Nasional

Kematian TBC 125 Ribu Setahun, Waspadai Batuk Dua Minggu

Avatar
×

Kematian TBC 125 Ribu Setahun, Waspadai Batuk Dua Minggu

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi.

Byklik.com | Yogyakarta – Penyakit tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman serius di Indonesia dengan angka kematian mencapai 12–14 orang setiap jam, menempatkan Indonesia sebagai negara dengan kasus TBC tertinggi kedua di dunia.

Data menunjukkan, jumlah kasus TBC di Indonesia diperkirakan mencapai 1.090.000 dengan angka kematian sekitar 125.000 jiwa setiap tahun. Tingginya angka tersebut bahkan mengalami peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM, dr. Rina Triasih, menegaskan bahwa TBC memiliki tingkat bahaya yang setara dengan COVID-19, meski kerap dianggap sepele oleh masyarakat.

“Ini sama bahayanya dengan COVID. Namun, karena TBC sudah ada sejak lama dan menyebabkan korban jiwa secara perlahan, penyakit ini kerap dianggap kurang berbahaya,” ujarnya, Rabu, 8 April 2026.

Menurut Rina, tingginya kasus dan angka kematian menunjukkan bahwa TBC masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang serius, meskipun berbagai upaya terus dilakukan untuk mencapai target eliminasi pada 2030.

Baca Juga  OTT KPK Membeludak, Biaya Politik Mahal Jadi Pemicu

Ia menjelaskan, peningkatan jumlah kasus juga bisa mencerminkan membaiknya upaya penemuan kasus yang sebelumnya tidak terdeteksi. Namun demikian, tantangan tetap besar karena gejala TBC tidak langsung muncul setelah terpapar.

“Gejala biasanya baru berkembang dalam 4–12 minggu, sehingga banyak kasus terlambat terdeteksi dan meningkatkan risiko penularan,” jelasnya.

Selain faktor medis, Rina juga menyoroti kendala lain seperti ketimpangan akses layanan kesehatan akibat kondisi geografis, serta stigma masyarakat terhadap penderita TBC.

“Masih banyak yang enggan memeriksakan diri karena takut didiagnosis TBC, bahkan khawatir kehilangan pekerjaan. Padahal, keterlambatan diagnosis justru memperburuk kondisi dan meningkatkan penularan,” tambahnya.

Untuk itu, ia menekankan pentingnya pendekatan komprehensif melalui strategi search, treat, and prevent, yang mencakup penemuan kasus aktif, pengobatan tuntas, serta terapi pencegahan bagi kelompok berisiko.

Baca Juga  Jawab Ketertinggalan SDM Lokal, Maluku Utara Gandeng UGM

“Upaya ini tidak bisa hanya dilakukan sektor kesehatan. Perlu keterlibatan pemerintah, swasta, dan masyarakat agar pengendalian TBC berjalan optimal,” tegasnya.

Rina juga mengapresiasi inovasi Kementerian Kesehatan, salah satunya penggunaan rontgen portable dalam program penemuan kasus aktif (ACF) yang dinilai efektif menjangkau kasus tersembunyi.

Selain itu, pengembangan layanan skrining terpadu melalui konsep One Stop Service (OSS) yang terintegrasi dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) diharapkan mampu mempercepat deteksi dan penanganan TBC.

Ia mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala seperti batuk lebih dari dua minggu dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

“TBC bisa disembuhkan dan bukan penyakit keturunan. Edukasi ini penting untuk mengurangi stigma dan meningkatkan kepatuhan berobat,” pungkasnya.