Opini & Analisis

Tetap Keren Tanpa Rokok

×

Tetap Keren Tanpa Rokok

Sebarkan artikel ini
Hukma Shabiyya.

Oleh Hukma Shabiyya*

Rokok kelihatannya cuma sebatang tembakau yang dibalut kertas sependek 9 senti, tetapi dampaknya bisa sangat panjang. Bagi anak muda zaman sekarang, istilah “sebat dulu” sering kali menjadi ritual wajib saat nongkrong, setelah mengerjakan tugas, atau sekadar melepas penat setelah seharian beraktivitas. Sebatang rokok dianggap sebagai solusi instan untuk mengusir stres dan bosan. Namun, sadar atau tidak, kebiasaan yang terlihat santai ini adalah sebuah jebakan. Di balik kepulan asapnya, ada ribuan zat beracun yang sedang mencuri energi kesehatan dan masa depan  secara perlahan.

Di Indonesia rokok sudah seperti “tradisi”. Jadi teman ngopi, jadi pelarian stres, jadi simbol dewasa dan maskulinitas. Padahal, kalau kita jujur mengupas tuntas, rokok itu bukan cuma soal asap. Ini soal tubuh, uang, dan bumi yang kita tempati. Mengapa memilih hidup tanpa “sebat” itu jauh lebih keren? Kali ini kita akan coba membahas beberapa alasan nyata yang terasa langsung di kehidupan sehari-hari, terutama bagi anak muda yang masih membangun fondasi masa depan gemilang.

Pertama, napas akan terasa lebih segar ketika seseorang tidak memiliki kebiasaan merokok. Fisik tentunya akan lebih kuat ketika tubuh tidak mengandung racun-racun berbahaya dari rokok. Dr. Tania Savitri dilansir dari hellosehat, memaparkan hasil penelitian, bahwa jika dalam 20 menit berhenti merokok, jantung dan tekanan darah sudah mulai normal. Dalam tiga bulan, paru-paru lebih bersih dan seseorang menjadi tidak gampang capek.

Asap rokok mengandung lebih dari 7.000 bahan kimia. Zat ini merusak hampir seluruh organ tubuh dan memicu sedikitnya 25 penyakit, seperti kanker paru-paru, penyakit jantung, diabetes, hingga impotensi. Kebiasaan ini menyumbang angka kematian signifikan dan kerugian ekonomi yang sangat besar. 

Manfaat kedua dari kebiasaan tidak merokok adalah dompet dan kantong lebih aman. Coba kita berhitung dengan saksama, 1 bungkus sehari = Rp35.000 x 30 hari = Rp1.050.000/bulan. Jika setahun bahkan bisa mencapai Rp6,12 juta. Bayangkan saja, lebih baik uang itu dipakai untuk healing bareng teman, dipakai buat hal-hal yang bermanfaat, ditabung buat masa depan, daripada dibakar sia-sia. Di sisi negara juga sama. Cukai rokok memang besar, tapi biaya BPJS dan rumah sakit buat mengobati penyakit akibat rokok jauh lebih besar. Jadi yang rugi siapa? Kita semua.

Baca Juga  Ujian Nalar Gerakan Mahasiswa

Manfaat ketiga adalah penampilan lebih segar dan wangi. Berhenti merokok otomatis menghilangkan bau asap yang menempel di baju dan rambut. Selain itu, kulit wajah akan lebih bersih, gigi bebas noda kuning, dan aroma napas jauh lebih segar. Jadi, kalau berbicara dengan seseorang akan terasa lebih nyaman. 

Manfaat keempat adalah umur panjang atau kualitas hidup yang lebih baik. Jantung, strok, kanker paru, itu paket kombo perokok. Berhenti di usia berapa pun tetap mengurangi risiko itu, tidak ada kata terlambat untuk mulai berhenti merokok. Usia memang urusan Yang Maha Kuasa, tetapi ikhtiar hidup dalam keadaan sehat dan berkualitas adalah pilihan terbaik masing-masing individu. 

Sekali lagi, dalam satu batang rokok ada 4000+ zat kimia. Yang paling terkenal adalah nikotin, tar, karbon monoksida, arsen, dan formaldehida. Banyak yang zat karsinogenik alias pemicu kanker. Sati lagi fakta unik tentang rokok, rokok 1 batang bisa mengurangi umur sekitar 11 menit. Tar yang menempel di paru warnanya hitam dan susah dihilangkan.  

Ada lagi hal mendasar dan berbahaya tentang rokok yang jarang dibahas atau paling sering diabaikan oleh banyak orang, yaitu kaitannya dengan lingkungan. Ini yang jarang masuk berita. Puntung rokok adalah sampah nomor satu di dunia. Filter rokok plastik, butuh 10–15 tahun terurai dan melepas mikroplastik ke laut. Jadi tiap mengisap rokok, seseorang bukan hanya merusak diri tapi kita juga merusak lingkungan. 

Ada dua jenis perokok, yaitu perokok aktif dan perokok pasif. Perokok aktif adalah orang yang secara langsung mengonsumsi rokok, membakar, dan mengisap rokok (baik rokok tembakau, cerutu, maupun rokok elektronik/vape) secara rutin maupun berkala. Mereka menghirup asap utama (mainstream smoke) dari ujung rokok yang mereka isap. Nikotin itu membikin candu. Mereka bakal kecanduan pada nikotin yang ada di rokok. Penyempitan pembuluh darah, kerusakan paru-paru langsung, hingga risiko tinggi terkena impotensi dan penyakit jantung. Nikotin adalah, senyawa kimia organik alami yang termasuk dalam kelompok alkaloid dan ditemukan secara dominan di tanaman tembakau. 

Sedangkan perokok pasif adalah, orang yang tidak memiliki kebiasaan merokok, tetapi ikut menghirup asap rokok dari orang lain atau dari lingkungan sekitar dengan tidak sengaja. Mereka menghirup asap yang diembuskan oleh perokok sekaligus asap dari ujung rokok. Menurut Kementerian Kesehatan RI, asap sidestream justru memiliki konsentrasi zat karsinogen (pemicu kanker) yang sangat tinggi. Perokok pasif sering kali menanggung bahaya medis yang sama besarnya, seperti infeksi saluran pernapasan, asma, hingga serangan jantung. 

Baca Juga  Jadi yang Pertama di Sumatra, USK Siap Integrasikan Jaminan Sosial ke Kurikulum

Stres? Merokok bukan jawabannya, ada banyak aktivitas bermanfaat lainnya, seperti gym, berorganisasi, healing bareng teman, misal bermain gim, mengobrol bareng teman-teman yang juga tidak merokok. Nikotin cuma bikin candu, stres tetap datang lagi ketika rokok kamu sudah habis. Rokok habis, stres tetap tidak hilang. Yang ada membuang uang saja. Ini adalah fakta jika kita berpikir dengan logika. Sehat tanpa rokok bukan berarti hidup jadi hambar. Justru kebalikannya, kamu lebih kuat, lebih hemat. 

Banyak juga mitos rokok yang harus kita bantah, seperti yang mengatakan rokok mild itu lebih ringan. Itu sekadar mitos bukan kebenaran. “Mild” cuma soal rasa, racunnya tetap sama. “Vape pun tidak aman karena masih mengandung nikotin. Masih membikin candu, hanya beda cara masuk. MItos lainnya mengatakan: “Aku olahraga, jadi aman, kok.” Olahraga membantu paru-paru, tetapi kerusakan disebabkan oleh kebiasaan merokok tidak bisa hilang dengan olahraga. 

Mengganti ritual “sebat” memang butuh waktu. Saat mulut terasa asam atau pikiran stres, cobalah alihkan perhatian dengan mengunyah permen karet, minum air putih dingin, stok camilan di kamar. Keren itu tidak diukur dari asap yang keluar dari mulut, melainkan dari cara kita menjaga tubuh tetap bugar dan produktif. Kurangi dan lepaskan ketergantungan dari kebiasaan “sebat” demi hidup yang lebih sehat. Rokok memberikan rasa tenang 5 menit. Namun, bayarannya napas yang semakin pendek, uang yang terbakar sia-sia, dan lingkungan yang semakin kotor. 

Kita semua punya pilihan. Mau terus melanjutkan kebiasaan karena “sudah dari dulu” atau mulai berpikir buat diri sendiri dan orang di sekitar. Karena pada akhirnya, rokok tidak pernah benar-benar memberikan apa-apa. Ia cuma memberikan kenikmatan sebentar, lalu efek ketagihan dengan bunga sangat mahal, yaitu kesehatan kita.[] 

Penulis adalah siswa homeschooling yang setara kelas dua SMA. Saat ini aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Aceh. Biyya–sapaan akrabnya–pernah menulis beberapa buku antologi, tulisannya berupa puisi, artikel, esai pernah dimuat di media arus utama.