Berita Utama

Harkitnas ke-118, Kemenhut dan Norwegia Gelar “Gema Langkah Alam”

Bambang Iskandar Martin
×

Harkitnas ke-118, Kemenhut dan Norwegia Gelar “Gema Langkah Alam”

Sebarkan artikel ini
Kementerian Kehutanan bekerja sama dengan Pemerintah Norwegia dan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) menggelar kegiatan bertajuk “Gema Langkah Alam” dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118, Selasa, 20 Mei 2026. (Foto: Biro Humas Kemenhut)

Byklik.com | Jakarta – Kementerian Kehutanan bekerja sama dengan Pemerintah Norwegia dan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) menggelar kegiatan bertajuk “Gema Langkah Alam” dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118, Selasa, 20 Mei 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Dr. Soedjarwo, Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, itu menjadi momentum untuk mengenang perjalanan sejarah bangsa sekaligus membangkitkan peran generasi muda dalam menjaga kelestarian hutan dan lingkungan hidup Indonesia.

Mewakili Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kehutanan, drh. Indra Exploitasia, mengatakan Hari Kebangkitan Nasional perlu dimaknai sebagai momentum kebangkitan generasi muda dalam menghadapi tantangan lingkungan hidup dan perubahan iklim.

“Hari ini tantangan generasi muda bukan lagi merebut kemerdekaan, tetapi menjaga masa depan bumi dan lingkungan hidup. Pengendalian perubahan iklim, pengendalian kebakaran hutan, hingga perlindungan keanekaragaman hayati membutuhkan keterlibatan aktif generasi muda sebagai agen perubahan,” kata Indra saat membacakan sambutan Menteri Kehutanan.

Ia menambahkan, di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto, sektor kehutanan ditempatkan sebagai salah satu pilar utama aksi iklim nasional melalui implementasi Indonesia’s FOLU Net Sink 2030. Program tersebut berfokus pada pengelolaan hutan lestari, rehabilitasi ekosistem, konservasi, serta pemberdayaan masyarakat dan generasi muda.

Baca Juga  Pemerintah Gandeng Ford Foundation Percepat Pengakuan Hutan Adat

Menurut Indra, implementasi FOLU Net Sink 2030 telah berjalan di 36 provinsi selama tiga tahun terakhir melalui berbagai kegiatan, seperti rehabilitasi hutan dan mangrove, pemulihan gambut, perlindungan kawasan hutan, hingga penguatan ekonomi masyarakat berbasis lingkungan.

Dalam kesempatan itu, Kementerian Kehutanan juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Norwegia atas dukungannya terhadap implementasi Indonesia’s FOLU Net Sink 2030. Dukungan tersebut dinilai sebagai bentuk kepercayaan internasional terhadap komitmen Indonesia dalam menjaga hutan tropis dan menurunkan emisi karbon.

“Selama pelaksanaan program FOLU Norway Contribution di berbagai daerah, telah lahir banyak aksi nyata, mulai dari perlindungan hutan, rehabilitasi gambut, peningkatan kapasitas masyarakat, hingga penciptaan green jobs. Kemudian, Program Small Grant juga berhasil mendorong berbagai gerakan masyarakat, seperti penanaman pohon dan mangrove,” ujar Indra.

Baca Juga  Bupati Fakhry Ajak Perkuat Persatuan dan Kebersamaan pada Harkitnas 2026

Sementara itu, Duta Besar Norwegia untuk Indonesia, Rut Krüger Giverin, menyampaikan apresiasi atas capaian Indonesia dalam menurunkan emisi karbon. Ia mengatakan Pemerintah Norwegia memberikan pembayaran berbasis hasil (results-based payment) atas keberhasilan Indonesia mereduksi emisi sebesar 43,2 juta ton CO2e selama periode 2016–2020.

Sebagai bentuk dukungan, Pemerintah Kerajaan Norwegia memberikan kontribusi senilai 216 juta dolar Amerika Serikat.

“Norwegia sangat bangga bermitra erat dengan Indonesia. Prestasi Indonesia menekan angka deforestasi telah diakui dan menjadi contoh nyata bagi dunia. Bersama-sama kami berkomitmen melanjutkan kemitraan ini demi mencapai target Indonesia’s FOLU Net Sink 2030,” kata Rut Krüger Giverin.

Dalam rangkaian acara tersebut, Kementerian Kehutanan dan BPDLH juga meluncurkan film pendek berjudul Merawat Esok. Film itu mengangkat kisah perjuangan pelaksana program FOLU dan penerima manfaat layanan dana masyarakat dalam menjaga hutan, gambut, dan mangrove Indonesia.

Peluncuran film tersebut diharapkan menjadi refleksi bahwa keberhasilan pengelolaan lingkungan lahir dari semangat gotong royong dan keterlibatan masyarakat hingga tingkat akar rumput.***