel yang menjadi kunci dalam memutus ikatan kuat karbon dioksida. Hal ini menghasilkan performa hidrogenasi yang lebih baik, terutama pada suhu rendah,” kata Wiyanti.

Hasil pengujian laboratorium menunjukkan katalis biochar berbasis nikel yang didekorasi silika memiliki performa lebih baik dibandingkan sistem katalis lainnya dalam proses hidrogenasi CO₂ suhu rendah.

Penelitian tersebut juga memanfaatkan berbagai teknologi karakterisasi material canggih, seperti High Resolution Transmission Electron Microscopy (HR-TEM), X-ray Photoelectron Spectroscopy (XPS), serta X-ray Absorption Spectroscopy (XAS) berbasis sinkrotron untuk mengamati struktur dan kinerja katalis secara mendalam.

Baca Juga  Wisudawan Terbaik UB Ciptakan Program Pencegah Kelelahan Mata Digital

Selain fokus pada pengurangan emisi karbon, BRIN juga menyiapkan peta jalan hilirisasi teknologi tersebut. Salah satu langkah yang tengah dikembangkan adalah pemanfaatan limbah kulit kemiri sebagai bahan baku lokal berkelanjutan untuk produksi biochar.

Ke depan, riset akan diarahkan pada pengembangan produksi metanol cair dan katalis bebas logam berbasis nitrogen-doped biochar guna memperluas pemanfaatan teknologi energi hijau.

“Melalui riset ini, kami ingin menghadirkan solusi yang tidak hanya membantu menekan emisi karbon, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan limbah biomassa lokal menjadi teknologi bernilai tambah tinggi,” ujar Wiyanti.

BRIN berharap penguatan kolaborasi dengan berbagai mitra strategis dapat mempercepat proses hilirisasi dan komersialisasi teknologi tersebut sehingga mampu mendukung pembangunan ekonomi hijau dan pencapaian target NZE Indonesia.