Bau obat, suara langkah tergesa di lorong rumah sakit, hingga wajah-wajah cemas keluarga pasien telah menjadi bagian dari keseharian Denni Mulyani. Namun bagi perempuan yang akrab disapa Mulya itu, profesi perawat bukan sekadar pekerjaan yang dijalani demi rutinitas atau penghasilan. Ada sesuatu yang lebih dalam yang membuatnya bertahan di tengah lelah, tekanan, bahkan perubahan sistem kesehatan yang terus bergerak.
“Bagi saya, setiap hari adalah Hari Perawat sejak memutuskan memilih profesi ini,” ucapnya pelan saat mengenang perjalanan yang telah ia lalui.
Setiap 12 Mei, dunia memperingati Hari Perawat Internasional. Bagi Mulya, momen itu bukan hanya seremoni tahunan, melainkan ruang refleksi tentang jalan hidup yang telah ia pilih sejak awal. Ia merasa profesi ini telah mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.
“Hari Perawat Internasional menjadi pengingat bahwa sejak memilih jalan ini, saya seperti terlahir kembali menjadi pribadi yang memandang hidup dengan cara berbeda,” katanya.
Dunia keperawatan, menurut Mulya, mempertemukannya dengan begitu banyak sisi kehidupan yang mungkin tidak pernah dipahami orang lain. Ia belajar tentang arti sehat dari mereka yang berjuang melawan sakit. Ia memahami kehilangan dari keluarga yang harus merelakan orang tercinta. Ia melihat harapan dari pasien yang tetap bertahan meski tubuhnya melemah.
“Profesi ini mengajarkan saya memahami arti sehat, kehilangan, harapan, dan betapa setiap orang sedang berjuang dengan caranya masing-masing,” ujarnya.
Menjadi perawat, kata Mulya, berarti hadir di titik paling rapuh dalam hidup seseorang. Tidak jarang ia harus menemani pasien yang dipenuhi kecemasan, ketakutan, bahkan berada di ambang antara hidup dan kemungkinan terburuk.
Namun justru di ruang-ruang penuh kesedihan itu, ia menemukan makna yang membuatnya terus bertahan.
“Kadang yang paling dibutuhkan seseorang bukan hanya pengobatan, tetapi rasa tenang dan keyakinan bahwa mereka tidak sendirian,” tuturnya.
Di balik ketulusan itu, dunia keperawatan hari ini juga menghadirkan tantangan yang tidak ringan. Perubahan sistem layanan kesehatan yang terus berkembang membuat tenaga kesehatan harus beradaptasi dengan cepat. Mulya merasakan langsung bagaimana perubahan kebijakan, termasuk sistem desil dan berbagai aturan pelayanan baru, kerap menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat.
Dan pada akhirnya, perawatlah yang paling sering berhadapan langsung dengan pertanyaan, keluhan, bahkan keresahan pasien.
“Perawat bukan hanya harus memahami aturan yang berubah, tetapi juga menjadi orang yang paling sering berhadapan langsung dengan kebingungan dan kecemasan pasien terhadap sistem yang belum mereka pahami,” jelasnya.
Meski demikian, pelayanan tidak boleh berhenti. Perawat tetap dituntut bekerja cepat, tepat, dan tetap tenang di tengah tekanan yang datang silih berganti.
“Menjadi perawat hari ini bukan hanya soal kemampuan klinis, tetapi juga bagaimana tetap bertahan, beradaptasi, dan menjaga rasa peduli di tengah tekanan,” katanya.
Di antara banyak pengalaman yang ia lalui, satu peristiwa masih membekas kuat dalam ingatannya. Hanya dua hari setelah wisuda, Mulya langsung turun menjadi relawan bersama SATGAS USK dan LSM GEN-A saat bencana banjir melanda Aceh pada 2025 lalu.
Saat sebagian orang masih menikmati euforia kelulusan, ia justru berada di tengah genangan air, lumpur, dan wajah-wajah penuh trauma.
Dalam penugasan itu, Mulya dipercaya menjadi penanggung jawab tim tenaga kesehatan. Bersama rekan-rekannya, mereka menangani lebih dari 350 warga terdampak banjir di beberapa kabupaten.
“Banyak dari mereka datang dengan rasa sedih, kehilangan rumah, harta benda, dan trauma yang mendalam,” kenangnya.
Di tengah situasi darurat itu, ia menyadari bahwa tenaga kesehatan tidak hanya hadir untuk memberikan obat atau tindakan medis. Kehadiran mereka juga menjadi sumber ketenangan bagi masyarakat yang sedang kehilangan banyak hal.
“Dalam situasi bencana, tenaga kesehatan tidak hanya dibutuhkan untuk pengobatan, tetapi juga untuk hadir dan memberi rasa tenang di tengah keadaan yang sulit,” ujarnya.
Namun ada satu momen yang tak pernah benar-benar pergi dari ingatannya.
Di tengah banjir, Mulya membantu proses persalinan seorang ibu hamil. Di antara situasi penuh kepanikan dan keterbatasan, bayi itu akhirnya lahir dengan selamat.
Yang membuat momen tersebut begitu emosional bagi Mulya, sang bayi lahir tepat pada 29 November 2025 tanggal yang sama dengan hari kelahirannya.
“Bagi saya, itu terasa sangat personal. Di tengah banyaknya kehilangan, saya justru menyaksikan lahirnya sebuah harapan baru di tanggal yang punya makna tersendiri dalam hidup saya,” tuturnya.
Ia percaya, peristiwa itu menjadi pengingat bahwa bahkan di tengah situasi paling sulit sekalipun, kehidupan selalu menemukan jalan untuk tetap tumbuh.
Kini, di tengah dinamika dunia kesehatan yang terus berubah, Mulya berharap profesi perawat semakin mendapat perhatian yang layak, bukan hanya dari sisi kesejahteraan, tetapi juga ruang pengembangan diri dan keterlibatan dalam kebijakan kesehatan.
“Harapan saya sederhana, semoga perawat semakin dihargai,” katanya.
Menurutnya, perawat masa depan tidak cukup hanya dibekali kemampuan klinis. Mereka juga harus siap menghadapi bencana, memahami kesehatan mental, hingga tantangan kesehatan akibat perubahan lingkungan.
“Suara perawat juga perlu lebih didengar dalam kebijakan kesehatan, karena kami melihat langsung kebutuhan masyarakat di lapangan,” ujarnya.
Bagi Mulya, perhatian terhadap kesejahteraan perawat pada akhirnya bukan sekadar membahas profesi. Ada sisi kemanusiaan yang sering luput dilihat banyak orang.
Sebab di balik seragam putih yang tampak kuat dan tenang, ada manusia yang setiap hari berdiri di antara rasa sakit, harapan, kehilangan, dan kehidupan orang lain.
“Karena di balik seragam, perawat juga manusia yang setiap hari hadir di tengah rasa sakit dan harapan orang lain,” tutupnya.











