Byklik.com | Depok – Kepemimpinan bukan sekadar jabatan atau kewenangan, melainkan kemampuan menghadirkan perubahan dan memberikan manfaat nyata bagi orang lain.
Prinsip ini ditegaskan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Nurkholisoh Ibnu Aman saat mendorong generasi muda mempersiapkan diri menghadapi tantangan kepemimpinan masa depan.
Pesan tersebut disampaikan Nurkholisoh saat menjadi narasumber dalam Indonesia Future Leaders Summit (FLS) 2026 di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Bisnis dan Pariwisata, Depok, Jawa Barat, Kamis, 8 Oktober 2026.
“Menurut saya, pemimpin itu bukan jabatan, bukan pakai pin, bukan punya ajudan, punya kantor. Pemimpin itu adalah apakah saya bisa membawa perubahan, membawa perbaikan kepada lingkungan sekeliling saya. Leadership itu adalah impact,” ujar Nurkholisoh.
Menurutnya, kepemimpinan harus tercermin melalui kontribusi nyata dalam memperbaiki lingkungan dan memberikan manfaat kepada orang lain. Karena itu, ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan semata-mata posisi yang ditempati, melainkan perubahan positif yang mampu dihasilkan.
Ia menjelaskan, Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari persoalan ketenagakerjaan, kualitas sumber daya manusia, dan produktivitas hingga perkembangan teknologi, perubahan iklim, serta dinamika geopolitik.
Berbagai persoalan tersebut membutuhkan pemimpin yang mampu memahami masalah secara menyeluruh, membangun kepercayaan, dan mendorong kolaborasi untuk menghasilkan solusi.
Karena itu, Nurkholisoh mengajak mahasiswa dan penggerak organisasi dari berbagai daerah mengembangkan kepemimpinan yang berorientasi pada hasil serta manfaat bagi masyarakat.
Pemimpin Masa Depan Harus Terus Belajar
Nurkholisoh menekankan pentingnya pembelajaran sepanjang hayat atau continuous learning bagi calon pemimpin. Perubahan lingkungan kerja dan perkembangan zaman menuntut setiap individu terus memperbarui pengetahuan, meningkatkan keterampilan, serta menyesuaikan diri dengan kebutuhan baru.
Menurutnya, pemimpin masa depan perlu mengantisipasi sejumlah tantangan, seperti perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI), otomasi, penuaan populasi, krisis iklim, dan persaingan global.
Situasi tersebut menuntut kemampuan beradaptasi dan kecermatan dalam mengambil keputusan, terutama ketika menghadapi ketidakpastian dan persoalan yang saling berkaitan.
“Kepemimpinan bisa dilatih dan bahkan dikembangkan, bahkan perilaku itu bisa diubah,” kata Nurkholisoh.
Ia menggarisbawahi sejumlah kompetensi yang perlu dikembangkan calon pemimpin, antara lain kemampuan berpikir analitis, ketangguhan, adaptabilitas, kemampuan memengaruhi dan mengembangkan orang lain, pemahaman tentang keamanan siber (cybersecurity), serta keberlanjutan (sustainability).
Kompetensi tersebut diperlukan agar pemimpin mampu membaca perubahan, mengelola risiko, dan membangun kerja sama dalam menghadapi berbagai tantangan.
Organisasi Kampus Jadi Ruang Latihan Kepemimpinan
Selain pembelajaran formal, Nurkholisoh mendorong mahasiswa memanfaatkan organisasi kampus sebagai ruang untuk mengasah kemampuan kepemimpinan.
Melalui kegiatan organisasi, mahasiswa dapat belajar menyampaikan gagasan, menghadapi perbedaan pendapat, bernegosiasi, membagi tanggung jawab, serta bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.
Pengalaman tersebut juga menjadi kesempatan untuk melatih keberanian mengambil keputusan dan mempertanggungjawabkan konsekuensinya, termasuk ketika keputusan yang diambil tidak selalu mendapat dukungan semua pihak.
“Kepemimpinan itu sekali lagi bukan gelar, bukan posisi ada yang jadi ketua, tapi kesediaan, kekuatan, mengambil keputusan, menjadi tidak populer, khususnya di situasi yang rumit, di situasi yang tidak pasti. Kepemimpinan itu adalah ketika ada orang lain mendapatkan manfaat,” pungkasnya.
Melalui Indonesia Future Leaders Summit 2026, mahasiswa diharapkan dapat menjadikan pengalaman berorganisasi sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan. Integritas, kemampuan beradaptasi, kolaborasi, dan orientasi pada manfaat publik menjadi aspek penting dalam membentuk pemimpin yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.***











