Byklik | Banda Aceh–Dua karya staf Humas Universitas Syiah Kuala (USK), Ibnu Syahri Ramadhan, berhasil memenangi Sayembara Menulis Cerita Anak Dwibahasa 2026 yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Aceh. Kedua cerita tersebut ditulis dalam bahasa Melayu Tamiang masing-masing berjudul Kemano Lalunye Keleng untuk jenjang A dan Ketokan di Tengah Ladang untuk jenjang C.
Secara resmi Balai Bahasa Provinsi Aceh mengumumkan nama-nama pemenang di akun media sosial dan laman resmi lembaga pada Jumat, 17 April 2026. Untuk sayembara tahun ini terdapat 29 pemenang dari berbagai penutur jati di Aceh.
Rektor USK, Prof. Mirza Tabrani, S.E., M.B.A., D.B.A., mengucapkan selamat serta mengapresiasi keberhasilan Ibnu dalam kompeteisi tersebut. Apalagi, tahun lalu dua karya Ibnu juga lolos kurasi dewan juri dalam sayembara tahunan yang sangat kompetitif itu.
Prestasi tersebut menurut Rektor patut dibanggakan karena di tengah kesibukannya sebagai staf humas, Ibnu mampu menunjukkan dedikasinya dalam menghidupkan budaya literasi di lingkungan kampus. Ibnu juga secara langsung telah berkontribusi dalam melestarikan bahasa Melayu Tamiang yang banyak dituturkan oleh masyarakat di ujung timur Aceh.
“Prestasi Ibnu ini patut kita apresiasi. Karena kita tahu, menulis cerita anak itu tidaklah mudah. Tentu kita berharap, capaian Ibnu ini bisa semakin menggerakan semangat literasi khususnya di lingkungan kampus ini,” ucap Rektor.
Baca juga: Perjalanan Ibnu Syahri Ramadhan Menghadirkan Makna Lewat Kata
Sementara itu, Ibnu turut menyampaikan rasa syukur karena tahun ini dirinya kembali berhasil meloloskan dua naskahnya. Lelaki kelahiran Aceh Tamiang ini mengungkapkan, ia pertama kali mengikuti lomba ini pada tahun 2023.
Kala itu naskahnya yang berjudul Rasidah: Si Manis dan Cantik Buatan Bedah berhasil lolos kompetisi ini untuk jenjang B3. Selanjutnya, pada tahun 2024 dua naskahnya yang mengangkat khazanah budaya Melayu Tamiang yang lolos berjudul Petualangan ke Negeri Pantun dan Berburu Jurong di Sungai Tamiang, berhasil lolos untuk jenjang C.
Bagi Ibnu, mengikuti kompetisi menulis cerita anak ini adalah salah satu caranya untuk mengenalkan lebih luas budaya Melayu Tamiang khususnya untuk anak-anak. Melalui kompetisi ini pula, dirinya merasa tertantang untuk terus meningkatkan kemampuan menulisnya.
“Alhamdulillah, senang rasanya saat naskah ini nantinya akan dibaca oleh anak-anak. Ini mungkin cara sederhana saya untuk terus membumikan literasi,” ucapnya.
Kompetisi menulis Cerita Anak Dwibahasa adalah agenda tahunan yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Aceh. Setiap peserta diminta membuat cerita anak dengan menggunakan dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang ada di Aceh. Pada tahun ini panitia penyelenggara menerima 92 naskah untuk jenjang A dan 49 naskah untuk jenjang C. Dari jumlah tersebut, panitia hanya menerima 29 naskah yang layak lolos seleksi.
Selanjutnya, naskah tersebut akan diterbitkan menjadi buku anak oleh Balai Bahasa Provinsi Aceh di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).[]











