HeadlineOpini & Analisis

Aron: Elegi Desa Penghasil Energi

Avatar
×

Aron: Elegi Desa Penghasil Energi

Sebarkan artikel ini
Prof. Dr. Abd. Jamal, S.E., M.Si.

Oleh Prof. Dr. Abd. Jamal, S.E., M.Si*

Nama kota kecil Aron, atau mungkin lebih tepat disebut desa, hanya sebuah titik yang sangat kecil di hamparan wilayah Aceh Utara pada peta nasional. Semua yang pernah tinggal atau menetap di sana, pernah merasakan kenyamanan dan kedamaian masa kecil. Mungkin juga bagi pelaku sejarah industri energi, Aron menyimpan sejuta cerita cinta yang megah sekaligus memilukan.

Aron pernah menjadi salah satu pusat pendorong denyut ekonomi nasional. Dari perut buminya yang menyimpan cadangan gas alam raksasa sekitar 17 triliun kaki kubik, Aron menjadi penopang kekayaan devisa negara. Bahkan, nama besarnya, Aron, pernah diabadikan dan disematkan menjadi nama perusahaan raksasa pengekspor gas alam cair dunia, PT Arun NGL. Hari ini, ketika kita melangkah dan menelusuri sudut-sudut wilayahnya, kejayaan dan kemegahan itu hanya tinggal kenangan. Kini hanya tersisa sebuah kota kecil yang mati di atas lahan yang dulu begitu perkasa.

Sebelum arus modernisasi industri menyusup masuk pada dekade 1970-an, Aron adalah simbol ketenangan perdesaan. Di tempat itulah penulis lahir dan menghabiskan masa-masa kecil. Sebuah masa ketika waktu berjalan begitu lambatnya dan masyarakat hidup berdampingan secara harmonis. Suasana desa kala itu begitu nyaman, aman, dan damai. Anak-anak bermain bebas dan gembira di bawah rindangnya pepohonan. Suara angin yang gemerisik, sejuk dan sepoi-sepoi mengisi keheningan senja. Hubungan sosial antarwarga terjalin begitu kuat dalam ikatan kekeluargaan.

Aron bukan hanya tempat tinggal atau tempat jiwa berlabuh. Tempat ini adalah rahim yang membesarkan kami dengan nilai kesederhanaan dan ketulusan, serta menanamkan naluri kasih kepada sesama. Sebagai ibu kota kecamatan pada masa itu, Aron memegang peranan sentral sebagai pusat administrasi, pasar lokal, dan pusat interaksi masyarakat. Semua urusan pemerintahan, sosial, dan ekonomi terkonsentrasi di sana.

Sejarah berubah drastis ketika era keemasan migas dimulai pada akhir tahun 1970-an yang berakhir di era 2000-an. Penemuan cadangan ladang gas alam yang besar di sana mengubah bentangan alam, kehidupan sosial, dan politis. Desa kecil yang awalnya tenang tiba-tiba tersorot di level nasional dan internasional. Seiring masuknya proyek raksasa tersebut, pemerintah mengambil kebijakan dengan memindahkan ibu kota kecamatan ke Simpang Mulieng. Kota yang dibelah oleh jalan negara lintas Sumatera, Banda Aceh ke Medan.

Nama Aron bersinar dan berkibar melintasi selat dan samudera melalui nama PT Arun NGL. Ironisnya, tanah tempat nama itu berasal justru berangsur kehilangan denyut nadinya, terpinggirkan dari balik pagar industri yang megah. Sejak saat itu, denyut kehidupan di Aron mulai bergeser dan melemah perlahan. Kalaupun ekonominya masih berdenyut, denyutan itu bukan lagi bersumber dari aktivitas ekonomi rakyat lokal, melainkan disetrum oleh gegap gempita kegiatan industri gas skala besar.

Baca Juga  Etika Media di Tengah Kebisingan Opini

Era industrialisasi itu dimulai oleh perusahaan kontraktor internasional Bechtel, yang kemudian pengelolaannya beralih ke raksasa energi Mobil Oil, dan pada fase-fase berikutnya dikelola oleh ExxonMobil, yang menyangga operasional PT Arun NGL. Kehadiran perusahaan-perusahaan multinasional tersebut mengubah wajah kawasan menjadi zona industri yang dipenuhi lalu-lalang kendaraan berat, pipa-pipa raksasa, dan para pekerja migran dari berbagai belahan dunia.

Dari hiruk-pikuk industri raksasa tersebut, ada jejak-jejak pembangunan yang ditinggalkan. Salah satunya eksternalitas positif yang paling dirasakan oleh masyarakat setempat adalah perbaikan infrastruktur akses jalan raya. Jalan menuju pedalaman dan kawasan sekitar yang dulunya berupa jalur tanah atau kerikil diubah menjadi beraspal hotmix. Hal itu mempermudah mobilitas warga lokal untuk mengangkut hasil bumi serta hubungan antarwilayah.

Ironi di Balik Kemegahan Energi

Eks kawasan migas Arun. Foto: dok Abdul Jamal

Sejarah sering memiliki cara yang sadis untuk menunjukkan paradoks. Kilau emas hitam dan gas di bumi Aron tidak serta-merta menjamin kesejahteraan abadi masyarakatnya. Di balik gemerlap kawasan industri, program community development yang dijalankan terasa minim, dan jauh dari tujuan pemberdayaan jangka panjang. Kontribusi sosial perusahaan hanya sebatas bantuan simbolis yang hilang dalam sekejap, tanpa pernah menyisakan rencana yang jelas untuk peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan penguatan ekonomi lokal.

Ketika cadangan gas mulai menyusut, kejayaan PT Arun NGL pun meredup. Masa keemasan Mobil Oil hingga ExxonMobil berangsur-angsur ditarik mundur dari wilayah operasional utama. Apa yang benar-benar tersisa? Jawaban yang sangat memilukan adalah tidak ada bekas yang berarti bagi masyarakat setempat. Tiada warisan keterampilan, tiada fondasi ekonomi mandiri, dan tiada jaring pengaman sosial yang kuat. Perusahaan pergi membawa seluruh hasil kekayaan alam, sementara masyarakat desa hanya ditinggalkan sisa-sisa kepedihan dan penderitaan.

Saat ini, kota kecil Aron nyaris tak berdenyut sama sekali. Realitas sosial-ekonomi menampilkan pemandangan yang menyayat hati. Kota kecil Aron sakit parah. Ekonomi warganya kesulitan bertahan di tengah sisa-sisa fondasi industri modern. Bangunan tua dan toko-toko banyak yang tutup. Generasi mudanya banyak yang merantau demi mencari penghidupan yang layak, karena tidak ada lagi lapangan pekerjaan di tanah kelahiran mereka sendiri.

Yang membuat kondisi ini semakin menyesakkan adalah catatan sejarah politik wilayah ini. Ironisnya, kekuasaan dan representasi politik tidak pernah absen dari tanah ini. Wakil rakyat dari daerah pemilihan itu pernah ada dan duduk di kursi kekuasaan legislatif. Bahkan, posisi puncak kepemimpinan eksekutif daerah, seorang bupati, yang berasal dari kecamatan tersebut juga pernah ada. Mereka memiliki mandat, kekuasaan, dan pengaruh yang besar.

Baca Juga  Wali Nanggroe Terima Kunjungan Hamid Awaluddin, Bahas Rencana Penambahan Batalion di Aceh

Namun, mengapa kekuasaan politik yang pernah dipegang oleh putra-putra terbaik tersebut seakan tidak berdaya dalam menyelamatkan Aron dari kepunahan ekonomi? Pertanyaan ini menjadi kritik sekaligus renungan tentang hubungan antara kekayaan sumber daya alam, kekuasaan politik, dan nasib rakyat. Sering kali, kekayaan alam yang melimpah hanya menjadi kutukan. Keuntungan ekonomi dikeruk oleh pusat-pusat kekuasaan, sementara masyarakat mendapatkan sisa-sisa debu industri dan kerusakan lingkungan.

Ketika sumur-sumur gas itu berhenti beroperasi, nama besar Aron hanya tinggal kenangan. Para pemegang kekuasaan dan perusahaan menarik investasinya tanpa meninggalkan jejak kesejahteraan, rakyat ditinggalkan sendirian menghadapi puing-puing kejayaan masa lalu.

Menyalakan Asa, Menuju Agropolitan

Kendati malam panjang menyelimuti dinginnya Aron, fajar asa tidak boleh padam. Kini saatnya kita menoleh dari ketergantungan semu pada perut bumi, ke potensi permukaan bumi yang hidup. Masa depan Aron tidak boleh lagi bergantung pada cerobong pabrik yang eksklusif, namun harus dibangun di atas fondasi kemandirian ekonomi rakyat. Konsep agropolitan menjadi alternatif. Menggerakkan ekonomi Aron menuntut pergeseran paradigma sepenuhnya, dari eksploitasi ekstraktif ke produksi rakyat berkelanjutan. Memanfaatkan infrastruktur jalan peninggalan industri masa lalu untuk mengembangkan wilayah dan menjadi modal dasar logistik guna menghubungkan sentra-sentra produksi agraris dengan pasar regional.

Transformasi menjadi kawasan agropolitan atau sentra agroindustri adalah jalan pembebasan yang masuk akal. Proses ini dimulai dari komoditas pertanian unggulan, hingga pengolahan produk lokal bernilai tambah tinggi. Ekonomi desa harus bertumpu pada kekuatan local. Menggerakkan kelompok tani, membangun hilirisasi produk, hingga pemasaran modern yang memanfaatkan teknologi digital.

Jika dulu tenaga dan pikiran tersedot untuk melayani megahnya industri asing dengan pemberdayaan yang minim, kini energi perlu dicurahkan untuk mengolah tanah sendiri. Dengan begitu, Aron bisa terlepas dari kutukan kota mati. Denyut nadi ekonomi organik dapat tumbuh. Senyum kesejahteraan dapat muncul kembali. Aron kini menjelma menjadi sebuah elegi, sebuah nyanyian pilu tentang desa yang namanya pernah harum mendunia, lewat denyut energi, namun kini redup di tanah airnya sendiri.

Di balik reruntuhan bangunan masa lalu dan sunyinya jalan-jalan desa, Aron tetaplah menjadi sebuah lambang kejujuran. Kemajuan sejati bukanlah tentang seberapa besar gas yang disedot dari perut bumi Aron, melainkan tentang seberapa adil kesejahteraan itu dirawat melalui kerja keras rakyat di tanahnya sendiri. Kemakmuran dari industri datang dalam sekejap dan pergi tanpa jejak.[]

Penulis adalah Profesor Ekonomi Regional Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala