Byklik.com | Paris – Prancis mencatat hari terpanas sepanjang sejarah pada Selasa, 23 Juni 2026, ketika gelombang panas ekstrem melanda sebagian besar wilayah Eropa. Kondisi tersebut memaksa Menara Eiffel dan Museum Louvre membatasi jam kunjungan serta mengganggu aktivitas sekolah dan transportasi di sejumlah negara.
Suhu ekstrem juga meluas ke Inggris dan Spanyol. Otoritas cuaca di ketiga negara mengeluarkan peringatan merah karena risiko panas yang membahayakan puluhan juta penduduk.
Badan meteorologi Prancis, Meteo France, mencatat indikator termal nasional mencapai rata-rata 29,8 derajat Celsius. Angka tersebut dihitung berdasarkan pengukuran di 30 stasiun cuaca dan menjadi rekor tertinggi yang pernah tercatat di negara itu, melampaui rekor sebelumnya sebesar 29,4 derajat Celsius yang terjadi saat gelombang panas Agustus 2003 dan Juli 2019.
Meteo France memperkirakan suhu ekstrem masih akan bertahan setidaknya hingga akhir pekan.
“Rekor suhu baru diperkirakan masih akan terjadi, bahkan beberapa di antaranya berpotensi melampaui seluruh catatan sebelumnya, tanpa memandang musim,” demikian pernyataan badan meteorologi tersebut.
Selain rekor nasional, sejumlah stasiun cuaca di berbagai daerah juga mencatat suhu tertinggi baru. Di beberapa kota, suhu siang hari menembus lebih dari 40 derajat Celsius.
Gelombang panas tersebut turut berdampak pada aktivitas masyarakat. Seorang pekerja atap di Paris, Gin Dujardin, mengaku terpaksa menghentikan pekerjaannya karena seng berlapis seng galvanis yang biasa digunakannya menjadi sangat panas.
“Sangat sulit bekerja karena seng menjadi sangat panas dan sambungan las tidak dapat bertahan. Suhunya seperti di Dubai, hampir mustahil untuk bekerja,” ujarnya.
Pemerintah Prancis juga melaporkan sedikitnya 40 orang meninggal dunia akibat tenggelam dalam sepekan terakhir. Banyak warga berusaha mencari kesejukan dengan berenang di sungai dan perairan terbuka meski otoritas telah mengingatkan bahaya berenang tanpa pengawasan. Sebagian besar korban merupakan kalangan muda.
Menurut Meteo France, gelombang panas kini telah mencapai fase yang disebut sebagai “tingkat keparahan yang stabil”, dengan suhu tinggi yang berlangsung tanpa jeda, baik siang maupun malam. Pada Rabu, lebih dari separuh wilayah Prancis, termasuk bagian paling utara negara itu, diperkirakan kembali berada dalam status peringatan merah.
Dampak panas ekstrem juga dirasakan sektor pariwisata. Menara Eiffel di Paris menutup operasional lebih awal pada sore hari, berbeda dengan jadwal normal yang biasanya hingga malam. Sementara itu, Museum Louvre mengumumkan akan menutup layanan dua jam lebih cepat dari biasanya mulai Rabu hingga Sabtu.
Pihak Museum Louvre menyatakan bahwa meski sebagian bangunan bersejarahnya cukup tahan terhadap kondisi cuaca, fasilitas tersebut belum sepenuhnya mampu beradaptasi dengan perubahan iklim.
“Akumulasi panas paling tinggi terjadi menjelang akhir hari dan semakin meningkat akibat tingginya jumlah pengunjung,” kata pihak museum.
Para ilmuwan mengaitkan meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem dengan perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia. Badan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga memproyeksikan bahwa dalam lima tahun ke depan dunia berpotensi kembali mencatat rekor suhu tertinggi yang baru.











