Byklik.com | Yogyakarta – Sebanyak 15.789 peserta mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT) di Universitas Gadjah Mada (UGM) yang berlangsung pada 21–27 April 2026. Kampus ini menyiapkan infrastruktur teknologi informasi (TI) secara menyeluruh guna memastikan ujian berjalan lancar, aman, dan bebas kecurangan.
Pelaksanaan UTBK di UGM tersebar di 14 titik lokasi dengan total 44 ruang ujian dan didukung 1.452 unit komputer. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 1.372 unit.
Direktur Direktorat Teknologi Informasi (DTI) UGM, Prof. Dr. Ir. Ridi Ferdiana, S.T., M.T., IPM, menegaskan pihaknya memastikan kesiapan sistem secara maksimal, mulai dari jaringan internet, server, hingga mekanisme pengawasan.
“Kami menyiapkan jalur cadangan sehingga layanan tetap berjalan tanpa mengganggu peserta saat ujian berlangsung,” ujar Ridi, Minggu, 19 April 2026.
Untuk menjaga keandalan koneksi, UGM menggunakan dua penyedia layanan internet, yakni Telkom dan Indosat. Skema dual ISP ini memungkinkan jaringan tetap stabil meski salah satu mengalami gangguan.
Selain itu, konektivitas antar lokasi diperkuat dengan jaringan fiber optik berjalur ganda yang menghubungkan pusat data dengan seluruh titik ujian. Kecepatan jaringan yang tersedia berkisar antara 1 hingga 10 Gbps.
“Dengan jalur ganda ini, distribusi jaringan bisa tetap stabil meski terjadi gangguan di salah satu sisi,” jelasnya.
Dari sisi sistem, UGM mengoperasikan empat unit server yang telah melalui uji beban dan uji coba nasional pada 1–2 April 2026. Sistem juga dilengkapi mekanisme failover untuk memastikan layanan tetap berjalan jika terjadi kendala.
“Kalau ada gangguan di satu server, sistem langsung dialihkan ke server lain agar peserta tetap bisa melanjutkan ujian,” katanya.
UGM juga menyiapkan komputer cadangan di setiap lokasi untuk mengantisipasi gangguan teknis. Seluruh perangkat telah disesuaikan dengan standar nasional, termasuk penggunaan sistem operasi khusus berbasis Linux yang dijalankan melalui USB.
“Lingkungan sistem yang tertutup ini membantu menjaga proses ujian tetap fokus dan aman dari intervensi luar,” ungkap Ridi.
Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan, UGM turut berkoordinasi dengan PLN guna memastikan pasokan listrik tetap stabil, serta dengan penyedia layanan internet untuk menjaga kualitas jaringan.
Di sisi pengawasan, panitia telah membekali petugas melalui pelatihan pada 16 April 2026, termasuk dalam mendeteksi berbagai pola kecurangan, baik melalui perangkat keras maupun perangkat lunak.
“Kami membekali petugas agar sigap mengenali potensi kecurangan dan bisa merespons dengan tepat di lapangan,” ujarnya.
Ridi menambahkan, pada tahun ini mekanisme penentuan lokasi ujian juga diubah. Peserta tidak lagi memilih langsung pusat UTBK, melainkan hanya lokasi kota, sementara penentuan kampus dilakukan secara acak oleh panitia pusat.
“Dengan sistem penempatan yang lebih terkontrol, kami ingin memastikan proses seleksi berjalan adil bagi semua peserta,” pungkasnya.











