Humaniora

Puluhan Foto Bencana Ini Simpan Kisah Mengharukan Para Korban

Raudhatul
×

Puluhan Foto Bencana Ini Simpan Kisah Mengharukan Para Korban

Sebarkan artikel ini
Salah satu pengunjung melihat foto yang dipamerkan di Prahara Pulau Emas di Museum Tsunami Aceh, Selasa, 4 Agustus 2026. [Foto: Raudhah/Byklik.com]

Byklik.com | Banda Aceh – Pameran foto jurnalistik Prahara Pulau Emas yang digelar di Museum Tsunami Aceh menyedot perhatian pengunjung. Deretan karya visual yang merekam banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara menghadirkan sisi kemanusiaan bencana yang tak seluruhnya terekam dalam pemberitaan sehari-hari.

Salah seorang pengunjung, Aini, mengaku terkesan dengan setiap foto yang dipamerkan karena mampu membangkitkan kembali ingatan tentang bencana besar yang melanda Aceh pada akhir 2025.

“Saya suka sekali melihat foto-foto yang dipamerkan di sini. Jadi kita bisa mengingat kembali potret bencana di Aceh tahun lalu dalam bentuk foto,” ujar Aini saat mengunjungi pameran, Selasa, 4 Agustus 2026.

Baca Juga  Setelah Kepala Babi, Kini Tempo Dikirimi Bangkai Tikus

Pengunjung lainnya, Satria, juga mengaku menemukan banyak dokumentasi yang belum pernah dilihatnya, meski selama ini mengikuti perkembangan bencana melalui media sosial.

“Berasa lebih eksklusif ya karena ada foto yang baru pertama kali saya lihat di sini,” katanya.

Menurut Satria, menyaksikan foto jurnalistik secara langsung memberikan pengalaman yang jauh lebih mendalam dibandingkan melihat informasi di media sosial. Setiap karya mampu menghadirkan suasana di lokasi bencana secara nyata sekaligus menggugah empati terhadap para penyintas.

Baca Juga  Wamen Isyana: Museum Tsunami Aceh Bukan Sekadar Monumen, Tapi Ruang Belajar Bangsa

Pameran Prahara Pulau Emas diselenggarakan oleh Pewarta Foto Indonesia (PFI) Aceh di Museum Tsunami Aceh pada 3–8 Agustus 2026. Puluhan foto yang dipamerkan merupakan hasil dokumentasi para pewarta foto saat meliput banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara pada akhir 2025.

Selain pameran foto, rangkaian kegiatan juga diisi dengan diskusi publik serta peluncuran buku Prahara Pulau Emas yang memuat dokumentasi visual bencana. Buku tersebut diharapkan menjadi arsip sejarah sekaligus media edukasi kebencanaan agar masyarakat semakin memahami pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.