HeadlineOpini & Analisis

Menjemput Hakikat di Tanah Haram

×

Menjemput Hakikat di Tanah Haram

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi perempuan berhaji. Foto SINDOnews

Oleh Isra Masjida*

Haji sesungguhnya bukan sekadar perjalanan fisik melintasi samudra dan benua, melainkan sebuah pengembaraan rohani untuk pulang ke pangkal mula kehidupan. Ia adalah momentum saat kita menanggalkan segala atribut duniawi—pangkat, harta, dan kebanggaan diri—untuk bersimpuh di hadapan Allah Swt. Di Baitullah, kita tidak sedang mendatangi sebuah bangunan batu, melainkan sedang menempuh jalan sunyi untuk menemui diri kita yang paling hakiki. Allah Swt. berfirman:

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS Al-Hajj: 27).

Ayat ini adalah undangan cinta yang menembus waktu. Ketika Allah menyebutkan mereka datang dengan “unta yang kurus”, di sana terselip metafora tentang jiwa yang barangkali sudah babak belur oleh ujian hidup. Allah mengabadikan mereka yang datang dalam kondisi paling terbatas; mereka yang menempuh jalan jauh bukan dengan kemewahan, melainkan dengan kerinduan yang membuncah.

Bagi kita perempuan, ini adalah pengingat: datanglah kepada-Nya dengan segala lelahmu, karena di rumah-Nya, bukan kekuatan fisikmu yang dilihat, melainkan seberapa jauh hatimu telah melangkah untuk kembali mengenali siapa Tuhanmu yang sebenarnya.

Dalam perjalanan suci ini, perbekalan yang paling utama bukanlah kemewahan materi, melainkan niat yang jernih. Sebagaimana pesan Rasulullah saw., “Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya” (HR. Bukhari & Muslim).

Kita pula diinsyafkan bahwa takwa adalah satu-satunya bekal yang tidak akan pernah basi. Sebagaimana firman-Nya, “… Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS Al-Baqarah: 197).

Niat yang murni menjadi kompas yang menjaga hati, sementara kelembutan akhlak menjadi jembatan menuju kemabruran. Selembar kain ihram yang putih tanpa jahitan menjadi pengingat bahwa pada akhirnya, hanya hati yang bersih yang akan kita bawa pulang ke haribaan-Nya.

Baca Juga  Wakil Dubes Rusia Terpukau Kerawang dan Kopi Gayo di IES Forum

Panggilan agung ini pun bersifat universal, merangkul setiap jiwa tanpa sekat pembeda. Islam menempatkan laki-laki dan perempuan pada posisi yang setara dalam pengabdian. Hal ini ditegaskan dalam hadits saat Aisyah r.a. bertanya tentang jihad bagi perempuan, lalu Rasulullah saw. menjawab, “Jihad kalian (para wanita) adalah haji yang mabrur.” (HR. Bukhari). Ini adalah bukti bahwa rintihan hati seorang perempuan di keheningan malam Masjidil Haram memiliki gaung yang sama dahsyatnya di langit.

Haji bukan sekadar ritual mekanis, melainkan panggilan iman. Kalimat labbayk allahumma labbayk adalah jawaban atas undangan istimewa. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengingatkan, “Hakikat haji adalah kerinduan jiwa untuk bertemu dengan Sang Pemilik Rumah, maka bersihkanlah hatimu sebelum badanmu sampai di sana.”

Puncak dari refleksi ini adalah menyelami kembali kisah keluarga Ibrahim a.s. sebagai mata air pelajaran bagi setiap peran yang kita emban.

Bagi sebagian dari kita yakni para perempuan, menjadi perempuan adalah tentang menjalani peran sebagai “anak” yang sedang berjuang menumbuhkan ketaatan seperti Ismail a.s. Perjuangan itu sering kali berupa kerelaan untuk mendengarkan visi orang tua dan menekan ego pribadi demi harmoni, sebuah tapak tilas atas bakti yang tulus meski harus mengorbankan keinginan diri demi ketetapan yang lebih besar dari Allah Swt.

Di sisi lain, bagi kita yang sedang menjalani peran sebagai “istri”, kisah Hajar yang ditinggalkan di lembah tak bertuan menjadi cermin yang sangat jernih. Menjadi istri sering kali menjadi perjalanan untuk tidak menggantungkan seluruh rasa aman kepada pasangan, melainkan perjuangan batin untuk mengubah andalan kepada manusia menjadi seutuhnya sandaran kepada Allah semata. Perjuangan itu adalah tentang menjaga kejernihan prasangka di tengah kesunyian, meyakini bahwa meski sandaran duniawi seolah menjauh, perlindungan Allah tetap nyata dan tak pernah meninggalkan kita.

Baca Juga  Menlu Tegaskan WNI di Iran Aman, Evakuasi Belum Diperlukan

Begitu pula saat peran sebagai “ibu” hadir, kita diajak menapaktilasi lari-lari kecil Hajar antara Safa dan Marwah. Menjadi ibu adalah perjuangan tanpa batas yang mempertemukan antara ikhtiar yang memeras peluh dan doa yang juga memeras air mata. Di sana kita belajar bahwa setiap langkah berat seorang ibu bukan sekadar kelelahan fisik, melainkan bentuk tawakal yang agung demi masa depan buah hati.

Tugas utama kita dalam setiap peran ini—baik sebagai anak, istri, maupun ibu—bukanlah memaksa keadaan agar sesuai kemauan kita, melainkan memaksa hati tetap dalam kejernihan prasangka kepada Allah. Sebab, hanya dengan pemaksaan itulah hati lebih mudah ikhlas dan tiba di titik rida atas segala ketetapan-Nya. Sebagaimana dalam hadis qudsi, Allah berfirman, “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.” (HR Bukhari).

Pelajaran tentang Hajar ini tak melulu harus kita temui saat sedang berhaji. Jika belum mampu hadir secara jasadiah di hadapan Baitullah yang mulia, maka di tanah air, tebaran hikmah ini bisa kita akses kapan saja melalui Al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad Rasulullah saw. Baca kitab itu, tekuri, dan tadabburi ayat-ayat dalam mushafmu. Maka lihatlah, bagaimana Tuhanmu menurunkan berkah-Nya hanya dengan engkau menggeser sudut pandangmu terhadap ketetapan-Nya. Kita memang tak bisa mengubah takdir, tapi kita bisa mengubah cara kita menerima.

Sebagaimana janji-Nya dalam Surah At-Talaq ayat 2-3, Allah akan mengadakan jalan keluar dan rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka bagi hamba yang bertakwa. Di ujung kepasrahan yang dalam, Allah selalu menyiapkan “Zamzam” bagi jiwa-jiwa kita yang sedang dahaga akan ketenangan hakiki dalam memerankan semua peran penghambaan yang Allah amanahkan selama hidup didunia.[]

*Penulis adalah seorang istri, ibu dari empat anak, guru mengaji, dan ASN di Aceh Tengah