Byklik.com | Banda Aceh — Pemerintah Aceh resmi membuka Aceh Ramadan Festival 2026 di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Minggu, 1 Maret 2026. Pembukaan dilakukan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Aceh, T. Robby Irza, mewakili Gubernur Aceh Muzakir Manaf.
Dalam sambutan tertulisnya, Gubernur menegaskan Aceh Ramadan Festival yang kembali masuk agenda nasional Kharisma Event Nusantara (KEN) bukan sekadar seremoni, melainkan ruang memperkuat tradisi, silaturahmi, dan ukhuwah masyarakat.
“Ramadan di Aceh bukan hanya momentum spiritual personal, tetapi kekuatan kolektif yang menghidupkan tradisi serta menggerakkan kehidupan sosial ekonomi masyarakat,” demikian kutipan sambutan Gubernur.
Ia menyebut festival yang akan berlangsung hingga 7 Maret ini menjadi penegasan jati diri Aceh sebagai destinasi wisata halal yang menawarkan pengalaman spiritual khas Serambi Mekkah. Pemerintah, kata dia, ingin setiap tamu merasakan suasana religius saat azan berkumandang, menikmati kuliner berbuka, serta menyaksikan syiar Islam yang tertib dan khusyuk.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Dedy Yuswadi, melaporkan festival mengusung tema “The Truly Spiritual Journey in Serambi Mekkah” dan kembali terpilih sebagai bagian dari KEN 2026 yang menghadirkan 125 event terbaik dari 38 provinsi.
Ia menambahkan, Aceh mencatat tiga agenda masuk KEN 2026, yakni Aceh Ramadan Festival, Aceh Culinary Festival yang menembus Top 10 KEN 2026, serta Banda Aceh Colossal Coffee Experience.
Rangkaian kegiatan meliputi puluhan stan UMKM binaan Bank Aceh Syariah, pameran mushaf Alquran, talkshow ekonomi syariah bersama Bank Indonesia dan OJK, live tadarus Alquran, donasi kebencanaan, hingga buka puasa bersama dalam rangka Khanduri Nuzulul Qur’an.
Dedy menegaskan, festival tahun ini digelar tanpa dukungan APBA Disbudpar Aceh karena anggaran diprioritaskan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana banjir. Namun kolaborasi lintas sektor, termasuk dukungan Bank Indonesia, Bank Aceh Syariah, Pertamina, OJK, Telkomsel, Grab, dan Pemerintah Kota Banda Aceh, membuat kegiatan tetap terselenggara.
“Festival ini menjadi simbol bahwa di tengah ujian, masyarakat Aceh tetap kuat, bersatu, dan optimis menatap masa depan,” ujarnya.











