Byklik.com | Banda Aceh—Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Diana Kusumastuti, menjadi narasumber utama dalam kegiatan CIVIL INSIGHT yang diselenggarakan oleh Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala (USK), Selasa, 14 April 2026. Kegiatan ini mengusung tema “Stronger After Disaster: Membangun Infrastruktur Tangguh untuk Aceh Pasca Bencana Hidrometeorologi”.
Dalam pemaparannya, Diana Kusumastuti menekankan pentingnya pembangunan kembali Aceh pascabencana yang selaras dengan agenda Asta Cita, khususnya dalam memperkuat ketahanan nasional melalui infrastruktur yang tangguh dan berkelanjutan.
Ia menyebutkan, prioritas utama dalam penanganan pascabencana di Aceh yaitu pelaksanaan penanganan muara dalam melancarkan aliran dari hulu ke hilir dan pembangunan sabo dam sebagai infrastruktur pengendali sedimen untuk mengurangi resiko banjir.
Selanjutnya, pembangunan rumah hunian pascabencana untuk memastikan masyarakat terdampak dapat segera kembali memiliki tempat tinggal yang aman, layak, dan berkelanjutan.
“Percepatan penanganan infrastruktur konektivitas jalan dan jembatan sebagai infrastruktur konektivitas utama terus dilakukan untuk memastikan kelancaran mobilitas masyarakat, distribusi logistik, serta mendukung pemulihan ekonomi di wilayah terdampak bencana,” katanya.
“Pengalaman Aceh menegaskan bahwa masa depan pembangunan harus dibangun di atas mitigasi resiko, infrastruktur tangguh, dan kolaborasi yang kuat,” katanya.
Kegiatan ini turut menghadirkan narasumber lain, di antaranya, Kepala Dinas PU Bireuen, Fadhli Amir. Ia memaparkan, kebutuhan pemulihan bencana ini difokuskan pada sektor infrastruktur (58%), sektor perumahan (25%), sektor ekonomi (10%), sektor sosial (4%) dan lintas sektor (3%). Kegiatan pemulihan ini disebut 4 pilar cetak biru pemulihan (build back better).
Pilar pertama adalah relokasi geospasial cerdas dengan memindahkan fasilitas publik dari zona rawan bencana ke dataran aman. Pilar kedua normalisasi ekohidrologis yaitu analisis dan pengerukan hulu ke hilir untuk mengembalikan kapasitas tampung palung sungai. Pilar ketiga rekayasa infrastruktur tahan iklim dengan perbaikan jalan dan jembatan, serta peningkatan spesifikasi jaringan SPAM agar resisten terhadap tingginya beban sedimentasi darurat.
“Pilar keempat adalah sinergi lintas kewenangan dengan penyatuan dana APBN, APBD provinsi dan kabupaten untuk eksekusi masterplan secara serentak,” kata Fadhli.
Sementara itu, dosen Teknik Sipil USK, Huzaim, mempresentasikan inovasi Rumah Layak Huni Baja Hollow sebagai solusi hunian ramah lingkungan pascabencana. Rumah ini dirancang dengan meminimalkan penggunaan kayu dan mengandalkan struktur baja hollow yang lebih tahan terhadap kondisi ekstrem.
Kegiatan CIVIL INSIGHT ini dibagi dalam beberapa rangkaian, seperti talkshow, kuliah umum, seminar, dan silaturahmi yang dilaksanakan secara hybrid dengan sekitar 250 peserta. Kepala Departemen Teknik Sipil USK, Yusria Darma, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman tentang dampak bencana hidrometeorologi terhadap infrastruktur serta mendorong pembangunan yang tangguh dan berkelanjutan.
Acara dibuka oleh Rektor USK yang diwakili Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kemitraan, dan Bisnis, Taufiq S. Ia menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, akademisi, dan praktisi dalam merancang solusi inovatif untuk mempercepat pemulihan pascabencana. Turut hadir dalam kegiatan ini berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perwakilan pemerintah daerah, BUMN, akademisi, hingga mahasiswa.
Fakultas Teknik telah mengirimkan 1.500 mahasiswa untuk ikut berkontribusi dalam membantu korban bencana hidrometeorologi di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh Tamiang, dan Aceh Utara dalam kegiatan KKN Tematik.[]











