Langkahnya memang tak lagi kuat menopang tubuh renta yang telah berusia 103 tahun. Namun semangat Mardijiyono untuk memenuhi panggilan Allah tak pernah surut sedikit pun.
Siang itu, Senin, 13 Mei 2026, udara Madinah terasa hangat. Di pelataran Hotel Makarem Haram View Suites, seorang lelaki tua duduk tenang di kursi roda. Wajahnya tampak teduh. Sorot matanya masih menyimpan keyakinan yang kuat meski usia telah melewati satu abad.
Dialah Mbah Mardi, jemaah haji asal Indonesia yang tergabung dalam Kloter YIA 9.
Perlahan, petugas mendorong kursi rodanya menuju bus yang akan membawanya dari Madinah ke Makkah. Di sanalah nanti ia akan menunaikan umrah wajib sekaligus bersiap menghadapi puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Sejak selepas Ashar sekitar pukul 15.30 Waktu Arab Saudi, Mbah Mardi sudah duduk di dalam bus bersama sejumlah jemaah lanjut usia lainnya. Ia memilih menunggu lebih awal sambil menikmati suasana keberangkatan.
Di luar bus, sebagian jemaah masih bergegas dari Masjid Nabawi usai menunaikan salat Ashar. Sementara di dalam bus, lelaki sepuh itu tampak diam, sesekali menatap keluar jendela dengan wajah yang sulit dibaca—antara haru, lelah, dan bahagia.
Tubuhnya kini memang bergantung pada kursi roda. Namun tekadnya jauh lebih kuat dibanding banyak orang yang masih muda dan sehat.
Petugas membantu setiap proses mobilitasnya dengan penuh kehati-hatian, mulai dari keluar hotel hingga naik ke bus keberangkatan menuju Bir Ali, tempat para jemaah mengambil miqat dan berniat ihram sebelum memasuki Makkah.
Ketua Sektor 1 Madinah, Ramlan Sudarto, mengatakan rombongan diberangkatkan lebih cepat karena seluruh jemaah telah siap.
“Kalau semua jemaah sudah masuk bus dan siap berangkat, lebih baik diberangkatkan lebih awal agar tidak terlalu lama menunggu,” ujar Ramlan.
Perjalanan menuju Makkah bukan perjalanan ringan bagi lelaki seusia Mbah Mardi. Beberapa waktu lalu, ia bahkan sempat menjalani perawatan di rumah sakit Arab Saudi karena kondisi kesehatannya menurun.
Namun semangat hidupnya tak ikut melemah.
Selama masa pemulihan, Mbah Mardi disebut tetap kooperatif dan memiliki selera makan yang baik. Ketika ditanya soal kondisinya, ia hanya menjawab singkat sambil tersenyum kecil.
“Makanannya enak, saya suka.”
Kalimat sederhana itu terdengar begitu hangat dari bibir lelaki yang telah melewati perjalanan hidup lebih dari satu abad.
Selama berada di Madinah, Mbah Mardi juga telah menjalani berbagai rangkaian ibadah. Ia sempat salat di Masjid Nabawi, berziarah ke Raudhah, hingga mengunjungi makam Rasulullah SAW.
Di balik wajah keriput dan tubuh yang melemah dimakan usia, tersimpan keteguhan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Mbah Mardi mengaku selalu berusaha hidup ikhlas dan bahagia dalam keadaan apa pun. Ia bahkan menyebut dirinya tidak pernah merokok sepanjang hidupnya.
Kini, perjalanan panjang menuju Makkah menjadi babak baru dalam kisah hidupnya.
Bagi banyak orang, usia 103 tahun mungkin menjadi waktu untuk beristirahat dan menikmati sisa usia di rumah bersama keluarga. Namun bagi Mbah Mardi, usia bukan alasan untuk berhenti memenuhi panggilan suci.
Di tengah keterbatasan fisik, ia tetap melangkah—meski harus dengan kursi roda.
Perjalanan Mbah Mardi bukan sekadar perjalanan menuju Tanah Suci. Ia adalah gambaran tentang keyakinan, ketulusan, dan harapan yang tetap hidup bahkan ketika tubuh tak lagi sekuat dulu.
Dan di antara ribuan jemaah yang bergerak menuju Makkah, sosok renta itu mengingatkan banyak orang bahwa panggilan haji bukan tentang usia ataupun kekuatan fisik, melainkan tentang hati yang terus ingin mendekat kepada Tuhan.











