Byklik.com | Banda Aceh – Penggunaan bahasa daerah di kalangan generasi muda dinilai mulai mengalami penurunan, khususnya bahasa Aceh yang kini semakin ditinggalkan baik dalam percakapan sehari-hari maupun di ruang digital. Kondisi ini menjadi perhatian Najla Nur Salsabila atau yang akrab disapa Jia, selaku Duta Bahasa Favorit Provinsi Aceh 2025.
Jia mengatakan, meski masih banyak anak muda yang memahami bahasa Aceh, penggunaannya kini mulai berkurang di sejumlah lingkungan karena rasa malu dan kebiasaan yang berubah.
“Sekarang banyak yang masih paham bahasa Aceh, tapi sudah mulai jarang digunakan. Apalagi di media sosial atau lingkungan formal,” ujarnya.
Namun demikian, ia melihat masih ada harapan dari generasi muda yang mulai mengangkat bahasa Aceh melalui konten kreatif, musik, hingga karya digital lainnya.
“Masih ada anak muda yang membawa bahasa Aceh lewat konten dan karya kreatif. Ini hal positif yang harus terus didukung,” katanya.
enurut Jia, ancaman terhadap keberlangsungan bahasa Aceh cukup serius jika tidak segera dilestarikan. Ia menegaskan bahwa bahasa hanya akan tetap hidup jika terus digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau semakin jarang digunakan, lama-lama bisa punah. Dan kalau bahasa hilang, bukan hanya kata-kata yang hilang, tapi juga nilai, cerita, dan identitas budaya,” tegas Jia di Banda Aceh, Jumat, 15 Mei 2026.
Ia menjelaskan, faktor utama menurunnya penggunaan bahasa Aceh berasal dari kebiasaan di lingkungan keluarga dan sosial, di mana generasi muda lebih sering menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa asing dalam aktivitas sehari-hari.
“Banyak yang dari kecil tidak dibiasakan menggunakan bahasa Aceh di rumah, jadi kurang percaya diri saat menggunakannya,” ujarnya.
Selain itu, media sosial dan dunia pendidikan juga dinilai mempercepat pergeseran bahasa. Mayoritas konten digital dan proses pembelajaran saat ini menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa asing, sehingga bahasa daerah semakin jarang terdengar.
“Di sekolah dan media sosial, bahasa yang dominan digunakan bukan bahasa daerah, jadi anak muda lebih terbiasa dengan bahasa yang dianggap umum,” tambah Jia.
Gadis cantik itu juga menyoroti dampak jangka panjang jika bahasa Aceh terus ditinggalkan. Jia menilai, hilangnya bahasa daerah berarti hilangnya sebagian identitas dan warisan budaya Aceh.
“Kalau generasi berikutnya sudah tidak memahami bahasa Aceh, maka identitas dan warisan budaya kita juga ikut memudar,” ujarnya.
Sebagai upaya pelestarian, Duta Bahasa terus melakukan edukasi melalui kampanye kebahasaan atau krida, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Kegiatan tersebut dilakukan dalam bentuk lomba, permainan, konten digital, podcast, hingga kolaborasi dengan komunitas seni dan budaya.
“Tujuannya agar bahasa daerah terasa lebih dekat dan relevan dengan generasi muda,” katanya lagi.
Cara paling efektif untuk menghidupkan kembali minat generasi muda, menurut Jia, adalah dengan menghadirkan bahasa daerah di ruang kreatif seperti TikTok, musik, film pendek, dan media sosial lainnya.
“Kalau bahasa daerah dibuat lebih dekat, lebih keren, dan relate dengan kehidupan anak muda, mereka akan lebih tertarik menggunakannya,” katanya.
Menutup pesannya, Jia mengajak generasi muda Aceh untuk tidak melupakan bahasa daerah sebagai bagian dari identitas dan kebanggaan daerah.
“Bahasa Aceh bukan sesuatu yang jadul. Ini bagian dari identitas kita. Kita boleh belajar banyak bahasa, tapi jangan sampai lupa bahasa yang membawa cerita dan warisan dari tanah kelahiran kita,” pungkasnya.[]











