Byklik.com | Depok – Rektor Universitas Indonesia (UI) Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah tampil dalam forum Times Higher Education (THE) Asia Summit 2026 di Hong Kong, Jumat, 24 April 2026. Pentingnya transformasi kepemimpinan kampus agar tetap relevan di tengah disrupsi global jadi sorotan.
Dalam forum yang berlangsung pada 22–24 April 2026 itu, Prof. Heri menjadi panelis pada sesi eksklusif “Private Leadership Meeting for Presidents | The Steward‘s Compass: Cultivating Legacy in An Age of Disruption”, yang mempertemukan para pimpinan perguruan tinggi dari berbagai negara.
“Universitas harus dikelola dengan perspektif yang lebih luas, bukan hanya sebagai institusi akademik, melainkan juga sebagai organisasi yang memiliki ketahanan finansial dan kemampuan berkolaborasi lintas sektor,” ujar Prof. Heri.
Ia menegaskan, perguruan tinggi kini dituntut menjadi entitas adaptif yang mampu merespons percepatan perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi, sekaligus memperkuat peran strategisnya dalam pembangunan.
Dalam pemaparannya, Prof. Heri juga menyoroti sejarah panjang UI sebagai pusat pemikiran bangsa yang melahirkan banyak tokoh nasional. Bahkan, kontribusi UI turut melahirkan institusi besar seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Pertanian Bogor (IPB).
“Sejarah ini menjadi fondasi kuat bagi UI untuk terus berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia,” jelasnya.
Menurutnya, perubahan lanskap pendidikan tinggi menuntut sivitas akademika tidak hanya menjadi intelektual, tetapi juga pemimpin di berbagai sektor. Karena itu, kolaborasi dengan industri, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lain menjadi kunci.
Meski demikian, ia menegaskan kebebasan akademik tetap menjadi prinsip utama yang tidak bisa ditawar.
“Di tengah berbagai kepentingan, kebebasan akademik harus tetap menjadi fondasi utama,” tegasnya.
Di sisi lain, UI juga mendorong kemandirian finansial dengan memperkuat dana abadi (endowment fund). Saat ini, nilai dana tersebut ditargetkan meningkat dari Rp200 miliar menjadi Rp900 miliar dalam dua tahun, bahkan menuju Rp1 triliun.
“Operasional universitas tidak boleh hanya bergantung pada biaya pendidikan mahasiswa, yang saat ini baru mencakup sekitar 40 persen dari total anggaran,” kata Prof. Heri.
Selain itu, UI tengah mengembangkan kawasan kampus, termasuk pembangunan akses exit tol langsung yang ditargetkan rampung dalam lima bulan. Area tersebut akan dikembangkan menjadi distrik bisnis sebagai sumber pendapatan berkelanjutan.
Menutup paparannya, Prof. Heri menekankan pentingnya kepemimpinan berbasis nilai dalam menghadapi perubahan.
“Pertanyaan terpenting bukan hanya bagaimana kita beradaptasi dengan perubahan, tetapi apa yang harus kita jaga dengan segala cara. Nilai-nilai institusional adalah kompas yang memastikan universitas tetap berada di jalur yang benar,” pungkasnya.
Partisipasi UI dalam forum ini menegaskan komitmen untuk memperkuat posisi sebagai perguruan tinggi yang adaptif, visioner, dan berdaya saing global.











