Byklik.com | Yogyakarta – Mahasiswa Program Doktor Ilmu Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Mukhlis Ibrahim, mengembangkan gulma invasif menjadi bahan baku biopestisida alami untuk mengendalikan hama nematoda puru akar (Meloidogyne incognita) yang kerap merusak tanaman pangan dan hortikultura.
Penelitian tersebut membuka potensi baru pemanfaatan gulma yang selama ini dianggap merugikan petani karena menghambat pertumbuhan tanaman dan menurunkan hasil panen.
Mukhlis menjelaskan sejumlah gulma invasif ternyata mengandung metabolit sekunder yang mampu mengganggu aktivitas hama, mulai dari menghambat pertumbuhan, mengganggu reproduksi, hingga bersifat toksik bagi organisme pengganggu tanaman.
“Gulma tersebut dimanfaatkan sebagai sumber bahan aktif alami yang berpotensi untuk pengendalian hama tanaman,” ujar Mukhlis, Kamis, 7 Mei 2026.
Dalam risetnya, ia menemukan beberapa senyawa aktif yang berpotensi dikembangkan menjadi biopestisida, di antaranya alkaloid, flavonoid, fenolik, tanin, saponin, dan dilapiol.
Senyawa tersebut kemudian diformulasikan menjadi biopestisida berbentuk cair untuk aplikasi semprot maupun serbuk guna mengendalikan serangan nematoda puru akar pada tanaman cabai, tomat, seledri, hingga kentang.
“Secara garis besar penelitian ini menunjukkan adanya potensi menarik dari tanaman invasif yang selama ini sering dipandang sebelah mata,” katanya.
Mukhlis mengaku proses penelitian tidak berjalan mudah. Selama berbulan-bulan ia harus mengulang percobaan di laboratorium, menyusun rancangan penelitian, hingga mengevaluasi hasil yang belum sesuai harapan.
“Ada kalanya saya pulang larut malam dengan perasaan hampa. Namun saya teringat perjuangan orang tua sehingga kembali semangat menyelesaikan penelitian ini,” ungkapnya.
Hasil penelitiannya kemudian dipresentasikan dalam The 3rd International Conference on Sustainable Industrial Agriculture (IC-SIA) Universitas Jember pada Juli 2025 dan mengantarkannya meraih Best Presenter Award serta penghargaan peneliti muda nasional.
Pada April 2026, Mukhlis kembali membawa hasil risetnya ke forum internasional 13th International Conference on Chemical and Biological Sciences (ICCBS 2026) di Osaka, Jepang.
Di forum tersebut, ia mempresentasikan hasil penelitian sekaligus membangun jejaring akademik dengan peneliti dari berbagai negara.
“Jika dahulu saya sempat meragukan kelayakan penelitian saya, kini saya justru membawa hasil tersebut dengan penuh keyakinan sebagai bagian dari kontribusi ilmiah di tingkat global,” ujarnya.
Mukhlis menilai pengalaman tersebut membuktikan penelitian sederhana dapat membuka peluang besar, termasuk menghadirkan inovasi baru di bidang pertanian berkelanjutan.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada tim promotor doktoralnya di UGM yang terus mendampingi proses penelitian hingga berhasil menembus forum ilmiah internasional.











