Opini & Analisis

Refleksi Dua Bulan Mengemban Amanah sebagai Relima Abdya

×

Refleksi Dua Bulan Mengemban Amanah sebagai Relima Abdya

Sebarkan artikel ini
Nita Juniarti saat melakukan aktivitas literasi di Aceh Barat Daya.

Oleh Nita Juniarti*

“Buku tidak memberikan manfaat apa pun sampai dibaca dan menginspirasi pembacanya. Di sinilah Relima hadir sebagai aktivator dan katalisator gerakan literasi,” ungkap Kepala Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas), E. Aminudin Aziz, dalam Peluncuran Relawan Literasi Masyarakat (Relima) 2026: Kolaborasi untuk Gerakan Literasi Berdampak, yang diselenggarakan secara hibrida medio Mei 2026.

Pada tahun 2026, terdapat sebanyak 360 relawan. Rincian, 154 relawan yang sudah terlibat pada program Relima tahun sebelumnya, dan 206 relawan baru yang dinyatakan lulus. Ke-360 Relima ini tersebar di 322 wilayah kerja penugasan Relima, yakni di 251 kabupaten dan 71 kota.

Dari 251 kabupaten itu, salah satunya adalah kabupaten Aceh Barat Daya dan saya ditugaskan di Lokus tersebut. Saya bertugas tepat sejak 1 Juni 2026. Hal pertama yang saya lakukan adalah menemui Kabid Dinas Perpustakaan Kabupaten Aceh Barat Daya, Iswandi. Relima memang menjadi mitra dinas perpustakaan, selain tugasnya melaporkan pemanfaatan bantuan dari Perpusnas yang ada di Dinpunsip yang telah dimanfaatkan.

Pak Is, sapaan akrab Iswandi, menyambut baik kedatangan saya dan membekali saya dengan data penerima bahan bacaan bermutu di Kabupaten Aceh Barat Daya melalui staf beliau, Salmi. Setidaknya, selama dua tahun terakhir, Aceh Barat Daya sudah menerima 27.000 buku melalui 27 perpustakaan desa yang tersebar di delapan kecamatan dan seribu buku di Sigupai Mambaco, sebagai TBM tidak tercatat di Dinas Perpustakaan karena diterima melalui jalur Forum TBM.

Juli 2026, Pak Is akhirnya pensiun dan digantikan kabid baru, Yenni. Apa yang menjadi refleksi saya sebagai Relima dua bulan ini? Dengan amanat sebagai aktivator dan katalisator literasi, saya dengan sadar telah mendatangi hingga saat ini 20 perpustakaan desa penerima bahan bacaan bermutu, plus satu perpustakaan saya datangi tapi baik keucik atau petugas perpustakaan tidak saya temui.

Dari 21 perpustakaan tersebut, saya menemukan ada tiga perpustakaan desa yang sama sekali belum membongkar buku bantuan dari Perpusnas. Dari 21 perpustakaan yang saya datangi, hanya enam perpustakaan yang sudah menggunakan buku untuk kegiatan literasi dengan satu hingga tiga aktivitas literasi paling banyak dalam setahun. Bagaimana dengan TBM? TBM mempunyai agenda minimal 12 kegiatan dalam sebulan dan hingga juli 2026 ini, tersisa 20 buku yang belum dimanfaatkan dari seribu buku yang diberikan oleh Perpusnas tahun 2024.

Baca Juga  Pegiat Pustaka Kampung Impian Aceh Berbagi Praktik Literasi di Banten

Bagaimana ketimpangan itu terjadi? Bisa banyak faktor, salah satu faktornya adalah bingung dalam menggunakan buku untuk aktivitas apa saja. Meskipun sebelum menerima buku Perpusnas sudah melaksanakan bimtek secara online, ternyata di lapangan banyak yang belum menerapkan hasil bimtek tersebut dengan berbagai alasan. Selain itu, beberapa perpustakaan mengalami pergantian petugas perpustakaan secara “brutal”, kadang dalam setahun bisa 3-4 kali pergantian dengan berbagai alasan. Belum lagi, dana desa yang bisa disisihkan hanya untuk satu orang petugas perpustakaan, semuanya diupayakan sendiri.

Kabar baiknya, beberapa perpustakaan desa menyambut baik keberadaan Relima ini. Saling belajar, bahkan saling patungan untuk berkegiatan. Pada bulan Juni lalu, Relima diberi ruang berkegiatan, baik sebagai fasilitator maupunj inisiator di perpustakaan desa.

Perpustakaan Desa Meundang Ara di Kecamatan Blangpidie misalnya, membuat kegiatan mengulas buku dengan peserta anak sekitarnya. Senangnya ketika Perpustakaan Meudang Ara bisa terhubung dengan drg. Jihan Ainul, salah satu peminjam paling rajin di Sigupai Mambaco. Saya senang sekali saat mendapatkan kabar bahwa ada perpustakaan lain di Aceh Barat Daya seperti Sigupai Mambaco.

Perpustakaan Desa Padang Hilir juga tidak mau kalah, bekerja sama dengan PAUD Padang Hilir membuat kegiatan membaca nyaring yang dihadiri oleh Ketua Pokja 2 PKK Aceh Barat Daya, Alfi, sekaligus orang tua yang menjadi praktisi baca nyaring setelah mendapatkan pelatihan tahun lalu dari Sigupai Mambaco. Pustaka Desa Kepala Bandar menggaet drg. Jihan yang difasilitasi oleh Relima untuk kegiatan membaca nyaring dan praktik merawat gigi dan mulut.

Perpustakaan Desa Seunaloh langsung literasi-aksi, membacakan buku Yuk Mengenal Lompong Sagu, buku dwibahasa dari Balai Bahasa Provinsi Aceh, kemudian mengajak peserta membuat lompong sagu. Perpustakaan Desa Keude Siblah karena tidak sempat berkegiatan secara khusus, cukup mengikuti agenda mengulas buku yang diisi oleh Relima di SDN 1 Blangpidie kemudian membawa buku dari perpustakaan untuk dibaca sebelum diulas.

Untuk Sigupai Mambaco sendiri, menyentuh enam aktivitas sekaligus, mengulas buku untuk SD, menulis cerita, sekolah literat untuk ibu, literasi aksi yang mengajak anak-anak berliterasi sambil memasak ayam dan bekerja sama dengan pihak lain untuk menyebarluaskan semangat literasi.

Perkembangan pada bulan juli lebih menarik lagi, Dinas Pendidikan Abdya melalui Kabid Dikdas, Bob Fakhrurazi, memfasilitasi pertemuan Relima dengan beberapa kepala sekolah dari Kecamatan Blangpidie, Kecamatan Susoh, Kecamatan Setia, dan Kecamatan Jeumpa untuk membahas agenda apa yang akan diisi oleh Relima di sekolah masing-masing. Dinas Pendidikan berharap, pada aktivitas Relima nantinya akan ada produk buku atau video terkait literasi yang sudah dilaksanakan.

Baca Juga  Iduladha dan Hakikat Penyembelihan

Pada bulan Juli, Perpustakaan Seunelop dan Paya yang awalnya ingin dikunjungi dulu ternyata malah boleh berkegiatan. Seunelop membuat kegiatan membaca nyaring yang diisi oleh Bu Alfi, sembari menyebarkan Program Galeri Pelangi dan Rumah Dilan PKK yang sangat berkaitan dengan perpustakaan. Desa Paya membacakan nyaring sebagai ice breaking dan mengulas buku sebagai agenda utama. Perpustakaan Desa Keude Siblah lagi-lagi bisa menggaet pihak lain untuk aktivitas resensi buku bersama DPMP4 dan Forum Anak Kabupaten Aceh Barat Daya dalam rangkaian memperingati Hari Anak. Pustaka Desa Jeumpa juga mengambil agenda membaca nyaring untuk anak PAUD yang baru beberapa waktu masuk sekolah. Perpustakaan Desa Alue Rambot dalam proses mengembangkan MoU bersama SMP 1 Jeumpa setelah membawa buku ketika Relima mengisi kegiatan menulis cerita untuk SMP.

Kolaborasi yang apik pada Read Aloud Fest melibatkan Perpustakaan Desa Kepala Bandar sebagai penyedia sudut baca dalam rangkaian menghidupkan buku di dunia nyata. Selain itu, yang paling menyenangkan adalah Perpustakaan Desa Tangah, akhirnya mempunyai ruang sendiri, diluncurkan dengan kegiatan mewarnai dan dihadiri oleh Dinas Perpustakaan Daerah ketika penyerahan hadiah, meskipun terlambat karena mobil keliling mogok yang rencana akan dibawa ternyata mogok, dan akhirnya tidak bisa datang ke Desa Tangah. Aktif kembali kegiatan komunitas buku dalam aktivitas bersama, baik menjadi mentor atau dalam agenda kolaborasi.

Dua bulan menjadi Relima, salah satu yang menjadi catatan saya adalah ketika surat tugas bukan sebagai komunitas ternyata tanggapan orang-orang menjadi sedikit lebih baik daripada sebelumya. Menjadi Relima, memutuskan bekerja dengan sebaik-baiknya untuk literasi di Kabupaten Aceh barat daya dengan “berisik”, bukan sekadar bergerak walau tidak terlihat seperti yang biasanya saya lakukan. Mari terus bergerak, menyelesaikan amanah dengan sebaik-baiknya hingga tiga bulan mendatang.[]

Penulis adalah Relima Kabupaten Aceh Barat Daya dan Koordinator Relima Aceh